Absurd, Nihil dan Cinta

Entah kenapa, saya jadi tertarik untuk terus memikirkan pemikiran Albert Camus. Kalimat singkatnya : ‘Hidup ini begitu absurd sehingga satu-satunya jalan adalah bunuh diri!’. Kalimat yang terlalu ekstrim, karena toh di dunia ini sangat jarang orang yang sampai berkeinginan untuk bunuh diri. Tapi pemikiran Albert Camus itu menarik. Setiap pribadi dalam hidupnya pasti mengalami penderitaan yang mungkin standarnya berbeda-beda tiap orang, padahal di satu sisi sebenarnya setiap pribadi itu juga pasti mengecap kebahagiaan. Setiap orang rela menjalani penderitaan dengan anggapan dia akan meraih kebahagiaan yang sebenarnya dia sendiri tidak bisa memastikannya! Pertanyaan beliau adalah kenapa harus ada penderitaan itu? Pertanyaan ini lalu menjadi semakin bermakna ketika ditujukan pada situasi dunia ini, pada relasi antar orang per orang. Kenapa ada orang yang mau menjadi penyebab penderitaan orang-orang lain? Mengapa hati mereka benar-benar dibutakan demi kebutuhan dirinya akan kenikmatan, kekayaan dan kekuasaan? Lalu dia bertanya lagi, kenapa Tuhan harus membiarkan penderitaan itu ada padahal sebenarnya Dia mampu meniadakannya? Kenapa kotak Pandora harus terbuka? Perlu diketahui bahwa Albert Camus ini adalah seorang atheis.

Pertanyaan tadi wajar dikemukakan, melihat sebenarnya di dunia ini ada banyak juga orang yang rela mengorbankan diri demi kebahagiaan dan mengurangi penderitaan orang lain. Kenapa tidak semua orang diciptakan seperti itu saja. Menjawab pertanyaan Albert Camus tadi biasanya para pemuka agama cepat menjawab ‘Tuhan ingin menguji iman kita’, untuk menghibur para penderita. Saya sendiri tidak puas dengan jawaban seperti ini. Ada juga yang bilang, ‘Tuhan menghukum mereka atas dosa-dosa yang mereka perbuat’, yang juga sering sekali diucapkan ketika ada bencana alam. Yang ini saya tidak setuju. Siapakah kita sehingga mampu menghakimi para obyek penderita. Pertanyaan Albert Camus ini benar-benar merupakan suatu tantangan terutama jika menyangkut relasi antar manusia menurut saya. Selain susah untuk di jawab, di situ ada nada pesimis tentang eksistensi tiap-tiap manusia. Lebih baik jika kita jadikan pertanyaan ini sebagai sebuah pertanyaan retoris sebagai bahan refleksi.

Melihat paradoks ini kita jadi teringat pemikiran aliran Manicheisme yang dahulu pernah berkibar. Alkisah diceritakan ada pertarungan antara kegelapan dan terang, malam dan siang, jahat dan baik. Akhirnya kemenangan berpihak pada kerajaan terang. Kemudian lahirlah manusia sebagai putra-putra kerajaan terang, namun dalam darahnya masih mengalir bibit-bibit kegelapan sisa dari pertempuran tadi. Kisah ini menurut saya adalah sebuah weltanschaung yang kontekstual dimana saja. Kisah ini menggambarkan sifat-sifat dasar setiap manusia. Dia cenderung bertindak di bawah cahaya kerajaan terang, namun sering juga menuruti bibit-bibit kegelapan yang mengalir dalam darahnya. Ngomong-ngomong, jangan pernah mengartikan harafiah kisah tadi.

