Petualangan di Sulawesi Selatan (Foto)

Matahari terbenam di Paotere

Long time before I visit Makassar, Alex Russel Wallace already step his feet in this beautiful part of Sulawesi. In this land he learn especially about endemic animals that were grow into different form as compared to animals from Asia continent and west side of Indonesia (was Hindia Belanda) and he made an imaginary line as a border of it. From this island he then write a letter to Charles Darwin at Galapagos Islands about his discovery here. Both of them later well known as evolution theory initiator. But for sure there are a lot of wonderful things there beside those wonderful endemic animals.

Bayang-bayang senja di pelabuhan Paotere

Pelabuhan Paotere di waktu malam

Suasana Sholat Ied di Masjid Al-Markas

Kota Makassar menjelang malam

Matahari terbenam di perbukitan kapur Maros

Pemandangan di jalan daerah Enrekang

Pelangi di daerah pantai Galesong

Menuju gerbang surgawi – Pantai Galesong

Ukiran peti mati Toraja

Salah satu jenis makam Toraja

Rumah adat Toraja

Kerbau Bonga – Kerbau khas dari Toraja

Salah satu masjid tertua di Sulawesi

Pemandangan ke arah Palopo dari perbukitan

Tanjung Bira, pantai indah berpasir putih agak jauh di sebelah Barat Makassar

Kampung pembuat Phinisi di dekat pantai Tanjung Bira

Tawon Sulawesi (saya menemukannya) – click to see gif

Jakarta, Beberapa Titik

Jika saya berkata “Jakarta”, apa yang pertama terlintas di benak anda? Saya yakin kebanyakan akan segera teringat pada traffic jam dan polusi. Dua hal yang bikin orang malas tinggal di Jakarta, dan sayangnya trendnya menaik. Tapi yang jelas ada juga hal-hal yang menarik di Jakarta seperti beberapa tempatnya.

Laut Kepulauan Seribu

Warna-warni Monas

Tugu Pancoran

Tugu Dirgantara Pancoran menjelang malam

Lembayung Senja di atas Pancoran

Keris di Museum Nasional (Gedung Gajah)

Tanjung Priok

Sore di Tanjung Priok

Malam di museum Fatahillah

Monumen Nasional

Perahu Nelayan di Muara Angke

Hidden Spot on Paradise: Blue Point and Padang-Padang Beach (Bali)

Seandainya ada surga, rumah pohon itulah surga. Demikian Arswendo Atmowiloto di epilog buku anak-anak karangannya (lupa judulnya). Surga itulah perpajakan, mungkin demikian arti surga bagi Gayus Tambunan, sedangkan bagi sebagian traveller, tidak lain tidak bukan Bali adalah surga dan surga itulah Bali.

And now, let me show you hidden paradise on Bali! Maaf berlebihan banget yah hehehe.. Mungkin banyak yang sudah tahu memang, tapi saya yakin banyak juga kok yang belum tahu. Saya juga baru tahu tempat-tempat itu dari teman saya Dian Catur dan Bagus. Kebetulan waktu itu saya transit di Bali dalam perjalanan dari Sumba ke Jakarta, dan masih sempat untuk mengunjungi tempat-tempat itu yang adalah pantai-pantai indah dengan pasir putih berhiaskan tebing-tebing terjal dan curam, plus belum seramai dan sekumuh (maaf!) Kuta.

Blue Point

Tempat ini menarik dengan tebingnya yang terjal dan pantainya yang terselip diantara karang-karang, tapi sepertinya bagian terbaik dari tempat ini sudah menjadi sebuah resort. Tempat ini belum seramai Kuta dan sekitarnya. Untuk mencapai tempat ini kita harus menapaki jalan turun yang panjang.

Padang-Padang

Pantai Padang-Padang unik karena terletak jauh dibawah bukit persis di bawah sebuah jalan raya dan jembatan. Dari atas jembatan kita bisa menikmati indahnya pantai pasir putih dan birunya laut di bawah sana.

