CID: Communism is Dead 

Akhir-akhir ini sedang ramai isu komunis di Indonesia. Isu yang sangat sensitif di Indonesia. Ibarat kata sebuah lagu: “..the wound heal but the scar still remain..”, luka konflik masih membekas, baik itu peristiwa tahun 1948 dan terutama tahun 1965. Film Pemberontakan G30S PKI yang suram masih menghantui, termasuk dipikiran saya yang dulu jaman SD diharuskan nonton berulang tiap tahun. Adalah sebuah konsekuensi logis jika kemudian paham komunis dilarang di Indonesia.

Namun ketakutan yang berlebihan sekarang ini terasa aneh. Menurut saya paham komunis telah usang. Yang paling saya sesalkan adalah razia terhadap buku-buku tertentu persis jaman orde baru dulu. Karena saya sangat yakin jika saja tidak ada pembredelan berlebih jaman orde baru dulu, maka generasi usia produktif sekarang ini akan menjadi generasi yang lebih berwawasan luas dan cerdas dialektis. Masalahnya pembredelan ini main pukul rata, semuanya dengan seenaknya dicap komunis jika dianggap membahayakan yang berkuasa.

Agama Katolik -mungkin demikian juga agama lainnya- menolak Marxisme yang meperjuangkan kelas tertentu saja sedangkan gereja merangkul semua kelas. Tapi ada kemiripan juga sebenarnya dengan Marxisme dimana dalam salah satu etika politik gereja katolik yaitu prinsip solidaritas, diharapkan untuk mendahulukan kaum tertindas untuk diperjuangkan, option for the poor. Mungkin begitu juga pandangan agama lainnya saya kurang tahu. Pertentangan utama antara agama dan komunis mungkin terletak pada teori dasar komunis yaitu materialisme yang atheis. Sedangkan ketakutan kaum militer pada komunis adalah pada sifatnya yang progresif revolusioner.

Namun dalam prakteknya, kita bisa melihat betapa banyak negara-negara dengan mayoritas penduduk katolik, pemerintahannya jauh dari prinsip  option for the poor. Meskipun agama Katolik sendiri tidak mempunyai sistem pemerintahan dan ekonomi yang dibakukan. Di negara-negara Amerika Latin kemudian umum dengan menjamurnya ideologi sosialis yang memperjuangkan kaum tertindas, voice of voiceless. Kritik dari para pemikir atheis juga seringkali tentang hal ini, agama yang meninabobokan masyarakat dalam ketimpangan antar kelas.

Baru-baru ini saya ke Bangladesh. Maaf saja, disana saya bersukur hidup di Indonesia. Saya berkata kepada teman saya: “Karl Marx mungkin sedih liat kondisi disini”

“Wah..ngeri juga lu peggemar Marx yah..” timpal teman saya.

Dengan lebai saya menjawab “nggak juga, cuman gue setuju aja sama empatinya terhadap ketidakadilan yang sebenarnya berlaku universal..”

Saya mendengar sendiri cerita teman kantor disana bagaimana kondisi infrastruktur disana yang buruk, kondisi perlindungan tenaga kerja disana, tentang upah dan jaminan sosial yang minim, belum lagi tentang kolusi dan parlemen yang lemah. Kami menguatkan dia dengan cerita tentang KAI yang dulu hopeless, berkarat dan jorok, sekarang berubah jadi jauhhhh lebih baik setelah diperbaiki Ignasius Jonan.

Cerita-cerita diatas saya maksudkan untuk menggambarkan bahwa kita butuh semua konsep. Kita butuh penyeimbang. Butuh pengkritik. Butuh oposisi. Satu konsep tok mutlak menghasilkan semacam otoriter. Lagi-lagi saya suka mencontohkan keseimbangan yang baik dalam UUD kita UUD ’45. Nasionalisme, Agama dan Sosialisme terwakilkan dengan cukup baik. Gak heran Indonesia punya toleransi antar agama yang cukup baik, perlindungan buruh dan tenaga kerja yang lumayan, jaminan sosial yang semakin baik juga hari-hari libur nasional, agama dan buruh yang representatif hehe..

Tentang komunis, saya pikir komunis sudah mati, Soeharto termasuk pembunuhnya..Saya sendiri sih say no to communism and narkoba..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s