Man vs Software

Dah lama ga update blog ini ūüėÄ

Yup sekarang saya mau bahas tentang SON yaitu Self Organizing Network. Its about automatic software.

Saya jadi ingat dulu pertama kali bekerja di dunia telekomunikasi, kami diberi tugas oleh koordinator kami untuk membuat program menggunakan Macro VB Excel. Latar belakangnya adalah kami punya rutinitas kerjaan dan tugas yang berulang setiap waktu dan hari. Dan koordinator kami mempunyai ide bagaimana menekan pengulangan kerjaan secara manual digantikan program yang mengeksekusi rutinitas itu secara otomatis dan jauh lebih cepat dengan hanya menekan tombol setelah mempersiapkan input! Pekerjaan jauh lebih cepat, efisien, efektif, bahkan mengurangi kesalahan atau error. Kata kuncinya disini adalah : Cepat dan Error Reduction yang berujung pada Cost Efficiency dan Kredibilitas. Saya berterima kasih kepada jasa koordinator itu, dalam kerjaan saya selanjutnya ilmu ini sangat membantu.

SON

Nah SON ini saya pikir sama persis idenya dengan latar belakang diatas, dan SON bener-bener akan sangat powerful ketika sistemnya sudah lengkap dan sempurna nantinya. Beberapa fungsinya misalnya:

  • Paramater Consistency Check
  • Automatic Neighbor Relation
  • Layer Management System
  • Reuse Code Optimization
  • Coverage and Capacity Optimization
  • Load Balancing
  • Mobility Robustness
  • Automatic Parameter Optimization
  • Carrier Aggregation Optimization
  • VOLTE Optimization
  • dan masih banyak lagi..

SON diagram

 

Input untuk SON adalah parameter fisik seperti tinggi antenna, azimuth, tilting, dikombinasikan dengan counter-counter dari network yang disimpan dalam sebuah database juga parameter-parameter dari sebuah system. Sebuah program kemudian akan berjalan dalam sebuah server yang kemudian melakukan komputasi berdasarkan input-input ini. Analisis yang dulu dilakukakan manual oleh manusia kini bisa dilakukan lebih cepat, komprehensif dan masif dan menghasilkan ouput rekomendasi yang bisa diterapkan ke sistem menghasilkan sistem dan network yang lebih baik. Keterbatasannya adalah computing power dan input, karna dalam sistem otomatis seperti ini prinsipnya adalah Garbage In Garbage Out, inputan sampah keluarannya juga sampah.

Ya, sebagai tenaga kerja, persaingan kita kini tidak terbatas pada sesama tenaga kerja tapi juga dengan mesin dan software ūüėÄ Fungsi manusia sekarang tinggal decision maker, desain, dan penginput. Jadi untuk tetap eksis sepertinya kita harus siap jadi decision maker, desainer, dan inputer yang mau ga mau harus ngerti alur cara berpikir dan komputasi SON juga output yang benar.

Dan saya yakin fungsi manusia yang di-disrupt oleh software tidak hanya terjadi di bidang telekomunikasi tapi juga di semua bidang.

Sudah siapkah kita bersaing dengan mesin dan software?

 

Pemeluk Agama Yang Sombong

Facebook itu asik sebenarnya sob..teman-teman lama yang sudah lama gak pernah ketemu akhirnya bisa ketemu lagi dan kontek lagi meskipun cuma lewat pesan dan chat di Facebook. Dari temen jaman SD, SMP, SMA, dll. Facebook bagus juga jadi tempat beriklan mereka yang berjiwa marketing. Facebook juga seru untuk sharing foto-foto.

Tapi, mungkin kamu juga menyadari bahwa akhir-akhir ini Facebook menjadi kurang enak. Banyak sekali link hoax, banyak juga link berita media yang sangat kuat indikasinya sebagai berita tak terkonfirmasi, pendapat satu arah. Selain itu di Indonesia, sejak pemilihan Presiden terakhir, banyak juga perang opini antara pendukung Presiden terpilih dan yang kalah, di Facebook. Dan juga ada lagi sharing opini vulgar tentang agama-agama yang sampai pada titik yang tidak sopan yaitu mempertanyakan dan mendebatkan keimanan pemeluk agama orang lain.

Wajar jika kemudian mungkin banyak yang kesal main Facebook. Atau ada juga yang meng-unfriend teman-teman tertentu yang menjadikan dunia Facebooknya homogen dan satu warna. Bagus juga sih efek Facebook ini. Kita jadi (pura-pura baru) tahu betapa banyak karakter orang sekitar kita.

Saya sendiri jujur saja kesal dengan,¬†let me call¬†it,¬†para “pemeluk agama yang sombong” di Facebook. Apa untungnya¬†mempertanyakan dan mendebatkan keimanan pemeluk agama orang lain? Merasa dirinya dan agamanya dan keimanannya yang paling benar? Merasa dirinya akan masuk surga sementara yang lain terbakar di neraka? Tentu saja saya sangat mendukung diskusi antar agama, tapi bukan taraf yang rendah seperti itu. Ada hal-hal yang pantasnya didiskusikan internal saja, dan ada yg bisa dibawa keluar.

