Pilkada Langsung, Demokrasi Terpimpin dan Runtuhnya Generasi Emas Minang

Judulnya asik banget ya haha..

Ya, akhir-akhir ini sedang ribut soal pilkada apakah dipilih langsung ataukah dipilih lewat DPR. Pilkada langsung sepertinya diajukan oleh partai-partai yang tergabung dalam koalisi Merah Putih. Apakah ini salah satu bentuk ketidaksukaan akan kemenangan seorang ‘kecil’ Jokowi, salah satu pemimpin yang bersinar yang merupakan hasil dari pilkada langsung? Only God knows..

Kemudian kemaren saya lihat di twitter, salah satu justifikasi yang diajukan oleh seorang kader Gerindra bernama Rachel, yaitu Demokrasi Terpimpin ala Soekarno. Saya agak bingung juga hubungannya dimana? Menurutnya kepemimpinan seperti pada era Demokrasi Terpimpin itulah yang sesuai dengan jiwa bangsa Indonesia.Ā Saya Ā termasuk orang yang tidak setuju dengan anggapan itu.

Dan saya mulaiĀ berasumsi jangan-jangan Ā itulah tujuan dari pimpinan partainya, yang telah diamini para anggota dan kader partai, yang akan didukung koalisi merah putih, wah ini harus dicegah.

Bung Hatta tidak diragukan lagi nasionalisme dan kesantunannya. Dia mengundurkan diri dari Dwi Tunggal karena merasa tidak sejalan lagi dengan Soekarno. Natsir seorang tokoh Masyumi juga tidak sepaham dengan Soekarno, terutama soal kedekatannya dengan PKI. Syafruddin Prawiranegara dulu mendirikan pemerintahan darurat di Bukittinggi atas inisiatifnya sendiri ketika Dwi Tunggal ditangkap Belanda, juga menyatakan ketidaksukaannya. Para tokoh terutama militer di Sumatera memberikan ultimatum kepada pemerintah pusat yang bisa dikatakan mengkritik kebijakan Soekarno dan pusat. Syafrudin Prawiranegara dan Natsir kemudian bergabung dengan PRRI setelah ultimatum itu tidak dipenuhi pusat. Perlu dipahami situasi di Jakarta yang mencekam dan penuh tekanan kepada tokoh Masyumi waktu itu, setelah upaya percobaan pembunuhan Soekarno. Sementara itu Sulawesi ada Permesta dibawah Kawilarang dan Sumual. Di Sumatera Utara dibawah Simbolon. Mereka semua mengkritik pusat. Apakah ada isu kepentingan di tubuh militer? Only God knows..

Pada akhirnya gerakan-gerakan pemberontakan menurut kacamata pusat ini bertumbangan. Apakah inilah era tumbangnya generasi emas Minang? Natsir, Syafrudin Prawiranegara diadili. Juga Sjahrir dari PSI yang sepertinya dituduh mendukung PRRI, karir politik mereka tamat. Ayah Prabowo yaitu Soemitro juga dituduh mendukung PRRI, sehingga ia melarikan diri ke luar negeri. PSI dan Masyumi dibubarkan. Dari Sulawesi Utara juga konon tidak ada lagi yang bisa mencapai posisi tinggi dalam militer.

Apakah benar pilkada dipilih DPRD akan bermuara pada kepemimpinan seperti demokrasi terpimpin? Jika tujuannya itu maka kita patut khawatir. Sejarah telah membuktikan banyak gejolak yang terjadi di Republik ini akibat dari sistem seperti itu. Dengan ini saya menyatakan tidak setuju pilkada lewat DPRD, meskipun jika tidak berhubungan dengan demokrasi terpimpin. Banyak memang kekurangan pilkada langsung, tapi lebih banyak keuntungannya..

