Mahameru, Puncak Abadi Para Dewa

Begitu grup musik Dewa 19 menyanjungnya dan demikianlah kesan sakral yang kita dapatkan ketika menginjak puncak Mahameru yang dingin, berpasir, yang secara berkala meletupkan abu tebal menderu ke angkasa. Pengalaman ini sebenarnya sudah lama, tepatnya 17-20 Mei tahun 2007, tetapi dinginnya angin di puncak Semeru yang seolah-olah baru kemarin meniup wajahku (hehehe..lebay..) pantas untuk diceritakan lagi. Apalagi ada orang yang pernah berkomentar di Flickr kalau foto-foto saya dan sebuah buku berjudul 5cm membuatnya kepingin ke Semeru. Disini sekalian saya buat ceritanya.

Perjalanan di bawah bendera WOI Community ini dimulai dari Jakarta dengan kereta menuju Surabaya, lalu dengan travel menuju ke Malang berkumpul dengan teman-teman dari Malang dan sekitarnya. Meeting Point di Malang namanya Tumpang, tepatnya di depan Alfa Mart Tumpang. Dari situ seluruh anggota (belasan orang) diangkut satu Jeep sakti menuju Ranu Pane. Disitu kita beristirahat menyiapkan tenaga untuk besok pagi.

Matahari cerah keesokan paginya membuat kita semakin bersemangat. Ada rombongan pendaki Perancis baru kelihatan disitu pagi-pagi. Selesai sarapan, packing dan berdoa, perjalanan dimulai dengan melewati kebun-kebun masyarakat di situ yang pipinya kemerahan dengan pakaian yang mengingatkan saya pada petani pegunungan Meksiko. (Padahal belum pernah ke Meksiko 😀 ) Ada anjing berbulu tebal melintas kayak serigala putih.

Kemudian kami mulai menaiki bukit dan memasuki jalan setapak hutan, sesekali beristirahat mengambil nafas. Teman-teman yang lebih senior urusan mendaki gunung dan sudah pernah ke Semeru menyemangati: “Sebentar lagi nyampe Ranu Kumbolo kok.” Semangat lagi mendengar nama danau yang legendaris itu. Sebelum sampai Ranu Kumbolo, gerombolan pendaki Perancis yang tadi masih di Ranu Pane melewati kami dengan wajah songong (menurut interpretasi saya lho!), di belakangnya baru menyusul para porter yang memikul carrier mereka, bahkan ada yang memikul tabung gas biru LPG ! (Buset, dilihat aja rasanya sudah beraaatt banget..)

Menjelang tengah hari akhirnya danau Ranu Kumbolo mulai kelihatan dari balik bukit. Keren banget pemandangannya, menghibur kami-kami yang capek. Di pinggir danau kami beristirahat, foto-foto sambil makan siang di bawah langit biru dan awan putih bersih. Sesudah itu perjalanan di lanjutkan lagi melewati bukit-bukit dan padang rumput luas yang keren banget! Selesai melewati padang rumput coklat kami memasuki hutan lagi. Namanya Oro-Oro Ombo. Karena capek, migrain sempat menyerang juga. Sh*t!  Menjelang sore hujan lebat turun. Salah satu peralatan wajib dibawa kalau naik gunung adalah jas hujan. Berbalut jas hujan, kami menerobos hutan dan padang rumput lagi sebelum akhirnya ketika hari mulai gelap kami mencapai Kali Mati, tempat mendirikan tenda di pinggir pepohonan cemara yang banyak tumbuh disitu. Hujan sudah agak reda dan kami mulai mendirikan tenda.

Sesudah itu kami mulai memasak makan malam andalan yang terdiri dari nasi, mie, sarden dan kornet. Makanan terakhir ini yang paling bikin eneg namun anehnya selalu dibawa kalau naik gunung. 🙂 Gerombolan pendaki Perancis itu memang bikin sirik saja. Porter mereka memasak omlet, daging sapi, telur ceplok dengan api biru dari gas tabung biru yang berat itu, plus minuman anggur dan buah-buahan. Para porter yang baik hati itu menawari kami buah-buahan dan omlet yang langsung kami sambut dengan senang hati. Selesai makan, ngopi-ngopi sambil merokok lalu beristirahat untuk pendakian tengah malam nanti.