Praksis Keimanan di Dunia

Mahatma Gandhi berkata “My religion is based on truth and non-violence“. Sementara Dalai Lama “My religion is very simple. My religion is kindness“. Pikiran seperti ini benar-benar open minded dan sepertinya benar-benar menutup kritik dari pemikir-pemikir atheist seperti Nietzche, Marx, atau Freud. Kalimat-kalimat yang singkat tapi suatu bukti ringkas yang kuat tentang pengalaman mendalam praktek keimanan dalam dunia nyata sehari-hari.

Saya pernah ngobrol dengan seorang yang mengaku atheis di Hangzhou, dia ikut menjamu saya dan teman saya yang akan balik ke Indonesia:

“Apakah kamu menganut agama?”

“Ya, saya Katolik dan teman saya ini Muslim.”

Terus dia ngangguk-ngangguk. “Oh ya, saya punya teman¬†dari Pakistan sepertinya dia Katolik juga. Tiap Jumat di pergi ke Gereja juga.”

Kami ketawa dan berkata “Bukan..itu Muslim kalau tiap Jumat ke Masjid”

Dengan¬†sotoy¬†ia melanjutkan “Oya,¬†my mistake,¬†ya tetangga desa saya banyak yang Muslim, mereka tiap Jumat ke Masjid dan bernyanyi.”

Kami cuma bisa berkata “Ape lu kate dah..”

Paling nggak ini bukti sederhana juga bahwa seorang atheis pun bisa berlaku baik, memperlakukan orang asing dengan baik.

Saya cuma mau menekankan disini bahwa yang lebih penting adalah praktek keimanan dalam kehidupan sehari-hari. Jangan mau terprovokasi “pemeluk agama sombong” yang mencari-cari kesalahan agama orang lain apalagi orang yang tidak beragama. Diskusi antar agama perlu tapi penting dijaga sampai batas-batas yang sopan. Tapi mungkin batas yang sopan itu dah kabur juga yah…oohh.

Fenomena CDMA dan Kritik Kepada Telkom (Flexi)

Sebentar lagi Flexi usai kisahnya, frekuensi miliknya akan dikembalikan kepada negara. Kemungkinan frekuensi itu akan dipakai oleh Telkomsel untuk E-GSM (Extended GSM..whatever..)

Ingat pertama kali Flexi muncul? Ditengah cerita sukses operator GSM, Flexi muncul dengan CDMA dan oya kebetulan (?) regulasi pemerintah sangat menguntungkan operator CDMA dengan tarif yang lebih menarik tetapi layanannya harus bersifat fixed.

Masih belum cukup tarif yang lebih murah, dengan trik ala joki 3-in-1 operator CDMA digawangi Flexi mengakali regulasi fixed area dengan cara meregister kota tujuan sebelum bepergian sehingga layanan CDMAnya tetap bisa dipakai di tempat tujuan.

Tapi oh ternyata dengan beberapa kelebihan itu kini semuanya bertumbangan, tinggal Smartfren masih memperlihatkan tanda-tanda kehidupan. Kenapa kita menyebutnya bertumbangan karna ini bukanlah suatu strategi menyambut LTE, tapi memang karena merugi bro..

Apa yang salah dengan operator CDMA? Mungkin masalah strategi dan marketing dan terutama modal. Tapi sangat disayangkan tumbangnya Flexi dibawah nama besar PT. Telkom. Seharusnya Flexi mengambil posisi sebagai perintis seperti halnya Citilink di bawah Garuda. Fokus pada area-area potensial tapi belum terjangkau kabel telepon. Pasarnya yang paling kuat ada disitu. Tapi mungkin juga berbenturan dengan strategi Telkomsel yang menargetkan setiap kecamatan seluruh Indonesia terlayani Telkomsel. Nah posisinya jadi tanggung kan?
Dan yang menyebalkan adalah pelanggan juga kena getah akibat tumbangnya Flexi. Pelanggan Flexi disarankan beralih ke Telkomsel dengan produk AS Flexi yang adalah layanan GSM. Sehingga pelanggan harus mengganti sendiri teleponnya yang sebelumnya cuma bisa untuk layanan CDMA. Coba kita lihat nanti bagaimana cara Smartfren mengalihkan pelanggannya ke layanan LTE nya, kalau lebih nyaman bagi pelanggannya maka kita bisa bilang Shame on you Flexi. Kalo sama saja, kita bisa bilang begitu kepada dua-duanya.

Jadi bisnis basah apa yang tersisa dari Telkom sekarang? Fixed line dengan teknologi DSL dibawah nama produk Speedy dan layanan broadband lewat jaringan serat optik. Tapi ohh dikota-kota besar saingannya luar biasa dengan tawaran-tawaran menggiurkan. Alangkah baiknya jika Telkom bergerak dengan prioritas membangun jaringan fiber optik dari kota-kota kabupaten yang ratusan itu, jangan sampai daerah-daerah yang dari jaman patih Gadjah Mada belum kemasukan kabel telpon, sampai di jaman internet ini ga masuk-masuk juga kabel optiknya. Ini terutama adalah pesan dari pasal 33 UUD 45 lho dan juga sejarah Telkom yang pernah memonopoli pertelekomunikasian (arahan pasal 33 juga) tapi gagal mendominasi. Eh tapi ehh..Telkomsel kan punyanya Telkom ya..