Pertanyaan Albert Camus secara implisit menginginkan sebuah keadaan ideal, dimana pencarian kebahagiaan manusia itu masuk akal, tanpa terbatasi takdir manusia. Sedangkan Nietszche yang seorang atheis juga dan anti komunis, menginginkan sebuah revolusi moral. Dia mengkritik bahwa moralitas sudah secara salah dibentuk hanya untuk takut pada surga dan neraka, ketakutan yang dibawa oleh agama dan Tuhannya. Menurutnya manusia dengan bawaan bibit-bibit kegelapan telah diatur dengan cara yang keliru. Sehingga menurutnya manusia sudah mencapai kondisi nihilism, sebuah kondisi dimana moralitas yang sebenarnya diinginkan manusia tidak sesuai dengan kenyataan perilaku manusia yang terjadi di dunia, sehingga perlu suatu “pengosongan” moralitas yang siap diisi dengan moralitas baru dibawah bimbingan seorang yang super, Uber Man. Hitler pernah mengatakan bahwa dialah Uber Man itu, pernyataan kosong yang tidak perlu dianggap. Nietszche juga mengatakan bahwa manusia telah dilahirkan dengan kelebihannya masing-masing sehingga ia menolak ide-ide kesetaraan sosialis komunis. Menurut saya kritiknya lebih patut untuk direnungkan daripada dimaki.

Pertanyaan dan kritik tadi memang pantas untuk direnungkan, tidak berusaha dijawab. Tapi kita bisa memperlihatkan bahwa ada fakta optimis eksistensi manusia sebagai mahkluk yang dicintai Sang Pencipta, dan sebagai mahkluk yang diciptakan cenderung untuk mencintai daripada melukai. Sebenarnya kita manusia ini sudah diberikan anugerah oleh Sang Pencipta. Para atheis pun pasti mengakui atau setidaknya merasakan hal ini. Manusia adalah mahkluk terang dengan bibit-bibit kegelapan. Dia dibekali akal tapi juga kehendak bebas. Sehingga dengan akalnya ia mampu berbuat apa saja, dalam gelap atau terang mengikuti kehendak bebasnya. Anugerah lainnya adalah hati nurani dan suara hati. Pasti dalam menuruti kehendak bebasnya manusia selalu diarahkan oleh hati nurani dan suara hati yang antara lain diasah juga oleh agama, etika dan norma. Tetapi menurut saya anugerah terindah adalah cinta. Terlalu banyak optimisme yang muncul jika melihat kekuatan dan semangat yang luar biasa yang bisa dibangkitkan oleh cinta. Orang rela berbuat apa saja dan mengorbankan apa saja termasuk dirinya, demi cinta kepada Tuhan dan sesama, demi cinta kepada keluarga, demi cinta kepada kekasih, tanpa mengharapkan imbalan apapun termasuk surga. Ada kalimat anonim yang cukup berkesan: “Ambillah waktu untuk mencintai dan dicintai karena itu adalah anugerah terbesar dari Tuhan”.

Tapi realitas menyadarkan, dunia masih belum dan mungkin tak akan pernah seindah itu. Percayalah, selamanya kehendak bebas manusia akan tergoda pada kenikmatan, kekayaan dan kekuasaan, untuk melakukan apa saja termasuk melukai orang lain. Sehingga, pertanyaan Albert Camus akan selalu aktual, terutama menyangkut relasi antar manusia. Loh kok jadi pesimis?! Tapi, optimislah.. dengan modal antara lain C.I.N.T.A itu 🙂

*Tulisan ini hanya mewakili saya, tidak mewakili siapa atau apapun, maaf kalau ada yang tidak berkenan…

Pengaruh Tintin dan Bob Sadino Terhadap Passion Anak-Anak

Ckckckck..judulnya kayak judul skripsi aja..

Menurut saya sih buku bacaan masa kecil dan remaja masuk dalam salah satu faktor yang memberikan influence terhadap passion kita dalam hidup. Saya jadi berpikir begitu dari melihat contohnya saya sendiri.

Misalnya, saya suka jalan-jalan saya yakin terpengaruh bacaan kayak petualangan Tintin, atau buku Karl May tentang Winnetou dan Old Shatterhand, atau buku tentang Lima Sekawan dan beberapa karangan Enid Blyton lainnya, dan lain lain.