Generasi Emas Indonesia

Sub Judul : Generasi Emas Minang

Banyak tokoh yang saya kagumi di Indonesia ini dan saya katakan disini bahwa secara khusus saya menaruh hormat sungguh pada beberapa diantara tokoh nasional berdarah Minangkabau. Dulu saya tidak terlalu memperhatikan detil ini, baru kemudian saya tersadar bahwa ternyata banyak tokoh Indonesia yang saya kagumi memiliki pola tempat lahir yang sama, yaitu terlahir di Sumatera Barat (Padang, Bukittinggi atau Fort de Kock, Agam dan sekitarnya) atau paling tidak mempunyai darah Minang. Peran para tokoh berdarah Minang itu terhadap arah sejarah Indonesia tak diragukan lagi, terutama di bidang politik dan sastra. Saya jadi ingin tahu: kenapa daerah Sumatera bagian Barat itu cukup produktif melahirkan tokoh-tokoh bangsa (pada waktu-waktu itu)?

Pendidikan

Faktor pertama kemungkinan besar adalah karena pengaruh pendidikan. Uh, betapa terdengar klise-nya kalimat itu. Dahulu di Hindia Belanda janganlah berharap anda bisa bersekolah jikalau darah anda tidak biru atau kulit anda tidak bule. Pribumi tidak bisa berharap banyak, mereka tahu nasibnya pasti akan berujung menjadi seorang kuli atau buruh kasar, atau lebih parah lagi malah disuruh menjadi tenaga kerja paksa bahkan oleh para bupati yang sesama pribumi sekalipun. Pribumi yang bisa bekerja di belakang meja hanyalah kaum priyayi, kaum yang berdarah biru. Hanya kepada merekalah diberikan kesempatan mengikuti sekolah-sekolah kolonial seperti ELS, STOVIA dan MULO bersama-sama dengan anak-anak Eropa. Motif pemerintah kolonial Hindia Belanda adalah mendapatkan tenaga terampil untuk dijadikan pegawai pemerintahan dan perusahaannya, sedangkan motif para orang tua adalah agar anaknya kelak menjadi pegawai dengan status sosial tinggi dan gaji yang bagus pula. (Kata pribumi dipakai disini untuk melihat pembedaan yang diberlakukan pemerintah kolonial waktu itu terhadap orang Eropa, totok, pribumi, Tionghoa, dan suku bangsa lainnya).

Sudah menjadi suatu ketakutan tersendiri bagi para penjajah akan efek pendidikan terhadap kepentingan mereka di daerah koloninya. Pengajaran akan merupakan dinamit bagi sistem kasta yang dipertahankan dengan keras di dalam daerah jajahan, demikian seorang Sosiolog Amerika. Kemauan manusia tidak dapat disetir. Insting mahkluk hidup yang dipaksa terkungkung yaitu pasti akan berusaha membebaskan dirinya, cepat atau lambat. Di antara anak-anak priyayi ini ternyata ada yang berjiwa pemberontak, yang berjiwa rebel, yang berpikiran keluar dari kotak, yang mendapati pikirannya menjadi gelisah. Mereka inilah yang tidak menjadikan pendidikan yang diperolehnya sebagai keuntungannya semata, tapi mereka mau juga berpikir tentang keadaan pribumi lainnya yang diperlakukan dengan tidak semestinya. Padahal jika saja mereka mau menuruti kemauan orang tuanya, bukankah mereka akan menjadi orang kaya, orang terpandang, orang yang disegani? Tidak. Mereka mau berbuat lebih dengan segala keterbatasannya, dan mau mengesampingkan keuntungan materi yang sebenarnya sudah pasti di depan mata, demi idealisme yang mereka yakini.

Kegelisahan yang bertumbuh ini untung sekali mendapatkan momentum yang pas yaitu mulai diberlakukannya politik etis oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, dan peristiwa kemenangan angkatan laut Jepang dalam perang melawan Rusia tahun 1904 – 1905. Kemenangan Jepang ini menyadarkan bangsa Asia bahwa sesungguhnya mereka tidaklah inferior di hadapan Barat. Dalam novel Bumi Manusia yang menggambarkan suasana waktu itu, Pramoedya Ananta Toer menulis bahwa sesudah kemenangan Jepang, seorang Jepang telah dianggap setara dengan seorang Barat. Tapi belum demikian halnya dengan warga negara Asia lainnya. Untuk dianggap setara dengan seorang Barat mereka harus tergabung terlebih dulu dalam sebuah organisasi.