Pilkada Langsung, Demokrasi Terpimpin dan Runtuhnya Generasi Emas Minang

Judulnya asik banget ya haha..

Ya, akhir-akhir ini sedang ribut soal pilkada apakah dipilih langsung ataukah dipilih lewat DPR. Pilkada langsung sepertinya diajukan oleh partai-partai yang tergabung dalam koalisi Merah Putih. Apakah ini salah satu bentuk ketidaksukaan akan kemenangan seorang ‘kecil’ Jokowi, salah satu pemimpin yang bersinar yang merupakan hasil dari pilkada langsung? Only God knows..

Kemudian kemaren saya lihat di twitter, salah satu justifikasi yang diajukan oleh seorang kader Gerindra bernama Rachel, yaitu Demokrasi Terpimpin ala Soekarno. Saya agak bingung juga hubungannya dimana? Menurutnya kepemimpinan seperti pada era Demokrasi Terpimpin itulah yang sesuai dengan jiwa bangsa Indonesia. Saya  termasuk orang yang tidak setuju dengan anggapan itu.

Dan saya mulai berasumsi jangan-jangan  itulah tujuan dari pimpinan partainya, yang telah diamini para anggota dan kader partai, yang akan didukung koalisi merah putih, wah ini harus dicegah.

Bung Hatta tidak diragukan lagi nasionalisme dan kesantunannya. Dia mengundurkan diri dari Dwi Tunggal karena merasa tidak sejalan lagi dengan Soekarno. Natsir seorang tokoh Masyumi juga tidak sepaham dengan Soekarno, terutama soal kedekatannya dengan PKI. Syafruddin Prawiranegara dulu mendirikan pemerintahan darurat di Bukittinggi atas inisiatifnya sendiri ketika Dwi Tunggal ditangkap Belanda, juga menyatakan ketidaksukaannya. Para tokoh terutama militer di Sumatera memberikan ultimatum kepada pemerintah pusat yang bisa dikatakan mengkritik kebijakan Soekarno dan pusat. Syafrudin Prawiranegara dan Natsir kemudian bergabung dengan PRRI setelah ultimatum itu tidak dipenuhi pusat. Perlu dipahami situasi di Jakarta yang mencekam dan penuh tekanan kepada tokoh Masyumi waktu itu, setelah upaya percobaan pembunuhan Soekarno. Sementara itu Sulawesi ada Permesta dibawah Kawilarang dan Sumual. Di Sumatera Utara dibawah Simbolon. Mereka semua mengkritik pusat. Apakah ada isu kepentingan di tubuh militer? Only God knows..

Pada akhirnya gerakan-gerakan pemberontakan menurut kacamata pusat ini bertumbangan. Apakah inilah era tumbangnya generasi emas Minang? Natsir, Syafrudin Prawiranegara diadili. Juga Sjahrir dari PSI yang sepertinya dituduh mendukung PRRI, karir politik mereka tamat. Ayah Prabowo yaitu Soemitro juga dituduh mendukung PRRI, sehingga ia melarikan diri ke luar negeri. PSI dan Masyumi dibubarkan. Dari Sulawesi Utara juga konon tidak ada lagi yang bisa mencapai posisi tinggi dalam militer.

Apakah benar pilkada dipilih DPRD akan bermuara pada kepemimpinan seperti demokrasi terpimpin? Jika tujuannya itu maka kita patut khawatir. Sejarah telah membuktikan banyak gejolak yang terjadi di Republik ini akibat dari sistem seperti itu. Dengan ini saya menyatakan tidak setuju pilkada lewat DPRD, meskipun jika tidak berhubungan dengan demokrasi terpimpin. Banyak memang kekurangan pilkada langsung, tapi lebih banyak keuntungannya..

Gereja Katolik Dalam Perkembangan Jaman

Kali aja ada yang pengen tahu latar belakang Gereja Katolik dan perkembangannya..

Kelahiran Gereja

Ajaran Kristiani berpusat pada ajaran Yesus Kristus yang besar dalam tradisi Yahudi. Pada umur yang masih belia pengetahuan Yesus tentang Taurat pernah memukau imam-imam di bait Allah. Karena kedalaman pengetahuan itu pula Yesus pernah diminta memimpin ibadat di sinagoga. Jadi Yesus paham benar akan Taurat dan tradisi Yahudi.