Saya juga jadi suka bidang elektro mungkin gara-gara bacaan juga. Misalnya inspirasi dari Jupiter di buku Trio Detektif yang suka membuat dan merakit alat sendiri, yang membuat markas mereka tersembunyi dibalik rongsokan barang-barang bekas lengkap dengan pintu rahasia, kamera tersembunyi dan intercom. Atau gara-gara baca Doraemon jadi terinspirasi untuk membuat mainan sendiri kayak punya Doraemon. Kalau di kisah Smurf saya paling senang si Smurf bagian engineering yang suka bikin alat-alat itu. Tapi saya paling senang cerita tentang anak-anak Klub Ilmuwan Edan atau Mad Scientists’ Club (jadi ingat EDC jaman kuliah) karangan Bertrand R. Brinley, bagaimana mereka membuat alat-alat untuk isengin warga kota mereka, dari rumah berhantu, penampakan UFO, sampai monster di danau, tapi kadang mereka membantu warga juga misalnya pernah membuat alat pembuat hujan buatan gara-gara perkebunan apel kenalan mereka yang kekurangan air.

Nah satu hal menarik yang saya perhatikan, bacaan anak dan remaja itu sedikit sekali dengan tema kewirausahaan atau enterpreneurship. Kebanyakan adalah tentang petualangan, pahlawan atau hero, tentang para penemu, dan tentang raja-raja penakluk atau para jenderal. Sebenarnya ada cerita-cerita tentang penemu yang jadi pengusaha, tapi unsur kewirausahaannya kurang ditekankan. Saya sendiri sampai kuliah sedikit sekali minat di bidang enterpreneurship atau ekonomi. Dulu saya paling sebal lihat kolom ekonomi di harian Kompas. Saya yakin itu salah satunya gara-gara faktor bacaan masa kecil juga. Waktu kerja baru sedikit terbuka setelah ketemu teman-teman baru di Jakarta.

Jadi saya pikir salah satu cara menanamkan enterpreneurship sejak dini itu adalah menggalakkan buku-buku entah fiksi atau non fiksi yang menarik untuk anak-anak dan remaja. Misalnya kisah Bob Sadino dibuatkan komik, atau kisah Warren Buffet, atau Richard Branson dan seterusnya. Kesulitannya memang tema ini kurang menarik untuk anak-anak.

Dengan mempengaruhi otak dan passion sejak anak dan remaja mungkin mindset pada umumnya untuk jadi karyawan atau PNS bisa berkurang dan berganti jadi jiwa-jiwa enterpreneur yang humanis berjiwa petualang misalnya.

Mind Controller a.k.a Media

“..even old punkers Green Day do not want a nation controlled by the media..”

Benar-benar nggak sedap lihat lalu lintas berita “main stream” yang berputar akhir-akhir ini, kebanyakan adalah berita @#$%*, berita buruk Indonesia, sering gak berimbang, pendapat satu arah, entah demi agenda apa. Anda pasti tahu TV-TV swasta Indonesia yang populer sebagai TV berita, obyektivitasnya bagi saya, sudah diragukan melihat pemiliknya yang adalah orang-orang berpolitik. Sekarang ada lagi Gayus Tambunan yang makin memperburuk gambar TV saya yang memang sudah buruk antenanya. Rindu rasanya mendengar berita-berita baik dari Indonesia sebagai penyeimbang seperti link blog ini. Berita baik timnas Indonesia sayangnya cepat pudar setelah ekspose TV yang berlebihan itu.

Kalo gak salah dua tahun lalu majalah TIME menobatkan “Anda” (“You”) sebagai Person of the Year. Alasannya cukup masuk akal. Media internet dalam bentuk milis, forum, blog, mikro-blog seperti Twitter, social media seperti Facebook, mempunyai kapabilitas menggulirkan bola salju ide, mendekati kaki bukit, bisa terbentuk bola salju ide homogen raksasa! Pendapat mainstream bisa cepat sekali menarik pendukung baru lebih banyak lagi. Itulah kekuatan “Anda” antara lain menurut TIME. Internet memungkinkan semua orang berpartisipasi menyebar opini dan berita, opini yang berisi berita dan berita yang ditumpangi opini. Bisa memuji dan memaki.