Organisasi

Wahidin Sudirahusodo seorang lulusan STOVIA (sekarang FK UI) berpikir untuk membentuk sebuah organisasi dan bagaimana mengakomodir pemuda-pemuda cerdas pribumi yang tidak mampu bersekolah. Idenya ini (dan ide-ide lainnya) disambut pelajar STOVIA antara lain Sutomo dan Soewardi Soerjaningrat alias Ki Hadjar Dewantara untuk kemudian membentuk Budi Utomo (1908). Di Solo, Sarekat Dagang Islam (1911) dibentuk oleh seorang pengusaha Haji Samanhudi, sebuah organisasi yang awal didirikannya bertujuan mengkonsolidasikan kekuatan pedagang-pedagang Muslim. Sarekat Islam (belakangan ada perubahan nama) berkembang pesat setelah H.O.S Tjokroaminoto (tamatan OSVIA) menjadi ketuanya. Akibat pilihannya ini beliau dikabarkan pernah berselisih dengan mertuanya. Perlu diketahui sosok Tjokroaminoto sering juga dikatakan sebagai seorang guru bangsa. Murid-muridnya yang juga adalah pengontrak di rumahnya antara lain: Soekarno, Kartosuwiryo dan Semaun. Ke Sarekat Islam kemudian bergabunglah Haji Agus Salim (tamatan HBS) dan Abdoel Moeis (tamatan STOVIA). Lalu Indische Partij (1908) dibentuk oleh Douwes Dekker alias Danudirja Setiabudi (seorang peranakan atau totok) bersama Ki Hadjar Dewantara dan Tjipto Mangunkusumo, mereka dikenal sebagai Tiga Serangkai. Douwes Dekker memiliki seorang sepupu bernama Eduard Douwes Dekker alias Multatuli yang lewat bukunya berjudul Max Havelaar turut menciptakan suasana kondusif di Eropa untuk mendorong terlaksananya politik etis oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Mereka yang memiliki turunan darah priyayi inilah para tokoh awal pergerakan nasional yang menjadi sumber motivasi tokoh-tokoh yang muncul selanjutnya (menurut R. Sunu).

Lalu apakah bangsawan Minang waktu itu sadar benar pentingnya pendidikan ataukah demi gengsi semata dan motif ekonomi? Ataukah budaya rantaunya yang secara tidak sadar mengharuskannya lebih unggul di lingkungannya? Yang jelas di Sumatera Barat sekolah mendapatkan hasil yang luar biasa. Dari sana kemudian terkenal antara lain Abdoel Moeis (1883, Agam), Haji Agus Salim (1884, Agam), Marah Rusli (1889, Padang), Datuk Ibrahim gelar Sutan Malaka (1897, Suliki), Muhammad Hatta (1902, Bukittinggi), Mohammad Yamin (1903, Sawah Lunto), Tulis Sutan Sati, Sutan Sjahrir (1909, Padang Panjang), Idrus (1921), Mochtar Lubis (1922, Padang), Haji Ali Akbar Navis (1924, Padang), Asrul Sani (1926, Rao), Taufiq Ismail (1935, Bukittinggi) dan yang terlahir di tanah perantauan seperti Sutan Takdir Alisjahbana (1908, Natal), Sanusi Pane (1905, Muara Sipongi), Armijn Pane (1908, Natal), Syafruddin Prawiranegara (1911) dan Chairil Anwar (1922).

Para tokoh ini saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Bagaimanakah pertukaran ide-ide melewati jarak yang jauh waktu itu? Jawabannya adalah penerbitan, buku, surat kabar, dan para perantau. Di Padang cukup banyak muncul penerbit-penerbit surat kabar. Pelita Kecil (1886) didirikan Mahyudin Datuk Sutan Marajo, ia lalu mendirikan juga Tjahaya Soematra (1894). Soeting Melajoe (1911) yang dikhususkan untuk wanita dibentuk oleh Rohana Kudus (beliau memiliki hubungan darah dengan Sutan Sjahrir dan Chairil Anwar).

