Pemeluk Agama Yang Sombong

Facebook itu asik sebenarnya sob..teman-teman lama yang sudah lama gak pernah ketemu akhirnya bisa ketemu lagi dan kontek lagi meskipun cuma lewat pesan dan chat di Facebook. Dari temen jaman SD, SMP, SMA, dll. Facebook bagus juga jadi tempat beriklan mereka yang berjiwa marketing. Facebook juga seru untuk sharing foto-foto.

Tapi, mungkin kamu juga menyadari bahwa akhir-akhir ini Facebook menjadi kurang enak. Banyak sekali link hoax, banyak juga link berita media yang sangat kuat indikasinya sebagai berita tak terkonfirmasi, pendapat satu arah. Selain itu di Indonesia, sejak pemilihan Presiden terakhir, banyak juga perang opini antara pendukung Presiden terpilih dan yang kalah, di Facebook. Dan juga ada lagi sharing opini vulgar tentang agama-agama yang sampai pada titik yang tidak sopan yaitu mempertanyakan dan mendebatkan keimanan pemeluk agama orang lain.

Wajar jika kemudian mungkin banyak yang kesal main Facebook. Atau ada juga yang meng-unfriend teman-teman tertentu yang menjadikan dunia Facebooknya homogen dan satu warna. Bagus juga sih efek Facebook ini. Kita jadi (pura-pura baru) tahu betapa banyak karakter orang sekitar kita.

Saya sendiri jujur saja kesal dengan,¬†let me call¬†it,¬†para “pemeluk agama yang sombong” di Facebook. Apa untungnya¬†mempertanyakan dan mendebatkan keimanan pemeluk agama orang lain? Merasa dirinya dan agamanya dan keimanannya yang paling benar? Merasa dirinya akan masuk surga sementara yang lain terbakar di neraka? Tentu saja saya sangat mendukung diskusi antar agama, tapi bukan taraf yang rendah seperti itu. Ada hal-hal yang pantasnya didiskusikan internal saja, dan ada yg bisa dibawa keluar.

Praksis Keimanan di Dunia

Mahatma Gandhi berkata “My religion is based on truth and non-violence“. Sementara Dalai Lama “My religion is very simple. My religion is kindness“. Pikiran seperti ini benar-benar open minded dan sepertinya benar-benar menutup kritik dari pemikir-pemikir atheist seperti Nietzche, Marx, atau Freud. Kalimat-kalimat yang singkat tapi suatu bukti ringkas yang kuat tentang pengalaman mendalam praktek keimanan dalam dunia nyata sehari-hari.

Saya pernah ngobrol dengan seorang yang mengaku atheis di Hangzhou, dia ikut menjamu saya dan teman saya yang akan balik ke Indonesia:

“Apakah kamu menganut agama?”

“Ya, saya Katolik dan teman saya ini Muslim.”

Terus dia ngangguk-ngangguk. “Oh ya, saya punya teman¬†dari Pakistan sepertinya dia Katolik juga. Tiap Jumat di pergi ke Gereja juga.”

Kami ketawa dan berkata “Bukan..itu Muslim kalau tiap Jumat ke Masjid”

Dengan¬†sotoy¬†ia melanjutkan “Oya,¬†my mistake,¬†ya tetangga desa saya banyak yang Muslim, mereka tiap Jumat ke Masjid dan bernyanyi.”

Kami cuma bisa berkata “Ape lu kate dah..”

Paling nggak ini bukti sederhana juga bahwa seorang atheis pun bisa berlaku baik, memperlakukan orang asing dengan baik.

Saya cuma mau menekankan disini bahwa yang lebih penting adalah praktek keimanan dalam kehidupan sehari-hari. Jangan mau terprovokasi “pemeluk agama sombong” yang mencari-cari kesalahan agama orang lain apalagi orang yang tidak beragama. Diskusi antar agama perlu tapi penting dijaga sampai batas-batas yang sopan. Tapi mungkin batas yang sopan itu dah kabur juga yah…oohh.

Advertisements

Gereja Katolik Dalam Perkembangan Jaman

Kali aja ada yang pengen tahu latar belakang Gereja Katolik dan perkembangannya..

Kelahiran Gereja

Ajaran Kristiani berpusat pada ajaran Yesus Kristus yang besar dalam tradisi Yahudi. Pada umur yang masih belia pengetahuan Yesus tentang Taurat pernah memukau imam-imam di bait Allah. Karena kedalaman pengetahuan itu pula Yesus pernah diminta memimpin ibadat di sinagoga. Jadi Yesus paham benar akan Taurat dan tradisi Yahudi.

Namun murid-murid Yesus sendiripun mungkin kaget ketika kemudian melihat ajaran Yesus yang ternyata revolusioner dan mengambil posisi mempertanyakan tradisi Yahudi. Sebuah contoh cukup baik tentang sikap Yesus ini adalah ketika seorang wanita bernama Maria Magdalena tertangkap berzinah. Menurut hukum Yahudi wanita ini harus dirajam sampai mati. Orang-orang yang ingin mencobai Yesus membawanya pada Yesus dan bertanya kepadanya apa yang harus mereka lakukan. Yesus lalu berkata: “Barangsiapa yang merasa dirinya tidak berdosa biarkanlah ia yang melemparkan batu pertama kepada wanita ini.” Tentu saja tidak ada orang yang kemudian berani menjadi pelempar batu pertama. Sebuah contoh lain adalah ketika Yesus melakukan mukjizat menyembuhkan orang di hari Sabat yang menurut hukum Yahudi adalah hari dimana orang Yahudi tidak boleh melakukan kegiatan apapun. Kata Yesus “Apa yang akan kalian lakukan jika domba kalian jatuh ke dalam sebuah lobang pada hari Sabat?” Dan kerap sekali Yesus memberikan kritik keras kepada kaum Farisi yang dianggapnya suka memamerkan keimanannya di depan umum. Yesus mengkritik sikap kaku mereka tentang hukum Taurat bahkan ketika sedang berhadapan dengan situasi hidup mati atau pertentangan nurani.