Saya memperhatikan sungguh malang nasib mereka yang tertimpa kekuatan pendapat arus utama media yang negatif (kalo bener, some of them deserve to it 😀 ). Sebut saja contoh: Roy Suryo, Tifatul Sembiring, Fauzi Bowo, Boediono, Sri Mulyani dan bahkan menjurus ke orang no.1 negeri ini. Efeknya: Roy Suryo bilang foto ini asli! , pendapat orang: ah, sotoy lu!!; Tifatul Sembiring berkicau, Blok pornografi di RIM!, pendapat orang: Gak penting pak, urus masalah lain dulu yang lebih penting!!; Hujan lebat turun di Jakarta, dan pendapat orang: Fokeee!! Kemana aja? Kenapa banjir dan macet??!; Tahun 2008 krisis ekonomi melanda, Boediono dan Sri Mulyono memutuskan: bailout Bank Century! Hey, let those geniuses work! Beberapa tahun kemudian..Hey Neolib agent, why??; mengenai orang no-1 negeri ini, pendapat orang: ahhh..jaga citra.. (Jadi ingat mata kuliah pengolahan citra jaman kuliah dulu..). Sebegitu terstigmanya. Keadaan seperti ini sayangnya mendorong cepat sikap skeptis dan pesimis. Sekali lagi kalo bener mereka tak becus (menurut bukti, induksi, deduksi dan verifikasi), they deserve to it.

Saya suka lirik lagu Rage Againt The Machine (RATM), Bullet in Your Head, konteksnya mirip-mirip:

They load the clip in omnicolor /They pack the 9, they fire it at prime time /Sleeping gas, every home was like Alcatraz /And mutha fuckas lost their minds//
No escape from the mass mind rape /Play it again jack and then rewind the tape /Play it again and again and again /Until ya mind is locked in /Believin’ all the lies that they are tellin’ ya//Ya got a fuckin’ bullet in ya head

Yups, hati-hati dengan liarnya pergerakan opini media-media. Some of them tell truths, some of them tell lies..

