Global Warming dan lunturnya kearifan lokal

Global Warming

Hasil penelitian mengatakan suhu bumi pernah lebih hangat daripada suhu bumi sekarang ini (yang berarti juga es di puncak Kilimanjaro pernah tipis, lapisan es antartika pernah berkurang, dstnya), yang jika diperhatikan membentuk pengulangan pola tertentu. Menurut catatan ahli di bidangnya, periode suhu bumi yang hangat itu biasanya diakhiri oleh letusan gunung berapi dahsyat. Belerang yang dimuntahkan gunung berapi diyakini menjadi lapisan reflektor di atmosfer yang memantulkan kembali sinar matahari alih-alih memasuki atmosfer bumi sehingga menjadikan bumi lebih dingin. Contoh hubungan letusan gunung berapi dan pengaruhnya terhadap suhu bumi adalah letusan Gunung Tambora yang dahsyat itu.

Namun pengaruh ulah manusia terhadap suhu bumi yang menghangat mungkin baru terjadi kali ini, dimana suhu bumi paling hangat dalam 2000 tahun terakhir ini, yang (katanya) linear dengan pertambahan CO2 di atmosfer akibat industri dan penipisan hutan bumi. Apakah letusan Merapi, Bromo, dan beberapa gunung berapi aktif dunia akhir-akhir ini adalah reaksi bumi untuk mendinginkan suhu atmosfer? Semoga demikian. Yang jelas para pecinta alam berhasil memanfaatkan momentum ini dan fakta keterbatasan ingatan kolektif penduduk bumi, untuk melawan para ekploitir alam yang rakus. Propaganda menyelamatkan bumi atas ancaman global warming bisa dikatakan berhasil. El Nino atau La Nina yang merupakan siklus iklim dikait-kaitkan dengan global warming. Keadaan lingkungan yang buruk dikait-kaitkan dengan global warming. Bencana alam dikait-kaitkan dengan global warming. Berbagai cuaca buruk dikait-kaitkan dengan global warming. Tidak ada orang yang pernah ingat lagi cuaca-cuaca buruk di tahun-tahun yang lampau bukan?

Hal positif yang kemudian timbul adalah kesadaran negara-negara untuk mengurangi emisi CO2 ke udara lewat Protokol Kyoto misalnya. Perhatian yang semakin tinggi terhadap ilegal logging. Orang-orang tidak mau mencetak diatas kertas sembarangan.  Kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan. Pembatasan pemakaian bahan plastik.  Ya, sampai ke hal-hal yang tidak mempunyai relevansi langsung dengan global warming ikut dikait-kaitkan. Tapi tidak apa-apa selama itu adalah hal-hal yang positif. Namun ada juga tindakan ekstrim misalnya keinginan sekelompok orang yang ingin membunuh semua sapi di permukaan bumi karena menyumbang porsi terbesar emisi CO2 katanya.

Di dunia yang semakin moderen dan heterogen ini mau tidak mau memang perlu dihidupkan culture seperti ini meski dibangun atas dasar ketakutan bukan kesadaran, untuk menggantikan kearifan lokal yang semakin lama semakin hilang. (Mirip kayak iklan-iklan yang menakut-nakuti orang supaya tidak berkulit hitam, supaya tidak makan gula asli, supaya tidak makan lemak, dstnya).

Kearifan Lokal

Sejak masuknya alkohol ke Amerika, orang Indian yang perlahan kecanduan perlu duit untuk membeli whiski. Perburuan binatang untuk diperdagangkan tidak memperhatikan lagi asas keberlanjutan (sustainability) yang dulu di pegang teguh sistem kearifan lokal. Demi duit untuk membeli alkohol dan mesiu untuk kembali berburu, kepala suku tidak diacuhkan lagi. Demi kebutuhan dunia moderen yang perlu banyak duit, alih-alih mendengarkan ketua adat, orang-orang di Sumba, di Sumatra, di Kalimantan, di Papua membabat hutan-hutan mereka tanpa memperhatikan lagi asas keberlanjutan, dan semakin parah ketika para pemegang HPH datang. Padahal masih banyak kegunaan hutan lain selain nilai kayunya yang cuma 7% , antara lain biodiversity, penangkap hujan dan penyimpan air, wisata, dstnya. Kedatangan agama-agama dunia bisa kita katakan ikut menggerus kearifan lokal. Kesimpulan ini mau tidak mau kita ambil melihat diskredit atas agama/kepercayaan asli yang merupakan pewaris kearifan lokal. Kemudian tanpa disadari terbentuk dualisme kepemimpinan adat-agama (selain pemerintah-adat) yang membuat pengaruh ketua adat semakin terpinggirkan bahkan hilang terutama apabila ditambah faktor semakin heterogennya masyarakat di suatu daerah. Jadi ada faktor kapitalisme/pasar, dualisme kepemimpinan, dan heterogenitas masyarakat yang ikut memberi andil menggerus kearifan lokal yang harus diakui sangat menghargai mother nature.

Isu perlindungan lingkungan yang digalang pemerintah dan pecinta lingkungan kadang menimbulkan konflik sosial di masyarakat. Misalnya pemberlakuan kawasan hutan lindung, padahal hutan tertentu itu menurut tradisi setempat bisa dikategorikan sebagai hutan berbasis komunitas dimana masyarakat adat sekitar menggantungkan hidup dari hasil hutan yang sustainable. Akhirnya pemuka adat berhadapan dengan kepala desa dan polisi hutan. Petani tradisional kontra pemerintahan, kehutanan, dan pecinta alam. Penghormatan terhadap alam menjadi perdebatan antara pemuka adat dengan pemuka agama, atau antara kepercayaan/agama asli kontra agama.

Kembali lagi, di masyarakat yang semakin moderen dan heterogen ini mau tidak mau memang culture baru harus dibangun atas dasar ketakutan dan punishment, dengan harapan kesadaran individu perlahan berkembang. Tapi penerapannya harus tetap memperhatikan kepentingan masyarakat lokal dan kearifan lokal. Perlu diingat bahwa jauh sebelum Al Gore dan WWF, ada banyak ketua adat yang menjaga tata cara penebangan pohon dan pemanfaatan hasil hutan yang berkelanjutan, ada banyak kepala suku Indian yang mengatur masyarakatnya bagaimana mencintai lingkungan dan tata cara berburu, ada banyak imam-imam kepercayaan/agama asli yang memberi teladan bagaimana menghormati alam. Mari kita belajar nilai-nilai positif dari mereka yang bisa memperkaya prinsip yang kita pegang sekarang ini.

Advertisements

2 thoughts on “Global Warming dan lunturnya kearifan lokal

  1. absolutely likes this post!
    ah semoga saja dunia kita tidak makin bertambah rusak.
    doakan ya biar gw bisa membesarkan anak yg ramah lingkungan. boleh donk dikait2kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s