Karena terlalu banyak tokoh-tokoh, disini saya hanya mencoba mengorek beberapa keterkaitan yang saling mempengaruhi saja. Misalnya Bung Hatta membaca pemikiran Tjokroaminoto di Utusan Hindia, dan berkenalan dengan tulisan Agus Salim dan Abdul Moeis di koran Neratja pada waktu ia bersekolah ke Batavia dan menjabat sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond, organisasi yang diikutinya semenjak bersekolah di Padang. Di Jakarta ia sering mengunjungi STOVIA dan rumah Haji Agus Salim yang secara tidak resmi telah menjadi pusat kaderisasi para pemuda. Ketika ia melanjutkan kuliah di Belanda ia menjadi ketua Perhimpoenan Indonesia sebuah organisasi politik yang bergeser dari organisasi sosial atas pengaruh Tiga Serangkai yang sedang berada di Belanda karena tidak bisa bergerak bebas di Indonesia. Disitu ia pernah berseteru dengan Semaun dari pihak komunis. Bung Hatta adalah seorang turunan bangsawan, lain halnya dengan Tan Malaka seorang anak pegawai rendahan yang beruntung bisa bersekolah di sekolah Fort de Kock atas dasar rekomendasi karena kepintarannya. Ia juga bisa bersekolah di Belanda dengan bantuan pengumpulan dana oleh para pemuka warga Suliki. Tan Malaka adalah orang pertama yang menulis konsep Republik Indonesia. Muhammad Yamin menjulukinya “Bapak Republik Indonesia”. Ia menulis buku Naar de Republiek Indonesia dan Massa Actie yang menginspirasi tokoh-tokoh pergerakan. Bung Karno membawa buku ini dan katanya suka mencoret-coret hal-hal penting disitu. Dari buku Massa Actie, W.R. Supratman terinspirasi menambahkan kalimat “Indonesia tanah tumpah darahku” ke dalam lagu Indonesia Raya. Tan Malaka seorang komunis (dibenci Semaun disebut pengikut Trotsky) berbeda pandangan dengan Hatta seorang nasionalis yang saleh dan Sjahrir seorang sosial demokrat. Terlihat sekali sejak kedatangan Jepang. Sjahrir tidak mau bekerja sama dengan Jepang, apalagi Tan Malaka, berbeda halnya dengan Soekarno dan Hatta yang menganggap ini peluang Indonesia. Sesudah proklamasi, Belanda menganggap Soekarno dan Hatta serta Sudirman sebagai kolaborator Jepang sehingga lebih menyukai Sjahrir dalam perundingan-perundingan (dan kebetulan hasil-hasil perundingan yang diwakili Sjahrir menguntungkan Belanda). Diplomasi ini tidak disukai Tan Malaka sehingga ia mendekatkan diri pada Sudirman mantan pemimpin PETA bentukan Jepang dan bersama-sama membentuk Persatuan Perjuangan yang menjadi koalisi oposisi yang disegani pemerintah waktu itu.
Tapi yang saya sukai dari tiga tokoh Minang ini yaitu mereka memiliki kesamaan dalam melihat pentingnya kaderisasi dan pendidikan. Bahkan di tempat pembuangan atau pelarian mereka suka membaca, menulis dan menjadi pengajar dan membina kader. Ketika dibuang ke Boven Digul, buku yang dibawa Bung Hatta sebanyak 2 koper! Sedangkan Tan Malaka menulis Madilog yang setebal itu hanya mengandalkan referensi yang tersimpan di otaknya.

Kesimpulan

Dari fakta-fakta diatas, saya coba menarik kesimpulan mengenai tokoh-tokoh dari Minang ini. Budaya rantau mungkin membentuk mereka menjadi lebih ulet karena persaingan. Di perantauan, kedekatan sesama perantau bagus untuk membagi pengalaman terutama melalui organisasi dan senioritas yang membangun kader, dan untungnya tidak eksklusif. Tidak lupa tentu saja faktor pendidikan yang sudah terbukti menjadi akselerator status dan intelegensi.

Kisah Telekomunikasi: Dari seorang pengurus pemakaman sampai artis telanjang

Hari ini karyawan Telkomsel mogok kerja, imbasnya kita jadi bisa santai hari ini šŸ˜€ Ayo kita nge-blog tentang telekomunikasi…

Saya selalu ingat kisah si tukang kubur Almon Brown Strowger ini gara-gara cerita Pak Wahyu Dewanto jaman kuliah dulu tentang penemuan alat sentral telepon strowger step by step oleh sang pengurus pemakaman ini. Juga tentang si artis Hedy Lamarr penemu frekuensi hopping yang pernah tampil kontroversial pada sebuah film yang mengumbar tubuh telanjangnya. Tapi sebentar dulu, penemuan mereka sudah jauh di depan. Sebelum jaman mereka, telekomunikasi jauh lebih susah. Kita kembali ke belakang dulu.