Namun murid-murid Yesus sendiripun mungkin kaget ketika kemudian melihat ajaran Yesus yang ternyata revolusioner dan mengambil posisi mempertanyakan tradisi Yahudi. Sebuah contoh cukup baik tentang sikap Yesus ini adalah ketika seorang wanita bernama Maria Magdalena tertangkap berzinah. Menurut hukum Yahudi wanita ini harus dirajam sampai mati. Orang-orang yang ingin mencobai Yesus membawanya pada Yesus dan bertanya kepadanya apa yang harus mereka lakukan. Yesus lalu berkata: “Barangsiapa yang merasa dirinya tidak berdosa biarkanlah ia yang melemparkan batu pertama kepada wanita ini.” Tentu saja tidak ada orang yang kemudian berani menjadi pelempar batu pertama. Sebuah contoh lain adalah ketika Yesus melakukan mukjizat menyembuhkan orang di hari Sabat yang menurut hukum Yahudi adalah hari dimana orang Yahudi tidak boleh melakukan kegiatan apapun. Kata Yesus “Apa yang akan kalian lakukan jika domba kalian jatuh ke dalam sebuah lobang pada hari Sabat?” Dan kerap sekali Yesus memberikan kritik keras kepada kaum Farisi yang dianggapnya suka memamerkan keimanannya di depan umum. Yesus mengkritik sikap kaku mereka tentang hukum Taurat bahkan ketika sedang berhadapan dengan situasi hidup mati atau pertentangan nurani.

Sikap Yesus ini tentu saja membangkitkan ketidaksukaan imam-imam Yahudi, yang kemudian berujung pada penyaliban Yesus. Dalam peristiwa penyaliban itu, sikap resmi pemerintahan kekaisaran Romawi adalah lebih menuruti kemauan imam-imam Yahudi untuk meredam dan mencegah pemberontakan orang Yahudi yang memang cukup sering terjadi waktu itu.

Dengan latar belakang ini, bisa kita lihat kemudian Gereja purba lahir dan tumbuh dalam tekanan dan penindasan baik di dalam lingkungan Yahudi maupun di daerah-daerah jajahan kekaisaran Romawi yang begitu luasnya saat itu. Pada masa-masa itulah gereja benar-benar diuji keimanannya. Banyak pemeluk Kristen yang rela mati demi memegang imannya, bahkan ketika dihadapkan pada metode penyiksaan dan teror Romawi yang terkenal mengerikan.

Romawi Menjadi Kristen

Tapi akhirnya keadaan berubah berbalik menguntungkan penganut Kristen ketika Kaisar Romawi yaitu Konstantin juga menjadi pemeluk Kristen dan menjadikan Kristen agama resmi kekaisaran Romawi. Tidak ada lagi teror dan intimidasi. Malahan pemimpin agama Kristen bangkit menjadi simbol yang disegani dalam pemerintahan yang bahkan terus berlangsung hingga saat ini meski tidak sekuat pada abad-abad pertengahan dulu.

Namun sayangnya masa-masa suram gereja justru terjadi disaat seperti itu, yaitu ketika sudah tidak ada lagi teror dan intimidasi terhadap gereja. Disaat gereja menjadi sumber legitimasi Kristiani bagi kerajaan-kerajaan Kristen Eropa kala itu, Paus yang merupakan lembaga kepemimpinan Kristen, kerap menyalahgunakan kekuasaannya. Kolusi dan nepotisme juga korupsi merajalela. Gereja banyak ikut campur dalam perpolitikan dan intrik-intrik kerajaan demi alasan paling murahan yaitu harta duniawi bahkan kekuasaan. Perpecahan gereja orthodoks di Turki dengan Roma waktu itu juga terjadi akibat intrik-intrik politik dalam kepausan. Tekanan terhadap ilmuwan-ilmuwan yang bertentangan dengan ajaran gereja juga terjadi saat itu.

Reformasi Gereja

Keadaan begitu buruknya sehingga sampai pada suatu titik bermunculanlah suara-suara protes. Yang paling terkenal adalah suara protes Martin Luther dari Jerman. Titik inilah yang menjadi titik balik gereja setelah sekian lama berkubang dalam sistem yang dibuat rusak. Gereja kemudian terpecah menjadi dua yaitu Protestan dengan tokoh-tokoh utamanya Martin Luther dan John Calvin, dan Katolik yang akan saya lanjutkan bahasannya.

Ada perubahan besar yang terjadi pada tubuh Gereja Katolik sesudah perpecahan itu. Gerakan perubahan ini terutama digawangi oleh imam-imam ordo Yesuit yang didirikan Ignatius Loyola menyusul banyak pertanyaan dan perdebatan yang membutuhkan sikap kritis mendalami sikap gereja Katolik. Gereja Katolik pun mereformasi diri. Perubahan sistem dan dogma sangat signifikan, yang bahkan terasa hingga pada simbol-simbol sederhana dalam liturgi gereja katolik.

Perubahan-perubahan sikap gereja Katolik yang mendasar mencapai puncaknya pada Konsili Vatikan ke-II.
Salah satu pokok perubahan yang baik dalam hubungannya dengan agama lain misalnya adalah Lumen Gentium, yaitu bahwa Gereja Katolik mengakui adanya keselamatan di luar gereja.

Berawal dari pengalaman Santo Fansiskus Xaverius dalam tugasnya di Jepang, dengan semangatnya ia membaptis banyak orang dengan keyakinan telah menyelamatkan orang yang dibaptisnya. Pada akhirnya ia tersentak pada pertanyaan seorang biksu Shinto, bagaimana dengan keselamatan orang-orang baik yang tidak dibaptis, mungkin seperti biksu itu sendiri, yang memang tidak mengenal Yesus.

