Quo Vadis Telekomunikasi Indonesia

Saya pernah menjalani kerja praktek di PT. Telkom Yogyakarta tahun 2004 berkat bantuan rekomendasi teman saya. Iseng-iseng di kantor Telkom saya membaca sebuah buku agak kusam yang saya sudah lupa buku tentang apa. Yang masih saya ingat, pada halaman-halaman awal buku itu ada ilustrasi tentang visi Telkom. Disitu diilustrasikan pada tahun 2000 awal seorang di Jakarta bisa menyaksikan dengan cara streaming upacara adat pasola yang diwarnai hujan di Sumba. Sementara, seorang petani di pedalaman Kalimantan asyik berbincang lewat layanan video call dengan partner bisnisnya di Australia. Ketika saya kerja praktek dulu ilustrasi itu belum lagi menjadi kenyataan, tetapi pada saat ini di beberapa daerah hal itu sudah memungkinkan hanya belum lagi di daerah terpencil yang menjadi contoh di buku itu.

Posisi Telekomunikasi Indonesia

Pada kuartal kedua tahun 2012 situs Akamai mengeluarkan laporan tentang kecepatan internet dan sayangnya Indonesia menjadi salah satu negara yang berada di urutan terbawah. Kecepatan internet rata-rata kuartal kedua tahun 2012 di Indonesia adalah 0.8 Mbps atau 100 kBps. Jika mau dihitung rata-rata per pulau maka dijamin kecepatan internet rata-rata di pulau-pulau selain di pulau Jawa akan lebih menyedihkan. Bandingkan dengan kecepatan internet rata-rata di Singapura yaitu 652 kBps dan Malaysia 281,6 kBps. Salah satu alasannya adalah karena keadaan geografis Indonesia yang terdiri dari begitu banyak pulau yang terpisahkan oleh lautan, demikian Menkominfo Tifatul Sembiring menanggapi laporan itu. Bandingkan saja dengan Singapura yang cuma sebuah pulau yang tentu lebih mudah baginya dalam membangun sebuah jaringan telekomunikasi yang baik. Ada benarnya juga tetapi tidak boleh selamanya dijadikan pembenaran.

Measured Connection SpeedPada akhir tahun 2011 Indonesia hanya memiliki 5,8 juta koneksi broadband dari jumlah penduduk 247 juta jiwa dimana 54% dari koneksi itu adalah koneksi mobile. Data ini menunjukkan bahwa kebanyakan akses internet di Indonesia adalah melalui koneksi mobile yang pada umumnya tidak bisa dikategorikan sebagai layanan broadband. Forecast berdasarkan tren menunjukkan koneksi berbasis 2G akan mencapai puncaknya pada tahun 2013 sebelum mulai menunjukkan tren menurun ditahun-tahun berikutnya. Koneksi berbasis 3G akan terus berkembang apalagi didukung harga perangkat telekomunikasi yang semakin murah. Koneksi mobile broadband akan menjadi semakin baik dengan masuknya teknologi 4G di pasar Indonesia nantinya.

Trend GenerationMau kemana?

Indonesia tengah berada pada momentum yang bagus. Berhasil melewati tahun 2008 dengan baik meski berjalan di bawah bayang-bayang ancaman krisis mortgage di Amerika, Indonesia malah memiliki pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia di tengah krisis yang melanda zona Eropa di tahun 2012. Kepercayaan investor dan perputaran uang sedang bagus-bagusnya di negara ini. Saatnya mengembangkan infrastruktur di segala lini mendukung program Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) di enam koridor.

Di bidang telekomunikasi visi pengembangan Indonesia cukup bagus. Infrastruktur tulang punggung telekomunikasi bangsa sedang dibangun. Pemerintah dengan program Palapa Ring dan Telkom melalui proyek Nusantara Super Highway yang dibagi menjadi 6 koridor mendukung program MP3EI. Tahapan targetnya adalah Indonesia Informatif di tahun 2014, Indonesia Broadband ketika backbone ini selesai dibangun tahun 2015 dan Indonesia Digital di tahun 2018.

Nusantara Super HighwayJaringan OptikTeknologi telekomunikasi digital sedang berada pada puncaknya. Pengembangan telekomunikai generasi digital secara umum adalah menuju pada layanan broadband. Upgrade ke generasi yang lebih baik adalah melalui semakin lebarnya bandwith frekuensi yang bisa dipakai seorang pengguna dan dengan teknik modulasi digital yang semakin kompleks. Pada sistem seluler LTE penggunaan bandwidth bisa hingga 20 Mhz. Teknik modulasi yang dipakai adalah OFDM dengan banyak sub carrier dan jika ditambah dengan teknik MIMO maka akan menjadikan sistem ini tahan banting (robust), sehingga kecepatan tertinggi ideal yang bisa ditawarkan LTE bisa mencapai 300Mbps. Demikian pula layanan berbasis kawat telepon yaitu DSL yang terus berkembang melayani pelanggan lebih cepat berkat teknik modulasi digital yang lebih cepat. Terus bagaimana generasi selanjutnya?

Sesungguhnya sejak generasi 3G terutama HSPA, kecepatan secara teoritis yang bisa dicapai setiap pengguna koneksi mobile sudah sangat cepat. Apalagi pada generasi 4G yang memakai teknik modulasi digital yang mungkin sudah pada titik jenuh. Keterbatasan selama ini lebih pada kapasitas yang diberikan operator terutama karena keterbatasan kapasitas link dari NodeB ke RNC dan seterusnya. Jadi pengembangan ke depannya adalah penambahan kapasitas. Ini sejalan dengan visi telekomunikasi Indonesia dalam membangun jaringan backbone nusantara yang siap mendukung kapasitas yang lebih besar. Apakah memang selama ini masalah itu yang menjadi bottleneck-nya? Jika iya, tinggal sekarang apakah pemain swasta mau membeli pemakaian jaringan ini. Masalah ini terutama terjadi di daerah-daerah yang sebelumnya tidak memiliki konektivitas dengan sebuah jaringan yang tangguh dan besar, dan cuma mengandalkan satelit yang memiliki resource terbatas dan delay yang tinggi.

Menurut Analysis Mason meskipun sudah ada perencanaan yang bagus mengenai backbone nusantara ini tetapi tren koneksi broadband di Indonesia tetaplah koneksi mobile. Ini patut disayangkan. Memang tren saat ini adalah telekomunikasi bergerak tetapi koneksi fixed tak bisa ditinggalkan karena jauh lebih stabil terutama bagi bisnis, perkantoran dan rumah. Namun, di beberapa daerah bahkan tidak terlihat tanda-tanda bahwa PT. Telkom akan membangun STO baru, atau paling tidak sebatas jaringan fixed yang menargetkan penjualan layanan data. Apakah dengan selesainya pembangunan backbone nusantara nanti para pemain swasta mau melirik daerah-daerah jauh yang sebenarnya potensi penjualannya juga bagus?

Fixed vs MobileKetika tulang punggung telekomunikasi ini sudah selesai dibangun dan para pemain swasta mau terjun memanfaatkan, maka semua daerah menjadi lebih mudah terhubungkan dengan sebuah jalan tol informasi yang menyambungkannya dengan dunia. Dan bisa kita bayangkan nanti ketika daerah-daerah yang dulunya terpencil kini menjadi gampang dijangkau bit-bit digital. Efeknya terhadap perekonomian masyarakat Indonesia saya yakin akanlah besar!

Advertisements

4 thoughts on “Quo Vadis Telekomunikasi Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s