Early Telecommunication

Dahulu dijaman buyut dari buyutnya buyut kita, suatu suku di hutan Afrika menggunakan gendang dengan kombinasi irama tertentu untuk berkomunikasi jarak jauh. Suku Indian di Amerika menggunakan kepulan-kepulan asap hasil dari sekumpulan kayu yang dibakar. Kibasan bendera-bendera atau panji dan suara-suara terompet digunakan oleh tentara-tentara Romawi atau pasukan-pasukan kerajaan jaman dulu ketika berperang. Pasti masih banyak lagi cara-cara primitif berkomunikasi jarak jauh. Sekarangpun masih ada bentuk telekomunikasi primitifĀ  misalnya kentongan siskamling. Dipukul keras dan cepat satu dukuh sudah mengerti artinya: ada maling.

Loncatan ke bentuk telekomunikasi yang lebih baik terjadi sesudah penemuan elektron bergerak/mengalir alias listrik dan juga penemuan elektromagnetik. Hebatnya elektron yang kita bicarakan ini tidak bisa dilihat, tapi manusia bisa menghasilkan dan memprediksi gerak-gerik benda tak terlihat ini. Kumparan kawat dialiri listrik menghasilkan medan magnet dan sebaliknya magnet yang digerakkan dalam kumparan kawat Ā menghasilkan listrik. Perlu kita berterima kasih kepada eyang Faraday dan Maxwell atas persamaan-persamaan ribet mereka meski sungguh menghantui menjelang ujian semester jaman kuliah dulu.

Ada yang suka berpikir teoritis tentang elektron yang bergerak ini. Ada juga yg lebih suka mencoba-coba membuat penerapannya dalam bentuk alat. Mereka mencoba membuat saklar yang jika ditekan berulang, ujung-ujung dari kawat Ā sebuah kumparan akan bertemu sehingga teraliri listrik dan menjadi magnet yang menarik sebuah logam, yang menghasilkan suara cetak-cetik, yang oleh seorang terlatih bisa diterjemahkan menjadi sebuah pesan telegram: “tolong kirim pulsa ke mama sekarang koma penting tanda seru titik” Plis deh jaman itu kan blom ada yang jualan pulsa mam.. Lebih canggih lagi, mereka mencoba menciptakan alat yang ketika kita berbicara di suatu ujung, akan menggetarkan sebuah membran, yang menggetarkan karbon-karbon, yang menggetarkan amplitudo listrik, yang kemudian dialirkan melewati seutas kawat menuju sebuah kumparan kawat di ujung satunya, yang menghasilkan medan magnet yang “bergetar” menarik-narik sebuah membran, yang bergetar menghasilkan suara lagi. Dan kemudian lebih bagus lagi, mereka mencoba menciptakan alat yang tidak membutuhkan kawat diantara dua ujung ini, yaitu dengan menebarkan saja medan/gelombang elektromagnetik di udara. Jadi kawat penghubung tadi sekarang digantikan medan/gelombang elektromagnetik yang dipancarkan dan ditangkap oleh antena. Sekarang marilah kita berterimakasih kepada Bell atas penemuan telepon dan Hertz atas penemuan transciever radio/gelombang elektromagnetik.

Bisnis Telekomunikasi

Penemuan-penemuan luar biasa ini barangkali membuat pengusaha merpati pos kala itu benar-benar gigit jari tengah, karena dengan segera berdirilah perusahaan telegram dan telepon. Siapa sih yang gak mau pesannya sampai dalam waktu cepat? Semua orang pasti mau, tapi yang jelas harus bayar dong.. Ā Itulah beda orang yang suka berteori dan orang yang suka coba-coba, yang disebut belakangan menghasilkan uang lebih banyak (kesimpulan sangat sekenanya).