One nation controlled by the media

Awal dan Akhir

Pernahkah anda menengadah ke atas langit malam dan terkagum-kagum melihat indahnya jalinan bintang kabut susu? Pernah teleskop Hubble diarahkan pada sekotak kecil area gelap di angkasa dan hasilnya luar biasa, berjuta-juta bintang lagi terekam ada disitu! Pernah sebuah foto dikirim dari Voyager 1 -sebuah pesawat yang sengaja di kirim ke luar tata surya kita- menjadi terkenal dengan nama “pale blue dot” memperlihatkan bumi yang cuma seukuran satu piksel berwarna biru pudar berlatar belakang gelapnya angkasa. Betapa kagumnya melihat alam semesta ini: melihat binatang dan tumbuhan segala macam, melihat gunung menjulang dan kabut tebal menyelimutinya, melihat matahari, bulan dan bintang, melihat planet-planet berbagai ukuran, dan terutama jika melihat salah satu mahkluk istimewanya bernama manusia.
Big Bang
Menurut penelitian, alam semesta ini mengembang seiring waktu. Jika waktu kita putar mundur sampai pada suatu saat dimana waktu sama dengan nol atau pada awal mula waktu yang diprediksi kira-kira 13 milyar tahun yang lalu, maka seluruh alam semesta ini masih terhimpun dalam satu bentuk tunggal, meskipun ini belum bisa dibuktikan. Jika ada yang mengatakan semesta ini abadi tak berawal maka seharusnya langit ini terang benderang di waktu malam karena sinar dari bintang terjauh sudah sampai sedari dulu. (Update: langit gelap di waktu malam bukan justifikasi yg terlalu bagus, karena alam semesta mengembang, ada efek red shift dimana frekuensi cahaya bergeser ke spektrum yang tidak bisa dilihat mata manusia). Jika kita beranggapan alam semesta ini berawal, maka waktu berawal bersamaan dengan ledakan dahsyat (Big Bang) dari bentuk tunggal itu menghasilkan kabut panas yang kemudian luruh berhimpun membentuk bintang-bintang dan planet serta benda-benda angkasa berkumpulan. Satu kumpulan itu dinamakan galaksi. Masih menjadi misteri tentang apa saja yang terbentuk dari ledakan dahsyat itu, antara lain tentang dark energy atau anti matter misalnya dan perkembangannya. Di perbatasan Swiss-Perancis, tepatnya di Large Hadron Collider (LHC), saat ini tengah dilakukan percobaan-percobaan yang diantaranya bertujuan memecahkan misteri-misteri pembentukan alam semesta.
Demokritus pernah dianggap aneh ketika memprediksi bagian terkecil alam semesta itu berupa atom. Kemudian dengan pemodelan yang lebih mutakhir memang terbukti adanya atom pada jaman Dalton disusul oleh Rutherford. Atom paling ringan adalah hidrogen disusul helium dimana hidrogen mempunyai satu elektron sedangkan helium mempunyai dua elektron. Pada awal mula alam semesta, kedua atom inilah yang bisa terbentuk pada suhu yang sangat tinggi, dan reaksi fusi hidrogen-lah yang kemudian menjadi sumber energi dari bintang-bintang yang terbentuk kemudian. Ketika suhu semakin mendingin barulah terbentuk atom-atom lebih berat dengan jumlah elektron lebih banyak seperti oksigen, besi, emas sampai yang paling berat yang bersifat radioaktif seperti uranium. Atom-atom dengan elektron yang tidak stabil kemudian mencari pasangannya sehingga kemudian terbentuklah pasangan-pasangan atom yang lebih stabil, dan salah satu wujudnya yang menjadi inti kehidupan di bumi ini adalah air yang merupakan pasangan hidrogen dan oksigen. Menurut hipotesa yang paling meyakinkan, pada airlah kehidupan berawal dalam bentuk rantai kimia purba.
Evolusi
Dalam perkembangannya terbentuklah sel tunggal yang berintikan mitokondria yang merupakan pembawa sifat. Sel-sel tunggal ini kemudian bergabung, dan membentuk spesialisasi seperti kulit, pernafasan, perlindungan diri, dstnya. Charles Darwin yang menggegerkan dunia keagamaan mengatakan bahwa mahkluk yang bisa beradaptasi dengan lingkungannya sajalah yang bisa bertahan hidup. Penemuan cara beradaptasi yang cepat pada kehidupan purba adalah dengan hubungan seksual, alih-alih dengan cara aseksual dimana keturunan persis sama dengan induknya. Melalui hubungan seksual, keturunan yang membawa sifat “kuat” atau “cerdik” saja yang bisa survive. Protes muncul ketika Darwin mengatakan sosok manusia, yang mungkin adalah karya adiluhung terakhir, berevolusi dari monyet. Jika rentang waktu dari awal semesta hingga saat ini adalah sepanjang dari ujung tangan kiri hingga ujung tangan kanan, maka sejarah manusia kira-kira barulah sepanjang secuil ujung kuku. Jika manusia terus berevolusi diperkirakan kepalanya akan terus membesar, karena manusia bisa bertahan hidup dengan jalan memutar otaknya.