“Barangsiapa melakukan kebaikan kepada orang-orang yang paling hina ia telah melakukannya untuk Aku” kata Yesus. Ayat ini dipakai untuk menggambarkan, bahwa tidak semua orang yang melakukan kebaikan pernah mengenal Yesus atau ingin dibaptis. Dan kebaikan ini menurut pandangan gereja adalah karena sentuhan Tuhan pada nurani manusia. Dalam pernyataan pribadinya Santo Yohanes Paulus II mengembangkan lebih jauh lagi pandangan terbarui Gereja Katolik setelah Konsili Vatikan ke-II yang semakin membuka dialog dengan agama-agama lainnya di dunia.

Pada jaman yang semakin moderen ini, Gereja Katolik menghadapi semakin banyak tantangan baru, atau borok lama yang mulai bermunculan lagi. Semoga Gereja Katolik mampu beradaptasi dengan kemajuan jaman, baik itu internal Gereja Katolik maupun dalam hubungan dengan agama lain di dunia, sesuai ajaran Yesus dan semangat humanisme.

Selamat Natal 2014!

Jokowi and The First Three Moves

I play chess. And in chess, you play with somebody long enough,

you come to realize that their first three moves are usually the same.

Demikian kata Letnan Jenderal Irwin kepada Yates teman main caturnya di sebuah penjara militer. Irwin dipenjara karena mengabaikan perintah Presiden yang akhirnya menyebabkan kematian 8 orang pasukannya pada sebuah misi di Burgundy. Sementara itu Kolonel Winter sang sipir penjara ternyata adalah pengagum sang Jenderal. Namun satu kritik keras dari sang Jenderal terhadap hobi mengumpulkan artefak militer sang sipir membuat kekagumannya pada sang Jenderal perlahan memudar. Di penjara, brutalnya perlakuan sipir kepada tahanannya membuat Irwin kesal dan bangkit menggalang sesama tahanan untuk melakukan perlawanan. Untuk membaca antisipasi sipir terhadap puncak chaos yang ia rencanakan, ia membuat aksi awal kecil-kecilan, dan akhirnya ia dan kelompoknya berani menyimpulkan 3 langkah awal sipir yang bisa mereka lumpuhkan kemudian pada hari H. Itulah kisah dari film yang sudah agak lama “The Last Castle” yang dibintangi oleh Robert Redford. Cukup berkesan bagi saya.

Catur

Catur

Memang benar adanya. Setiap orang punya ciri khas masing-masing. Kebiasaan masing-masing. Pada situasi tertentu kemudian reaksi dari seseorang akan bisa diperkirakan lebih mudah jika sudah diamati terlebih dahulu. Disinilah pentingnya membaca track record.

Itulah kenapa lalu dalam pilpres kali ini saya yakin untuk memilih Jokowi. Apa sih tiga langkah awalnya di Solo? Apa sih tiga langkah awalnya di Jakarta? Ternyata sesudah tiga langkahpun masih memuaskan. Tiga langkah besarnya terutama adalah penataan birokrasi, pembangunan manusia (pendidikan dan kesehatan), lalu perbaikan sistem anggaran/pajak/keuangan. Dan jika kemudian beliau terpilih menjadi Presiden Indonesia saya sangat yakin tiga langkah awal inilah yang akan mulai dijalankan. Menarik untuk melihat nanti bagaimana mengatur Gubernur-Gubernur terutama dalam konteks sistem otonomi daerah sekarang ini, juga tentang kebijakan luar negeri dan pertahanan negara.

Karakternya yang membedakan dengan pesaingnya memang mendukung tiga langkah awal ini, yaitu karakter yang memahami detail dan pekerja lapangan atau kata orang down to earth. Sedikit kritik saya adalah beliau harus mencoba terbang lebih tinggi lagi tapi jangan sampai ketinggian hingga di awang-awang.

*After watching Jerman membantai Portugal 4-0 #JermanJuaraWC2014

Negara Bahan Mentah vs Negara Barang Jadi

Iseng-iseng aja bandingin barang-barang ekspor beberapa negara.
Pertama negara kita Indonesia. Terlihat kita banyak sekali mengekspor bahan mentah hasil tambang dan perkebunan. Negara yang pertumbuhan ekonominya sedang pesat, sepesat korupsinya.
767px-Indonesia_Export_Treemap

Agak mirip polanya dengan Brazil sesama negara berpenduduk padat, dan sesama negara dengan ekonomi yang sedang berkembang pesat.
770px-Brazil_Export_Treemap

Negara tetangga kita Malaysia lebih maju ternyata, banyak barang ekspornya adalah barang jadi.
767px-Malaysia_treemap

Jerman jelas lebih keren lagi ekspornya.
770px-Germany_Product_Export_Treemap

Juga Swiss, negara yang bisa dibilang minim SDA tapi kaya SDM.
767px-Malaysia_treemap