Kawat-kawat dari tiap rumah yang membeli jasa perusahaan telepon, terkumpul disuatu titik yang akan disambungkan secara manual oleh operator jika seorang pelanggan ingin berbicara dengan seorang pelanggan lainnya. Bayangkan semakin banyak pelanggan, semakin banyak pula operator yg sibuk menyambungkan kawat-kawat. Sang ahli kubur Almon Brown Strowger ambil bagian disini dalam pengembangan sistem sentral telepon Strowger step by step. Entah dia mendapat bisikan dari mana, benar-benar suatu alih keterampilan yang dramatis. Berkat temuannya tenaga operator manusia bisa dikurangi menuju sistem penyambungan telepon yang otomatis.

Thanks to War?

Dalam perang, selain senapan mesin dan tank, penyampaian informasi yang cepat, efisien dan diam-diam tentu penting sekali. Tidak pake kawat tentu lebih efisien, maka radio banyak dipakai. Sifat diam-diam atau rahasia bisa dengan menerapkan metode enkripsi/penyandian. Di jaman perang dunia II enkripsi ini dilakukan agar pesan tidak bisa dibaca musuh, jadi Hitler misalnya bisa mengirimkan pesan lewat radio kepada para jenderalnya tanpa takut bisa dimengerti oleh Churchill atau Eisenhower . Kekalahannya dalam perang tank masif pasukannya melawan pasukan Rusia antara lain karena sandi komunikasi enigma mereka terpecahkan. Sifat rahasia tadi bisa juga diperoleh dengan cara memakai frekuensi yang melompat-lompat acak yang pertama dikembangkan sang artis kontroversial Hedy Lamarr untuk penggunaan pengendali torpedo, Ā sehingga gelombang radio pengendali susah dipantau atau dijamming musuh. Bisa juga dengan menyamarkan spektrum frekuensi radio hingga menjadi seperti derau noise belaka bagi musuh.

Tapi sekarang ini di jaman damai era digital, enkripsi lebih dimaksudkan untuk melawan/mengontrol bit error. Karena itu ketika sebuah pesawat tak berawak luar angkasa yang sudah melewati planet Jupiter tapi pesan radio kirimannya berhasil didekripsi lagi di Bumi setelah mengalami kondisi bit error tinggi, para ilmuwan bersulang atas kemenangan teori penyandian/enkripsi. Begitu juga dengan frequency hopping tadi, kini lebih dimaksudkan untuk melawan interference yang menyebabkan bit error. Selain bikin sengsara ternyata perang juga membantu memaksa percepatan pengembangan teknologi termasuk teknologi telekomunikasi.

Era Telekomunikasi Digital Tanpa Kabel

Radio semakin berkembang dalam kehidupan sipil dan banyak memakai model yang sudah dipakai dalam dunia militer sebelumnya. Dimulai dari jaman radio CB lalu pager dan telepon bata. Btw, kronologi teknologi bisa ditelusuri juga dari lagu-lagu hit pada jamannya, contohnya lagu Five Minute dengan “tit-tit begitu bunyinya” atau lirik “bang, sms siapa ini bang” .

Sistem digital memang betul-betul efisien dan efektif dalam banyak hal. Sistem digital cuma memiliki dua kemungkinan yaitu “ya” atau “tidak”, “1” atau “0”. Contoh sederhana cara kerja prinsip digital misalkan ada dua lampu morseĀ  A dan B di suatu pelabuhan, dua-duanya padam misalnya diartikan “maju”, cuma lampu A nyala “belok kiri”, cuma lampu B nyala “belok kanan”, dua-duanya nyala artinya “stop”. Jadi gabungan 2 kemungkinan kondisi 2 lampu, bisa mewakili 4 pesan, atau sama dengan 2 kondisi pangkat 2 lampu. Ada 3 lampu berarti ada 2 pangkat 3 = 8 kemungkinan pesan, dstnya 4 lampu berarti 2^4= 16 kemungkinan pesan. Sangat tidak efisien jika jumlah pesan sebanyak jumlah lampu bukan?

