Absurd, Nihil dan Cinta

Entah kenapa, saya jadi tertarik untuk terus memikirkan pemikiran Albert Camus. Kalimat singkatnya : ‘Hidup ini begitu absurd sehingga satu-satunya jalan adalah bunuh diri!’. Kalimat yang terlalu ekstrim, karena toh di dunia ini sangat jarang orang yang sampai berkeinginan untuk bunuh diri. Tapi pemikiran Albert Camus itu menarik. Setiap pribadi dalam hidupnya pasti mengalami penderitaan yang mungkin standarnya berbeda-beda tiap orang, padahal di satu sisi sebenarnya setiap pribadi itu juga pasti mengecap kebahagiaan. Setiap orang rela menjalani penderitaan dengan anggapan dia akan meraih kebahagiaan yang sebenarnya dia sendiri tidak bisa memastikannya! Pertanyaan beliau adalah kenapa harus ada penderitaan itu? Pertanyaan ini lalu menjadi semakin bermakna ketika ditujukan pada situasi dunia ini, pada relasi antar orang per orang. Kenapa ada orang yang mau menjadi penyebab penderitaan orang-orang lain? Mengapa hati mereka benar-benar dibutakan demi kebutuhan dirinya akan kenikmatan, kekayaan dan kekuasaan? Lalu dia bertanya lagi, kenapa Tuhan harus membiarkan penderitaan itu ada padahal sebenarnya Dia mampu meniadakannya? Kenapa kotak Pandora harus terbuka? Perlu diketahui bahwa Albert Camus ini adalah seorang atheis.

Pertanyaan tadi wajar dikemukakan, melihat sebenarnya di dunia ini ada banyak juga orang yang rela mengorbankan diri demi kebahagiaan dan mengurangi penderitaan orang lain. Kenapa tidak semua orang diciptakan seperti itu saja. Menjawab pertanyaan Albert Camus tadi biasanya para pemuka agama cepat menjawab ‘Tuhan ingin menguji iman kita’, untuk menghibur para penderita. Saya sendiri tidak puas dengan jawaban seperti ini. Ada juga yang bilang, ‘Tuhan menghukum mereka atas dosa-dosa yang mereka perbuat’, yang juga sering sekali diucapkan ketika ada bencana alam. Yang ini saya tidak setuju. Siapakah kita sehingga mampu menghakimi para obyek penderita. Pertanyaan Albert Camus ini benar-benar merupakan suatu tantangan terutama jika menyangkut relasi antar manusia menurut saya. Selain susah untuk di jawab, di situ ada nada pesimis tentang eksistensi tiap-tiap manusia. Lebih baik jika kita jadikan pertanyaan ini sebagai sebuah pertanyaan retoris sebagai bahan refleksi.

Melihat paradoks ini kita jadi teringat pemikiran aliran Manicheisme yang dahulu pernah berkibar. Alkisah diceritakan ada pertarungan antara kegelapan dan terang, malam dan siang, jahat dan baik. Akhirnya kemenangan berpihak pada kerajaan terang. Kemudian lahirlah manusia sebagai putra-putra kerajaan terang, namun dalam darahnya masih mengalir bibit-bibit kegelapan sisa dari pertempuran tadi. Kisah ini menurut saya adalah sebuah weltanschaung yang kontekstual dimana saja. Kisah ini menggambarkan sifat-sifat dasar setiap manusia. Dia cenderung bertindak di bawah cahaya kerajaan terang, namun sering juga menuruti bibit-bibit kegelapan yang mengalir dalam darahnya. Ngomong-ngomong, jangan pernah mengartikan harafiah kisah tadi.

Pertanyaan Albert Camus secara implisit menginginkan sebuah keadaan ideal, dimana pencarian kebahagiaan manusia itu masuk akal, tanpa terbatasi takdir manusia. Sedangkan Nietszche yang seorang atheis juga dan anti komunis, menginginkan sebuah revolusi moral. Dia mengkritik bahwa moralitas sudah secara salah dibentuk hanya untuk takut pada surga dan neraka, ketakutan yang dibawa oleh agama dan Tuhannya. Menurutnya manusia dengan bawaan bibit-bibit kegelapan telah diatur dengan cara yang keliru. Sehingga menurutnya manusia sudah mencapai kondisi nihilism, sebuah kondisi dimana moralitas yang sebenarnya diinginkan manusia tidak sesuai dengan kenyataan perilaku manusia yang terjadi di dunia, sehingga perlu suatu “pengosongan” moralitas yang siap diisi dengan moralitas baru dibawah bimbingan seorang yang super, Uber Man. Hitler pernah mengatakan bahwa dialah Uber Man itu, pernyataan kosong yang tidak perlu dianggap. Nietszche juga mengatakan bahwa manusia telah dilahirkan dengan kelebihannya masing-masing sehingga ia menolak ide-ide kesetaraan sosialis komunis. Menurut saya kritiknya lebih patut untuk direnungkan daripada dimaki.

Pertanyaan dan kritik tadi memang pantas untuk direnungkan, tidak berusaha dijawab. Tapi kita bisa memperlihatkan bahwa ada fakta optimis eksistensi manusia sebagai mahkluk yang dicintai Sang Pencipta, dan sebagai mahkluk yang diciptakan cenderung untuk mencintai daripada melukai. Sebenarnya kita manusia ini sudah diberikan anugerah oleh Sang Pencipta. Para atheis pun pasti mengakui atau setidaknya merasakan hal ini. Manusia adalah mahkluk terang dengan bibit-bibit kegelapan. Dia dibekali akal tapi juga kehendak bebas. Sehingga dengan akalnya ia mampu berbuat apa saja, dalam gelap atau terang mengikuti kehendak bebasnya. Anugerah lainnya adalah hati nurani dan suara hati. Pasti dalam menuruti kehendak bebasnya manusia selalu diarahkan oleh hati nurani dan suara hati yang antara lain diasah juga oleh agama, etika dan norma. Tetapi menurut saya anugerah terindah adalah cinta. Terlalu banyak optimisme yang muncul jika melihat kekuatan dan semangat yang luar biasa yang bisa dibangkitkan oleh cinta. Orang rela berbuat apa saja dan mengorbankan apa saja termasuk dirinya, demi cinta kepada Tuhan dan sesama, demi cinta kepada keluarga, demi cinta kepada kekasih, tanpa mengharapkan imbalan apapun termasuk surga. Ada kalimat anonim yang cukup berkesan: “Ambillah waktu untuk mencintai dan dicintai karena itu adalah anugerah terbesar dari Tuhan”.

Tapi realitas menyadarkan, dunia masih belum dan mungkin tak akan pernah seindah itu. Percayalah, selamanya kehendak bebas manusia akan tergoda pada kenikmatan, kekayaan dan kekuasaan, untuk melakukan apa saja termasuk melukai orang lain. Sehingga, pertanyaan Albert Camus akan selalu aktual, terutama menyangkut relasi antar manusia. Loh kok jadi pesimis?! Tapi, optimislah.. dengan modal antara lain C.I.N.T.A itu 🙂

*Tulisan ini hanya mewakili saya, tidak mewakili siapa atau apapun, maaf kalau ada yang tidak berkenan…

Advertisements

One thought on “Absurd, Nihil dan Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s