Dari Asia ada Jepang yang menyamainya.
767px-Japan_Product_Export_Treemap

China mungkin akan melebihi Jepang dalam waktu dekat.
767px-China_Export_Treemap

Sementara negara-negara Midle East sangat tipikal dengan pola Arab Saudi berikut, menciptakan generasi kaya raya tapi manja.
767px-Saudi_Arabia_Export_Treemap

Ada yang bilang punya kekayaan alam adalah kutukan. Ada benarnya. Contoh paling nyata adalah negara Timur Tengah, kaya minyak, tapi juga kaya konflik berdarah di tengah pusaran banyak kepentingan. Atau menciptakan generasi manja saking kebanyakan duitnya. Indonesia juga mungkin punya generasi manja kayak begitu saking suburnya tanahnya. Semoga suatu saat nanti kita minimal bisa kayak China, kaya SDA dan SDM nya berkembang pintar menopang visi jangka panjang pemerintahnya. Apalagi kalau rata-rata SDM kita bisa secanggih Swiss atau Jerman, mungkin kita adalah salah satu negara Super Power saat itu benar terjadi.

Legend

Absurd, Nihil dan Cinta

Entah kenapa, saya jadi tertarik untuk terus memikirkan pemikiran Albert Camus. Kalimat singkatnya : ‘Hidup ini begitu absurd sehingga satu-satunya jalan adalah bunuh diri!’. Kalimat yang terlalu ekstrim, karena toh di dunia ini sangat jarang orang yang sampai berkeinginan untuk bunuh diri. Tapi pemikiran Albert Camus itu menarik. Setiap pribadi dalam hidupnya pasti mengalami penderitaan yang mungkin standarnya berbeda-beda tiap orang, padahal di satu sisi sebenarnya setiap pribadi itu juga pasti mengecap kebahagiaan. Setiap orang rela menjalani penderitaan dengan anggapan dia akan meraih kebahagiaan yang sebenarnya dia sendiri tidak bisa memastikannya! Pertanyaan beliau adalah kenapa harus ada penderitaan itu? Pertanyaan ini lalu menjadi semakin bermakna ketika ditujukan pada situasi dunia ini, pada relasi antar orang per orang. Kenapa ada orang yang mau menjadi penyebab penderitaan orang-orang lain? Mengapa hati mereka benar-benar dibutakan demi kebutuhan dirinya akan kenikmatan, kekayaan dan kekuasaan? Lalu dia bertanya lagi, kenapa Tuhan harus membiarkan penderitaan itu ada padahal sebenarnya Dia mampu meniadakannya? Kenapa kotak Pandora harus terbuka? Perlu diketahui bahwa Albert Camus ini adalah seorang atheis.

Pertanyaan tadi wajar dikemukakan, melihat sebenarnya di dunia ini ada banyak juga orang yang rela mengorbankan diri demi kebahagiaan dan mengurangi penderitaan orang lain. Kenapa tidak semua orang diciptakan seperti itu saja. Menjawab pertanyaan Albert Camus tadi biasanya para pemuka agama cepat menjawab ‘Tuhan ingin menguji iman kita’, untuk menghibur para penderita. Saya sendiri tidak puas dengan jawaban seperti ini. Ada juga yang bilang, ‘Tuhan menghukum mereka atas dosa-dosa yang mereka perbuat’, yang juga sering sekali diucapkan ketika ada bencana alam. Yang ini saya tidak setuju. Siapakah kita sehingga mampu menghakimi para obyek penderita. Pertanyaan Albert Camus ini benar-benar merupakan suatu tantangan terutama jika menyangkut relasi antar manusia menurut saya. Selain susah untuk di jawab, di situ ada nada pesimis tentang eksistensi tiap-tiap manusia. Lebih baik jika kita jadikan pertanyaan ini sebagai sebuah pertanyaan retoris sebagai bahan refleksi.

Melihat paradoks ini kita jadi teringat pemikiran aliran Manicheisme yang dahulu pernah berkibar. Alkisah diceritakan ada pertarungan antara kegelapan dan terang, malam dan siang, jahat dan baik. Akhirnya kemenangan berpihak pada kerajaan terang. Kemudian lahirlah manusia sebagai putra-putra kerajaan terang, namun dalam darahnya masih mengalir bibit-bibit kegelapan sisa dari pertempuran tadi. Kisah ini menurut saya adalah sebuah weltanschaung yang kontekstual dimana saja. Kisah ini menggambarkan sifat-sifat dasar setiap manusia. Dia cenderung bertindak di bawah cahaya kerajaan terang, namun sering juga menuruti bibit-bibit kegelapan yang mengalir dalam darahnya. Ngomong-ngomong, jangan pernah mengartikan harafiah kisah tadi.