Jika anda ke Bali jangan lupa main-main ke sana. Dan tentu saja, masih banyak tempat lain lagi di Bali yang tidak kalah menariknya 😀

Mahameru, Puncak Abadi Para Dewa

Begitu grup musik Dewa 19 menyanjungnya dan demikianlah kesan sakral yang kita dapatkan ketika menginjak puncak Mahameru yang dingin, berpasir, yang secara berkala meletupkan abu tebal menderu ke angkasa. Pengalaman ini sebenarnya sudah lama, tepatnya 17-20 Mei tahun 2007, tetapi dinginnya angin di puncak Semeru yang seolah-olah baru kemarin meniup wajahku (hehehe..lebay..) pantas untuk diceritakan lagi. Apalagi ada orang yang pernah berkomentar di Flickr kalau foto-foto saya dan sebuah buku berjudul 5cm membuatnya kepingin ke Semeru. Disini sekalian saya buat ceritanya.

Perjalanan di bawah bendera WOI Community ini dimulai dari Jakarta dengan kereta menuju Surabaya, lalu dengan travel menuju ke Malang berkumpul dengan teman-teman dari Malang dan sekitarnya. Meeting Point di Malang namanya Tumpang, tepatnya di depan Alfa Mart Tumpang. Dari situ seluruh anggota (belasan orang) diangkut satu Jeep sakti menuju Ranu Pane. Disitu kita beristirahat menyiapkan tenaga untuk besok pagi.

Matahari cerah keesokan paginya membuat kita semakin bersemangat. Ada rombongan pendaki Perancis baru kelihatan disitu pagi-pagi. Selesai sarapan, packing dan berdoa, perjalanan dimulai dengan melewati kebun-kebun masyarakat di situ yang pipinya kemerahan dengan pakaian yang mengingatkan saya pada petani pegunungan Meksiko. (Padahal belum pernah ke Meksiko 😀 ) Ada anjing berbulu tebal melintas kayak serigala putih.

Kemudian kami mulai menaiki bukit dan memasuki jalan setapak hutan, sesekali beristirahat mengambil nafas. Teman-teman yang lebih senior urusan mendaki gunung dan sudah pernah ke Semeru menyemangati: “Sebentar lagi nyampe Ranu Kumbolo kok.” Semangat lagi mendengar nama danau yang legendaris itu. Sebelum sampai Ranu Kumbolo, gerombolan pendaki Perancis yang tadi masih di Ranu Pane melewati kami dengan wajah songong (menurut interpretasi saya lho!), di belakangnya baru menyusul para porter yang memikul carrier mereka, bahkan ada yang memikul tabung gas biru LPG ! (Buset, dilihat aja rasanya sudah beraaatt banget..)

Menjelang tengah hari akhirnya danau Ranu Kumbolo mulai kelihatan dari balik bukit. Keren banget pemandangannya, menghibur kami-kami yang capek. Di pinggir danau kami beristirahat, foto-foto sambil makan siang di bawah langit biru dan awan putih bersih. Sesudah itu perjalanan di lanjutkan lagi melewati bukit-bukit dan padang rumput luas yang keren banget! Selesai melewati padang rumput coklat kami memasuki hutan lagi. Namanya Oro-Oro Ombo. Karena capek, migrain sempat menyerang juga. Sh*t!  Menjelang sore hujan lebat turun. Salah satu peralatan wajib dibawa kalau naik gunung adalah jas hujan. Berbalut jas hujan, kami menerobos hutan dan padang rumput lagi sebelum akhirnya ketika hari mulai gelap kami mencapai Kali Mati, tempat mendirikan tenda di pinggir pepohonan cemara yang banyak tumbuh disitu. Hujan sudah agak reda dan kami mulai mendirikan tenda.

Sesudah itu kami mulai memasak makan malam andalan yang terdiri dari nasi, mie, sarden dan kornet. Makanan terakhir ini yang paling bikin eneg namun anehnya selalu dibawa kalau naik gunung. 🙂 Gerombolan pendaki Perancis itu memang bikin sirik saja. Porter mereka memasak omlet, daging sapi, telur ceplok dengan api biru dari gas tabung biru yang berat itu, plus minuman anggur dan buah-buahan. Para porter yang baik hati itu menawari kami buah-buahan dan omlet yang langsung kami sambut dengan senang hati. Selesai makan, ngopi-ngopi sambil merokok lalu beristirahat untuk pendakian tengah malam nanti.