Berputar-putar
Pada atom, elektron memutari proton dan hampir serupa, planet (termasuk bumi) dan satelitnya beredar memutari bintang membentuk suatu sistem tata surya dimana bintang menjadi pusatnya karena memiliki gaya gravitasi paling tinggi sesuai dengan massanya seperti diajarkan Newton. Sistem-sitem tata surya ini beredar mengelilingi pusat galaksi. Galaksi-galaksi beredar memutari pusat alam semesta, Great Attractor (seperti tarian dervish yang berputar-putar pada sumbunya). Bisa kita bayangkan suatu benda bermassa super di pusat galaksi sana, apalagi di pusat alam semesta kita. Pernah di masa lalu Galileo hampir dihukum oleh gereja karena berteori bumi mengelilingi matahari seperti halnya pendapat Copernicus atau Newton, karena gereja mengikuti pendapat Aristoteles yang berkata bumi-lah yang menjadi pusat alam semesta. Paus John Paul II pernah meminta maaf atas sejarah kelam gereja itu.
Black Hole
Profesor Chandra (namanya diabadikan pada sebuah teleskop) seorang profesor asal India pernah memprediksi kemungkinan adanya suatu objek di alam semesta yang kemudian diberi nama lubang hitam. Dinamakan demikian akibat gaya tariknya yang hebat sehingga cahaya yang melintas di dekatnya juga bisa dihisapnya. Dan memang objek ini terbukti ada, salah satu pembuktiannya adalah dengan melihat efek pembelokan cahaya akibat gravitasi lubang hitam yang sangat kuat, yang kemudian menghasilkan efek pembesaran obyek di belakangnya (seperti kaca pembesar).
Proses pembentukan lubang hitam ini mengingatkan proses terbentuknya alam semesta. Sebuah bintang yang kehabisan energi akan mengembang menjadi sebuah bintang merah raksasa, misalkan bintang itu adalah Matahari maka ia akan mengembang hingga melampaui Jupiter. Kemudian ia akan menyusut dan meledak dahsyat menjadi supernova. Lalu ia akan luruh membentuk bintang baru berupa bintang neutron yang ukurannya lebih kecil dari ukuran Matahari semula. Jika ada bintang yang memiliki massa tiga kali atau lebih dari massa matahari, maka sesudah ledakan ini ia akan runtuh tenggelam oleh daya tariknya sendiri membentuk suatu singularity atau kesatuan identik yang dinamakan lubang hitam. Singularity ini sendiri menjadi sebuah paradoks karena disitu hukum-hukum alam tidak berlaku lagi. Penemuan-penemuan terbaru memperlihatkan kemungkinan-kemungkinan bahwa pusat beberapa galaksi adalah lubang hitam bermassa super (super massive blackhole).
Life
Usaha untuk mencari bentuk-bentuk kehidupan lain di alam semesta ini sudah dan terus dilakukan. Antara lain mengirimkan pesawat tak berawak ke luar tata surya membawa pesan-pesan atau simbol-simbol, memancarkan gelombang-gelombang radio ke luar angkasa, dan memonitor gelombang-gelombang radio dari luar angkasa.
Terbentuknya kehidupan di Bumi ini, apalagi sampai adanya mahkluk berakal seperti manusia benar-benar merupakan peristiwa yang muncul dari peluang yang diperhitungkan sangat kecil di alam semesta ini, dengan melihat berbagai faktor seperti jarak dari Matahari, ukuran planet, terbentuknya air dan atmosfer, sampai pada munculnya sosok manusia. Pada ranah Teologi, Thomas Aquinas mengajukan tawaran jawaban antara lain Jalan Besar dan Energi Awal, yaitu rencana dari dan energi yang bersumber dari Sang Ilahi, namun ini pada akhirnya tentu akan kembali pada pengalaman rohani setiap individu. Meski demikian manusia sebagai mahkluk yang selalu ingin tahu dan tidak pernah merasa puas tentu saja akan terus mencari dan mencari apa sebenarnya yang terjadi sebelum awal dan bagaimana nanti akhir dari alam semesta ini.

Happy New Year MMXI 😀

Update picture: 20110110

Update 20110114: Black hole berukuran 6,6 milyar kali matahari!

Update 20110203: Kalo tertarik coba baca buku Rancang Agung (The Grand Design) karangan Stephen Hawking dan Leonard Mlodinow

Global Warming dan lunturnya kearifan lokal

Global Warming

Hasil penelitian mengatakan suhu bumi pernah lebih hangat daripada suhu bumi sekarang ini (yang berarti juga es di puncak Kilimanjaro pernah tipis, lapisan es antartika pernah berkurang, dstnya), yang jika diperhatikan membentuk pengulangan pola tertentu. Menurut catatan ahli di bidangnya, periode suhu bumi yang hangat itu biasanya diakhiri oleh letusan gunung berapi dahsyat. Belerang yang dimuntahkan gunung berapi diyakini menjadi lapisan reflektor di atmosfer yang memantulkan kembali sinar matahari alih-alih memasuki atmosfer bumi sehingga menjadikan bumi lebih dingin. Contoh hubungan letusan gunung berapi dan pengaruhnya terhadap suhu bumi adalah letusan Gunung Tambora yang dahsyat itu.