Pertanyaan Albert Camus secara implisit menginginkan sebuah keadaan ideal, dimana pencarian kebahagiaan manusia itu masuk akal, tanpa terbatasi takdir manusia. Sedangkan Nietszche yang seorang atheis juga dan anti komunis, menginginkan sebuah revolusi moral. Dia mengkritik bahwa moralitas sudah secara salah dibentuk hanya untuk takut pada surga dan neraka, ketakutan yang dibawa oleh agama dan Tuhannya. Menurutnya manusia dengan bawaan bibit-bibit kegelapan telah diatur dengan cara yang keliru. Sehingga menurutnya manusia sudah mencapai kondisi nihilism, sebuah kondisi dimana moralitas yang sebenarnya diinginkan manusia tidak sesuai dengan kenyataan perilaku manusia yang terjadi di dunia, sehingga perlu suatu “pengosongan” moralitas yang siap diisi dengan moralitas baru dibawah bimbingan seorang yang super, Uber Man. Hitler pernah mengatakan bahwa dialah Uber Man itu, pernyataan kosong yang tidak perlu dianggap. Nietszche juga mengatakan bahwa manusia telah dilahirkan dengan kelebihannya masing-masing sehingga ia menolak ide-ide kesetaraan sosialis komunis. Menurut saya kritiknya lebih patut untuk direnungkan daripada dimaki.

Pertanyaan dan kritik tadi memang pantas untuk direnungkan, tidak berusaha dijawab. Tapi kita bisa memperlihatkan bahwa ada fakta optimis eksistensi manusia sebagai mahkluk yang dicintai Sang Pencipta, dan sebagai mahkluk yang diciptakan cenderung untuk mencintai daripada melukai. Sebenarnya kita manusia ini sudah diberikan anugerah oleh Sang Pencipta. Para atheis pun pasti mengakui atau setidaknya merasakan hal ini. Manusia adalah mahkluk terang dengan bibit-bibit kegelapan. Dia dibekali akal tapi juga kehendak bebas. Sehingga dengan akalnya ia mampu berbuat apa saja, dalam gelap atau terang mengikuti kehendak bebasnya. Anugerah lainnya adalah hati nurani dan suara hati. Pasti dalam menuruti kehendak bebasnya manusia selalu diarahkan oleh hati nurani dan suara hati yang antara lain diasah juga oleh agama, etika dan norma. Tetapi menurut saya anugerah terindah adalah cinta. Terlalu banyak optimisme yang muncul jika melihat kekuatan dan semangat yang luar biasa yang bisa dibangkitkan oleh cinta. Orang rela berbuat apa saja dan mengorbankan apa saja termasuk dirinya, demi cinta kepada Tuhan dan sesama, demi cinta kepada keluarga, demi cinta kepada kekasih, tanpa mengharapkan imbalan apapun termasuk surga. Ada kalimat anonim yang cukup berkesan: “Ambillah waktu untuk mencintai dan dicintai karena itu adalah anugerah terbesar dari Tuhan”.

Tapi realitas menyadarkan, dunia masih belum dan mungkin tak akan pernah seindah itu. Percayalah, selamanya kehendak bebas manusia akan tergoda pada kenikmatan, kekayaan dan kekuasaan, untuk melakukan apa saja termasuk melukai orang lain. Sehingga, pertanyaan Albert Camus akan selalu aktual, terutama menyangkut relasi antar manusia. Loh kok jadi pesimis?! Tapi, optimislah.. dengan modal antara lain C.I.N.T.A itu ūüôā

*Tulisan ini hanya mewakili saya, tidak mewakili siapa atau apapun, maaf kalau ada yang tidak berkenan…

Pengaruh Tintin dan Bob Sadino Terhadap Passion Anak-Anak

Ckckckck..judulnya kayak judul skripsi aja..

Menurut saya sih buku bacaan masa kecil dan remaja masuk dalam salah satu faktor yang memberikan influence terhadap passion kita dalam hidup. Saya jadi berpikir begitu dari melihat contohnya saya sendiri.

Misalnya, saya suka jalan-jalan saya yakin terpengaruh bacaan kayak petualangan Tintin, atau buku Karl May tentang Winnetou dan Old Shatterhand, atau buku tentang Lima Sekawan dan beberapa karangan Enid Blyton lainnya, dan lain lain.

Saya juga jadi suka bidang elektro mungkin gara-gara bacaan juga. Misalnya inspirasi dari Jupiter di buku Trio Detektif yang suka membuat dan merakit alat sendiri, yang membuat markas mereka tersembunyi dibalik rongsokan barang-barang bekas lengkap dengan pintu rahasia, kamera tersembunyi dan intercom. Atau gara-gara baca Doraemon jadi terinspirasi untuk membuat mainan sendiri kayak punya Doraemon. Kalau di kisah Smurf saya paling senang si Smurf bagian engineering yang suka bikin alat-alat itu. Tapi saya paling senang cerita tentang anak-anak Klub Ilmuwan Edan atau Mad Scientists’ Club (jadi ingat EDC jaman kuliah) karangan Bertrand R. Brinley, bagaimana mereka membuat alat-alat untuk isengin warga kota mereka, dari rumah berhantu, penampakan UFO, sampai monster di danau, tapi kadang mereka membantu warga juga misalnya pernah membuat alat pembuat hujan buatan gara-gara perkebunan apel kenalan mereka yang kekurangan air.