Sikap Yesus ini tentu saja membangkitkan ketidaksukaan imam-imam Yahudi, yang kemudian berujung pada penyaliban Yesus. Dalam peristiwa penyaliban itu, sikap resmi pemerintahan kekaisaran Romawi adalah lebih menuruti kemauan imam-imam Yahudi untuk meredam dan mencegah pemberontakan orang Yahudi yang memang cukup sering terjadi waktu itu.

Dengan latar belakang ini, bisa kita lihat kemudian Gereja purba lahir dan tumbuh dalam tekanan dan penindasan baik di dalam lingkungan Yahudi maupun di daerah-daerah jajahan kekaisaran Romawi yang begitu luasnya saat itu. Pada masa-masa itulah gereja benar-benar diuji keimanannya. Banyak pemeluk Kristen yang rela mati demi memegang imannya, bahkan ketika dihadapkan pada metode penyiksaan dan teror Romawi yang terkenal mengerikan.

Romawi Menjadi Kristen

Tapi akhirnya keadaan berubah berbalik menguntungkan penganut Kristen ketika Kaisar Romawi yaitu Konstantin juga menjadi pemeluk Kristen dan menjadikan Kristen agama resmi kekaisaran Romawi. Tidak ada lagi teror dan intimidasi. Malahan pemimpin agama Kristen bangkit menjadi simbol yang disegani dalam pemerintahan yang bahkan terus berlangsung hingga saat ini meski tidak sekuat pada abad-abad pertengahan dulu.

Namun sayangnya masa-masa suram gereja justru terjadi disaat seperti itu, yaitu ketika sudah tidak ada lagi teror dan intimidasi terhadap gereja. Disaat gereja menjadi sumber legitimasi Kristiani bagi kerajaan-kerajaan Kristen Eropa kala itu, Paus yang merupakan lembaga kepemimpinan Kristen, kerap menyalahgunakan kekuasaannya. Kolusi dan nepotisme juga korupsi merajalela. Gereja banyak ikut campur dalam perpolitikan dan intrik-intrik kerajaan demi alasan paling murahan yaitu harta duniawi bahkan kekuasaan. Perpecahan gereja orthodoks di Turki dengan Roma waktu itu juga terjadi akibat intrik-intrik politik dalam kepausan. Tekanan terhadap ilmuwan-ilmuwan yang bertentangan dengan ajaran gereja juga terjadi saat itu.

Reformasi Gereja

Keadaan begitu buruknya sehingga sampai pada suatu titik bermunculanlah suara-suara protes. Yang paling terkenal adalah suara protes Martin Luther dari Jerman. Titik inilah yang menjadi titik balik gereja setelah sekian lama berkubang dalam sistem yang dibuat rusak. Gereja kemudian terpecah menjadi dua yaitu Protestan dengan tokoh-tokoh utamanya Martin Luther dan John Calvin, dan Katolik yang akan saya lanjutkan bahasannya.

Ada perubahan besar yang terjadi pada tubuh Gereja Katolik sesudah perpecahan itu. Gerakan perubahan ini terutama digawangi oleh imam-imam ordo Yesuit yang didirikan Ignatius Loyola menyusul banyak pertanyaan dan perdebatan yang membutuhkan sikap kritis mendalami sikap gereja Katolik. Gereja Katolik pun mereformasi diri. Perubahan sistem dan dogma sangat signifikan, yang bahkan terasa hingga pada simbol-simbol sederhana dalam liturgi gereja katolik.

Perubahan-perubahan sikap gereja Katolik yang mendasar mencapai puncaknya pada Konsili Vatikan ke-II.
Salah satu pokok perubahan yang baik dalam hubungannya dengan agama lain misalnya adalah Lumen Gentium, yaitu bahwa Gereja Katolik mengakui adanya keselamatan di luar gereja.

Berawal dari pengalaman Santo Fansiskus Xaverius dalam tugasnya di Jepang, dengan semangatnya ia membaptis banyak orang dengan keyakinan telah menyelamatkan orang yang dibaptisnya. Pada akhirnya ia tersentak pada pertanyaan seorang biksu Shinto, bagaimana dengan keselamatan orang-orang baik yang tidak dibaptis, mungkin seperti biksu itu sendiri, yang memang tidak mengenal Yesus.

“Barangsiapa melakukan kebaikan kepada orang-orang yang paling hina ia telah melakukannya untuk Aku” kata Yesus. Ayat ini dipakai untuk menggambarkan, bahwa tidak semua orang yang melakukan kebaikan pernah mengenal Yesus atau ingin dibaptis. Dan kebaikan ini menurut pandangan gereja adalah karena sentuhan Tuhan pada nurani manusia. Dalam pernyataan pribadinya Santo Yohanes Paulus II mengembangkan lebih jauh lagi pandangan terbarui Gereja Katolik setelah Konsili Vatikan ke-II yang semakin membuka dialog dengan agama-agama lainnya di dunia.

Pada jaman yang semakin moderen ini, Gereja Katolik menghadapi semakin banyak tantangan baru, atau borok lama yang mulai bermunculan lagi. Semoga Gereja Katolik mampu beradaptasi dengan kemajuan jaman, baik itu internal Gereja Katolik maupun dalam hubungan dengan agama lain di dunia, sesuai ajaran Yesus dan semangat humanisme.

Selamat Natal 2014!