Namun pengaruh ulah manusia terhadap suhu bumi yang menghangat mungkin baru terjadi kali ini, dimana suhu bumi paling hangat dalam 2000 tahun terakhir ini, yang (katanya) linear dengan pertambahan CO2 di atmosfer akibat industri dan penipisan hutan bumi. Apakah letusan Merapi, Bromo, dan beberapa gunung berapi aktif dunia akhir-akhir ini adalah reaksi bumi untuk mendinginkan suhu atmosfer? Semoga demikian. Yang jelas para pecinta alam berhasil memanfaatkan momentum ini dan fakta keterbatasan ingatan kolektif penduduk bumi, untuk melawan para ekploitir alam yang rakus. Propaganda menyelamatkan bumi atas ancaman global warming bisa dikatakan berhasil. El Nino atau La Nina yang merupakan siklus iklim dikait-kaitkan dengan global warming. Keadaan lingkungan yang buruk dikait-kaitkan dengan global warming. Bencana alam dikait-kaitkan dengan global warming. Berbagai cuaca buruk dikait-kaitkan dengan global warming. Tidak ada orang yang pernah ingat lagi cuaca-cuaca buruk di tahun-tahun yang lampau bukan?

Hal positif yang kemudian timbul adalah kesadaran negara-negara untuk mengurangi emisi CO2 ke udara lewat Protokol Kyoto misalnya. Perhatian yang semakin tinggi terhadap ilegal logging. Orang-orang tidak mau mencetak diatas kertas sembarangan.  Kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan. Pembatasan pemakaian bahan plastik.  Ya, sampai ke hal-hal yang tidak mempunyai relevansi langsung dengan global warming ikut dikait-kaitkan. Tapi tidak apa-apa selama itu adalah hal-hal yang positif. Namun ada juga tindakan ekstrim misalnya keinginan sekelompok orang yang ingin membunuh semua sapi di permukaan bumi karena menyumbang porsi terbesar emisi CO2 katanya.

Di dunia yang semakin moderen dan heterogen ini mau tidak mau memang perlu dihidupkan culture seperti ini meski dibangun atas dasar ketakutan bukan kesadaran, untuk menggantikan kearifan lokal yang semakin lama semakin hilang. (Mirip kayak iklan-iklan yang menakut-nakuti orang supaya tidak berkulit hitam, supaya tidak makan gula asli, supaya tidak makan lemak, dstnya).

Kearifan Lokal

Sejak masuknya alkohol ke Amerika, orang Indian yang perlahan kecanduan perlu duit untuk membeli whiski. Perburuan binatang untuk diperdagangkan tidak memperhatikan lagi asas keberlanjutan (sustainability) yang dulu di pegang teguh sistem kearifan lokal. Demi duit untuk membeli alkohol dan mesiu untuk kembali berburu, kepala suku tidak diacuhkan lagi. Demi kebutuhan dunia moderen yang perlu banyak duit, alih-alih mendengarkan ketua adat, orang-orang di Sumba, di Sumatra, di Kalimantan, di Papua membabat hutan-hutan mereka tanpa memperhatikan lagi asas keberlanjutan, dan semakin parah ketika para pemegang HPH datang. Padahal masih banyak kegunaan hutan lain selain nilai kayunya yang cuma 7% , antara lain biodiversity, penangkap hujan dan penyimpan air, wisata, dstnya. Kedatangan agama-agama dunia bisa kita katakan ikut menggerus kearifan lokal. Kesimpulan ini mau tidak mau kita ambil melihat diskredit atas agama/kepercayaan asli yang merupakan pewaris kearifan lokal. Kemudian tanpa disadari terbentuk dualisme kepemimpinan adat-agama (selain pemerintah-adat) yang membuat pengaruh ketua adat semakin terpinggirkan bahkan hilang terutama apabila ditambah faktor semakin heterogennya masyarakat di suatu daerah. Jadi ada faktor kapitalisme/pasar, dualisme kepemimpinan, dan heterogenitas masyarakat yang ikut memberi andil menggerus kearifan lokal yang harus diakui sangat menghargai mother nature.