Nah satu hal menarik yang saya perhatikan, bacaan anak dan remaja itu sedikit sekali dengan tema kewirausahaan atau enterpreneurship. Kebanyakan adalah tentang petualangan, pahlawan atau hero, tentang para penemu, dan tentang raja-raja penakluk atau para jenderal. Sebenarnya ada cerita-cerita tentang penemu yang jadi pengusaha, tapi unsur kewirausahaannya kurang ditekankan. Saya sendiri sampai kuliah sedikit sekali minat di bidang enterpreneurship atau ekonomi. Dulu saya paling sebal lihat kolom ekonomi di harian Kompas. Saya yakin itu salah satunya gara-gara faktor bacaan masa kecil juga. Waktu kerja baru sedikit terbuka setelah ketemu teman-teman baru di Jakarta.

Jadi saya pikir salah satu cara menanamkan enterpreneurship sejak dini itu adalah menggalakkan buku-buku entah fiksi atau non fiksi yang menarik untuk anak-anak dan remaja. Misalnya kisah Bob Sadino dibuatkan komik, atau kisah Warren Buffet, atau Richard Branson dan seterusnya. Kesulitannya memang tema ini kurang menarik untuk anak-anak.

Dengan mempengaruhi otak dan passion sejak anak dan remaja mungkin mindset pada umumnya untuk jadi karyawan atau PNS bisa berkurang dan berganti jadi jiwa-jiwa enterpreneur yang humanis berjiwa petualang misalnya.

Mind Controller a.k.a Media

“..even old punkers Green Day do not want a nation controlled by the media..”

Benar-benar nggak sedap lihat lalu lintas berita “main stream” yang berputar akhir-akhir ini, kebanyakan adalah berita @#$%*, berita buruk Indonesia, sering gak berimbang, pendapat satu arah, entah demi agenda apa. Anda pasti tahu TV-TV swasta Indonesia yang populer sebagai TV berita, obyektivitasnya bagi saya, sudah diragukan melihat pemiliknya yang adalah orang-orang berpolitik. Sekarang ada lagi Gayus Tambunan yang makin memperburuk gambar TV saya yang memang sudah buruk antenanya. Rindu rasanya mendengar berita-berita baik dari Indonesia sebagai penyeimbang seperti link blog ini. Berita baik timnas Indonesia sayangnya cepat pudar setelah ekspose TV yang berlebihan itu.

Kalo gak salah dua tahun lalu majalah TIME menobatkan “Anda” (“You”) sebagai Person of the Year. Alasannya cukup masuk akal. Media internet dalam bentuk milis, forum, blog, mikro-blog seperti Twitter, social media seperti Facebook, mempunyai kapabilitas menggulirkan bola salju ide, mendekati kaki bukit, bisa terbentuk bola salju ide homogen raksasa! Pendapat mainstream bisa cepat sekali menarik pendukung baru lebih banyak lagi. Itulah kekuatan “Anda” antara lain menurut TIME. Internet memungkinkan semua orang berpartisipasi menyebar opini dan berita, opini yang berisi berita dan berita yang ditumpangi opini. Bisa memuji dan memaki.

Saya memperhatikan sungguh malang nasib mereka yang tertimpa kekuatan pendapat arus utama media yang negatif (kalo bener, some of them deserve to it ūüėÄ ). Sebut saja contoh: Roy Suryo, Tifatul Sembiring, Fauzi Bowo, Boediono, Sri Mulyani dan bahkan menjurus ke orang no.1 negeri ini. Efeknya: Roy Suryo bilang foto ini asli! , pendapat orang: ah, sotoy lu!!; Tifatul Sembiring berkicau, Blok pornografi di RIM!, pendapat orang: Gak penting pak, urus masalah lain dulu yang lebih penting!!; Hujan lebat turun di Jakarta, dan pendapat orang: Fokeee!! Kemana aja? Kenapa banjir dan macet??!; Tahun 2008 krisis ekonomi melanda, Boediono dan Sri Mulyono memutuskan: bailout Bank Century! Hey, let those geniuses work! Beberapa tahun kemudian..Hey Neolib agent, why??; mengenai orang no-1 negeri ini, pendapat orang: ahhh..jaga citra.. (Jadi ingat mata kuliah pengolahan citra jaman kuliah dulu..). Sebegitu terstigmanya. Keadaan seperti ini sayangnya mendorong cepat sikap skeptis dan pesimis. Sekali lagi kalo bener mereka tak becus (menurut bukti, induksi, deduksi dan verifikasi), they deserve to it.

Saya suka lirik lagu Rage Againt The Machine (RATM), Bullet in Your Head, konteksnya mirip-mirip:

They load the clip in omnicolor /They pack the 9, they fire it at prime time /Sleeping gas, every home was like Alcatraz /And mutha fuckas lost their minds//
No escape from the mass mind rape /Play it again jack and then rewind the tape /Play it again and again and again /Until ya mind is locked in /Believin’ all the lies that they are tellin’ ya//Ya got a fuckin’ bullet in ya head

Yups, hati-hati dengan liarnya pergerakan opini media-media. Some of them tell truths, some of them tell lies..

One nation controlled by the media