Sebenarnya kami terhitung terlalu tergesa-gesa. Baru nyampe sore di Kali Mati, malam sudah langsung menuju puncak. Puncak Semeru memang biasanya di daki malam hari. Kami memecah dalam beberapa kelompok. Kelompok sayalah yang paling semangat, jam 11 malam kami sudah menyiapkan senter dan tas berisi makanan buat di jalan. Dan mulailah pendakian menuju puncak Mahameru di tengah malam gelap gulita. Asyiknya perjalanan malam adalah bintang-bintang di atas sana. Sambil beristirahat tinggal menengadah melihat jalinan bintang-bintang membentuk Milky Way. Benar-benar cantik. Jauh dari polusi cahaya.

Pendakian semakin sulit ketika mulai mencapai bagian dimana sudah tidak ada pepohonan lagi, cuma pasir, debu, abu, kerikil dan bebatuan. Di tepi yang curam sesudah Cemara Tunggal itu langkah semakin berat. Angin malam dingin bersiul-siul di balik kupluk. Sering kami berhenti beristirahat dan terus menjaga jarak dengan teman. Ketika beristirahat kadang saya tertidur dan dalam waktu singkat langsung bermimpi sofa hangat dan susu coklat panas di depan tungku. Buset! Saya menampar-nampar pipi takut bermimpi lebih aneh lagi. Diatas sana ada bayangan gelap aneh seperti pohon beringin besar menyeramkan. Perlahan-lahan kami terus merambat naik. Dan sekali lagi kami disusul oleh para pendaki Perancis berwajah songong bersenjatakan tongkat yang dengan santainya melangkah stabil melewati kami yang sedang beristirahat. Sial.

Pemandangan menjelang matahari terbit benar-benar dahsyat. Bayangkan dari atas gunung tertinggi di Pulau Jawa kami memandang sampai jauh awan dan bukit-bukit berselimut kabut tebal jauh di bawah sana dan perlahan sinar keemasan mulai menerangi itu semua. Sementara di atas sana deru letupan Mahameru semakin jelas. Rupanya bayangan seperti beringin menyeramkan malam tadi adalah debu tebal dari kawah Semeru. Sekitar jam 8 pagi baru kami tiba di puncak. Jadi butuh sekitar 9 jam dari Kali Mati untuk mencapai puncak. Di sini baru kelihatan jelas kawah yang memuntahkan abu terus menerus itu. Perjalanan semalaman itu membuat bibir terasa kaku susah digerakkan. Saya langsung mencari teman yang membawa tas makanan, maklum lapar banget. Ya, kesalahan fatal saya waktu itu tidak membawa sebagian makanan itu sendiri entah di tas ataupun di kantong celana. Thanks God malam tadi cuacanya bersahabat.

Diatas kami menikmati pemandangan dari pucuk tertinggi di dataran Jawa dan tentu saja tidak lupa mengambil foto. Disitu juga ada semacam nisan memperingati Soe Hok Gie yang meninggal di Semeru. Sebelum siang kami turun. Katanya menjelang siang angin berubah arah dan arah letusan bisa ke arah kita. Waktu untuk turun mungkin sekitar separuh waktu untuk naik. Tiba di Kali Mati kami makan siang dan beristirahat sebentar lalu kembali ke Ranu Kumbolo. Ada teman yang berencana baru naik puncak malam itu jadi kami meninggalkan mereka di Kali Mati.

Kami tiba di Ranu Kumbolo sore, dan langsung mendirikan tenda dan tertidur pulas. Ranu Kumbolo juga terkenal dingin di malam hari. Bahkan pada waktu tertentu bisa terbentuk butir-butir es di pucuk rerumputan saking dinginnya. Di Ranu Kumbolo kami lebih santai menikmati makan malam sambil ngobrol sebelum tidur di pinggir danau dalam tenda yang hangat.

Pagi itu keesokan harinya, kabut sangat tebal menyelimuti Ranu Kumbolo. Selesai makan siang kami berkemas kembali ke Ranu Pane dan akhirnya kembali ke Surabaya. Seperti biasa, baru turun dari gunung, kami langsung mencari makanan enak berupa bebek goreng sambal pedas. Nikmat banget rasanya setelah sebelumnya makan kornet @$#%! Akhirnya kereta malam membawa kami kembali ke Jakarta. Meninggalkan memori gunung Semeru yang melekat kuat hingga sekarang.

Suatu saat nanti saya akan kembali ke sana jika tidak bersama teman-teman, mungkin bersama anak saya, minimal bisa berkemah di pinggir danau Ranu Kumbolo, dan sambil mendengarkan lagu Bob Marley dari loudspeaker handphone kita berbaring di atas matras melihat bintang-bintang di atas sana. Hahahaha..what a nice dream!


Advertisements

5 thoughts on “Mahameru, Puncak Abadi Para Dewa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s