Dalam Telekomunikasi digital semua pesan dikonversi menjadi bit-bit 0 atau 1 tadi. Misalnya disetujui memakai 8 bit digitalisasi (setiap kombinasi 8 bit mewakili suatu nilai) maka ada 2^8 =256 kemungkinan nilai. Misalkan amplitudo suara akan didigitalisasi maka , misalkan rentang amplitudo 0-10 Volt, maka ada 10Volt/256 kombinasi=step 0.04 V/kombinasi bit, contoh: 00000000=0V, 00000001=0,04V, 00000010=0,08V dst.nya. Di penerima kemudian bit-bit ini di konversi lagi menjadi amplitudo suara.

Prinsip pengiriman bit-bit ini tepat seperti lampu tadi, jika lampu nyala berarti artinya bitĀ  “1” sebaliknya artinya “0”. Kalau 2 lampu setiap kombinasi kondisi mewakili 2bit. Sekarang misalkan ada 4 lampu berjajar, lebih susah kan mata melihat lampu mana tepatnya yang menyala? Kiri tengah atau kiri luar? Coba lebih banyak misalkan ada 6 lampu! Lebih susah lagi melihat kombinasi nyala padamnya.

Begitulah prinsip yang dipakai pada sistem selular. Sekarang lampu digantikan gelombang radio. Kondisi lampu digantikan fase atau amplitudo gelombang radio, dan kecepatan mati hidupnya lampu digantikan frekuensi gelombang radio pesat bit. Semakin banyak lampu beserta kondisinya dan semakin cepat pergantian nyala padamnya makin banyak pesan bisa disampaikan bukan? 2G memakai 1 lampu, 2 kondisi, 1 bit per kondisi (GMSK). 2,5 memakai 2 lampu, 4 kondisi, 2 bit per kondisi (QPSK). 3G memakai memakai 2 lampu tapi mati hidupnya lampu lebih cepat. Sekarang coba bayangkan 3,5 G memakai 2 lampu, tapi ada 16 kondisi kemungkinan (16QAM). Caranya yaitu setiap lampu punya 8 kondisi intensitas cahaya diantara yang paling gelap dan paling terang (amplitudo). Susah amat! Bisa kebayang kalau ada kabut. 4G memakai 2 lampu tapi bersamaan paralel di beberapa alam berbeda, dan mati hidupnya lampu lebih cepat (susah banget analoginya hahahaha..) Jadi kalau di alam yang satu berkabut di alam yg lain mungkin cerah.

Yah kira-kira seperti itulah, kita bisa pake banyak kondisi lampu tergantung keadaan, berkabut atau gak. Dalam telekomunikasi, keadaan disini misalnya interferens, situasi perambatan radio, dst.nya. Dalam contoh lampu kita baru bicara masalah frekuensi pesat bit, fase, amplitudo, dan situasi perambatan gelombang radio. Dalam evolusi 2G ke 4G masih ada faktor lain seperti enkripsi untuk error control, frequency hopping, penyebaran frekuensi, sandi orthogonal dan sebagainya yang membuat pengalaman bertelekomunikasi benar-benar semakin baik. Generasi-generasi evolusi telekomunikasi selanjutnya bakalan semakin kompleks tapi yang jelas akan makin memanjakan customer..

Udah selese belom mogok kerjanya ya??

Revolusi Perancis, Revolusi Bolshevik dan Kemerdekaan Indonesia

Jaman SD dulu, sesudah itu jaman SMP, berlanjut ke SMA saya selalu berpikir kalau tahun 1945 itu adalah masa yang jadul banget. Sering terheran-heran, hebat ya orang jaman itu sudah bisa memproklamasikan kemerdekaannya, sudah bisa ada revolusi. Yah begitulah kalau kurang wawasan. šŸ˜€ Padahal sebenarnya ini tidak sepenuhnya benar. Melihat sejarah dunia, Indonesia (juga hampir kebanyakan negara Asia-Afrika) bisa dibilang ketinggalan jaman dalam hal revolusi menuju kemerdekaan.