Isu perlindungan lingkungan yang digalang pemerintah dan pecinta lingkungan kadang menimbulkan konflik sosial di masyarakat. Misalnya pemberlakuan kawasan hutan lindung, padahal hutan tertentu itu menurut tradisi setempat bisa dikategorikan sebagai hutan berbasis komunitas dimana masyarakat adat sekitar menggantungkan hidup dari hasil hutan yang sustainable. Akhirnya pemuka adat berhadapan dengan kepala desa dan polisi hutan. Petani tradisional kontra pemerintahan, kehutanan, dan pecinta alam. Penghormatan terhadap alam menjadi perdebatan antara pemuka adat dengan pemuka agama, atau antara kepercayaan/agama asli kontra agama.

Kembali lagi, di masyarakat yang semakin moderen dan heterogen ini mau tidak mau memang culture baru harus dibangun atas dasar ketakutan dan punishment, dengan harapan kesadaran individu perlahan berkembang. Tapi penerapannya harus tetap memperhatikan kepentingan masyarakat lokal dan kearifan lokal. Perlu diingat bahwa jauh sebelum Al Gore dan WWF, ada banyak ketua adat yang menjaga tata cara penebangan pohon dan pemanfaatan hasil hutan yang berkelanjutan, ada banyak kepala suku Indian yang mengatur masyarakatnya bagaimana mencintai lingkungan dan tata cara berburu, ada banyak imam-imam kepercayaan/agama asli yang memberi teladan bagaimana menghormati alam. Mari kita belajar nilai-nilai positif dari mereka yang bisa memperkaya prinsip yang kita pegang sekarang ini.

Inception, mimpi, dan realitas

Mata ini mengatakan langit itu jingga, dan telinga ini berbisik bahwa suara burung itu merdu pagi ini. Itulah realitas pagi ini. Tunggu dulu. Belum tentu itu adalah sebuah realita! Masa? Coba tanya orang di sebelah, hufff.. memang benar langit itu jingga dan kicau burung itu merdu kata orang sebelah. Aku masih sadar! Tunggu dulu jangan-jangan orang sebelah ini sama-sama tidak sadar? Ya, selamat datang di gua Plato. Dan kita bersama-sama mungkin sedang menyaksikan proyeksi langit jingga dan kicau burung merdu melalui pengalaman inderawi seragam tanpa tahu sumber cahaya ide yang memberi bayangan proyeksi langit biru dan kicau merdu itu dari balik indera.

Mungkin itulah perasaan istri Cobb dalam film “Inception” garapan sutradara Christopher Nolan. Permainan dalam dunia mimpi berlapis-lapis membuat istri Cobb bingung mana mimpi mana realita, panca indera yang entah itu dalam realita atau mimpi sudah tidak dapat dipercaya lagi. Mencari sumber ide, ia berlari keluar dari goa Plato atau proyeksi ide atau mimpi yang satu, namun bisa jadi ia kini berada di gua Plato lainnya yang lebih besar lagi dengan proyeksi ide yang berbeda, dan begitu seterusnya, sampai putus asa tanpa bisa memastikan apakah itu masih mimpi ataukah reallita. Gila! Lebih gila dari petualangan ide-ide yang berkejaran liar milik para penikmat daun kering canabis dan LSD.

Jangan percaya indera! Mulai dari meragukan segala sesuatu termasuk proyeksi indera, termasuk keberadaan diri. Dengan terus meragu terbukti bahwa kita sedang berpikir tentang keraguan. Jadi saya ada! Saya berpikir maka saya ada, saya nyata! Namun dalam mimpi itu pun, Cobb (Leonardo DiCaprio – seorang konsultan penelusup mimpi untuk menyebar benih ide) masih bisa meragu, atau artinya dalam mimpi pun dia merasa nyata. Mampus! Terjebak dalam labirin mimpi entah berapa lapis.

Inception memang keren, wajib tonton!