Pemantik pertama revolusi terjadi di Perancis abad 18, dua abad sebelum Indonesia merdeka. Dulu disana, kaum borjuis dan para tuan tanah tidak puas dengan aturan Raja -yang mendapat dukungan penuh dari organisasi agama- yang tidak menguntungkan mereka. Para tuan tanah ini kemudian memanas-manasi para buruh dan petani bergabung menjatuhkan kekuasaan Raja. Akhirnya berdirilah Perancis baru dengan semboyan Liberte, Egalite, Fraternite. Dalam perkembangan selanjutnya tidak tahu bagaimana perkembangan nasib para buruh dan petani itu, mungkin secara politis mereka merdeka, tetapi secara ekonomi masih dibawah kekuasan kaum borjuis dan tuan tanah.

Revolusi yang bisa dibilang sumber inspirasi pergerakan kemerdakaan negara dunia ketiga adalah Revolusi Rusia atau Revolusi Bolshevik pada tahun 1917. Inspirasi dari revolusi ini sendiri pastilah juga adalah Revolusi Perancis, kali ini dengan versi revisi. Pada revolusi Perancis, para buruh bisa dibilang hanyalah boneka kaum Borjuis dan tuan tanah, sedangkan di Rusia, para buruh terpelajar atau kaum proletar-lah yang menjadi otak pergerakan. Mimpi indah revolusi ini adalah negara dimana kesetaraan individu adalah tujuan akhir. Namun kata partai komunis, negara yang baru merdeka itu harus dibimbing dulu menuju pada tujuan akhir itu, akhirnya “pembimbingan” itu sayangnya berubah menjadi pemerintahan diktator dan otoriter yang kelam.

Beruntunglah Indonesia memiliki para tokoh-tokoh muda awal abad 20, sesudah mulai ada politik etis Belanda untuk menutupi ketamakan imperialis dan kapitalisnya waktu itu. Intinya adalah pendidikan yang menambah wawasan. Sebutlah pendiri Budi Utomo yang bersekolah dokter, Bung Hatta atau Sjahrir yang berkesempatan bersekolah ke Belanda, Bung Karno seorang insinyur, Tan Malaka yang sempat berkelana kesana kemari, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh waktu itu dengan wawasan baru yang menjadi motor pergerakan kemerdekaan. Revolusi di Rusia memang sangat berpengaruh, penggambaran suasana waktu itu ada di novel Pramudya dengan tokoh Mingke yang intinya bilang: “Wah hebat orang Jepang itu, satu individu mereka sudah dianggap setara satu individu orang barat, saudara kita orang Cina sudah membentuk organisasi yang akhirnya satu organisasi itu dianggap setara dengan satu individu orang Barat, karena itu marilah kita membentuk satu organisasi juga!” Tan Malaka sendiri di tahun 20-an bilang: “Di tahun-tahun moderen ini..”

Proklamasi kemerdekaan adalah klimaks perjuangan. Marilah berterima kasih kepada para pendiri organisasi dan partai entah keagamaan dan nasionalis tahun 1900-an itu. Marilah berterima kasih kepada Tan Malaka peletak visi misi negara kebangsaan Indonesia berwawasan Nusantara. Berterima kasihlah kepada para founding fathers yang membidani kelahiran negara bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika yang luar biasa itu, banyak suku, agama, bahasa daerah, kebudayaan, tapi satu dibawah Indonesia. Mari berterima kasih juga kepada para tokoh pejuang yang mempertahankan kemerdekaan itu.

Merdeka adalah modal awal. Sekarang mari kita bertanya bagaimana nasib masyarakat Indonesia sekarang? Secara politis merdeka, secara ekonomi, agak ketir kita akan menjawab belum. Berhatilah-hatilah terhadap trik-trik globalisasi, perdagangan bebas, dan sejenisnya. Jangan sampai Indonesia yang dirugikan. Tahun 1945 itu sudah moderen, sekarang ini lebih moderen lagi, jangan sampai masyarakat Indonesia cuma begini-begini saja. Bung Karno pernah bercita-cita kesetaraan di bidang politik dan ekonomi lewat Trisakti. Semoga suatu saat benar menjadi kenyataan.

Dirgahayu Indonesia, 65 Tahun sudah Indonesia merdeka..

*gambar dari http://www.english-online.at/history/french-revolution/french-revolution.htm, http://www.ovimagazine.com/art/5014 dan http://www.sumintar.com/mengenang-detik-detik-proklamasi-kemerdekaan-negara-kesatuan-republik-indonesia-nkri.html