Sebenarnya kami terhitung terlalu tergesa-gesa. Baru nyampe sore di Kali Mati, malam sudah langsung menuju puncak. Puncak Semeru memang biasanya di daki malam hari. Kami memecah dalam beberapa kelompok. Kelompok sayalah yang paling semangat, jam 11 malam kami sudah menyiapkan senter dan tas berisi makanan buat di jalan. Dan mulailah pendakian menuju puncak Mahameru di tengah malam gelap gulita. Asyiknya perjalanan malam adalah bintang-bintang di atas sana. Sambil beristirahat tinggal menengadah melihat jalinan bintang-bintang membentuk Milky Way. Benar-benar cantik. Jauh dari polusi cahaya.

Pendakian semakin sulit ketika mulai mencapai bagian dimana sudah tidak ada pepohonan lagi, cuma pasir, debu, abu, kerikil dan bebatuan. Di tepi yang curam sesudah Cemara Tunggal itu langkah semakin berat. Angin malam dingin bersiul-siul di balik kupluk. Sering kami berhenti beristirahat dan terus menjaga jarak dengan teman. Ketika beristirahat kadang saya tertidur dan dalam waktu singkat langsung bermimpi sofa hangat dan susu coklat panas di depan tungku. Buset! Saya menampar-nampar pipi takut bermimpi lebih aneh lagi. Diatas sana ada bayangan gelap aneh seperti pohon beringin besar menyeramkan. Perlahan-lahan kami terus merambat naik. Dan sekali lagi kami disusul oleh para pendaki Perancis berwajah songong bersenjatakan tongkat yang dengan santainya melangkah stabil melewati kami yang sedang beristirahat. Sial.

Pemandangan menjelang matahari terbit benar-benar dahsyat. Bayangkan dari atas gunung tertinggi di Pulau Jawa kami memandang sampai jauh awan dan bukit-bukit berselimut kabut tebal jauh di bawah sana dan perlahan sinar keemasan mulai menerangi itu semua. Sementara di atas sana deru letupan Mahameru semakin jelas. Rupanya bayangan seperti beringin menyeramkan malam tadi adalah debu tebal dari kawah Semeru. Sekitar jam 8 pagi baru kami tiba di puncak. Jadi butuh sekitar 9 jam dari Kali Mati untuk mencapai puncak. Di sini baru kelihatan jelas kawah yang memuntahkan abu terus menerus itu. Perjalanan semalaman itu membuat bibir terasa kaku susah digerakkan. Saya langsung mencari teman yang membawa tas makanan, maklum lapar banget. Ya, kesalahan fatal saya waktu itu tidak membawa sebagian makanan itu sendiri entah di tas ataupun di kantong celana. Thanks God malam tadi cuacanya bersahabat.

Diatas kami menikmati pemandangan dari pucuk tertinggi di dataran Jawa dan tentu saja tidak lupa mengambil foto. Disitu juga ada semacam nisan memperingati Soe Hok Gie yang meninggal di Semeru. Sebelum siang kami turun. Katanya menjelang siang angin berubah arah dan arah letusan bisa ke arah kita. Waktu untuk turun mungkin sekitar separuh waktu untuk naik. Tiba di Kali Mati kami makan siang dan beristirahat sebentar lalu kembali ke Ranu Kumbolo. Ada teman yang berencana baru naik puncak malam itu jadi kami meninggalkan mereka di Kali Mati.

Kami tiba di Ranu Kumbolo sore, dan langsung mendirikan tenda dan tertidur pulas. Ranu Kumbolo juga terkenal dingin di malam hari. Bahkan pada waktu tertentu bisa terbentuk butir-butir es di pucuk rerumputan saking dinginnya. Di Ranu Kumbolo kami lebih santai menikmati makan malam sambil ngobrol sebelum tidur di pinggir danau dalam tenda yang hangat.

Pagi itu keesokan harinya, kabut sangat tebal menyelimuti Ranu Kumbolo. Selesai makan siang kami berkemas kembali ke Ranu Pane dan akhirnya kembali ke Surabaya. Seperti biasa, baru turun dari gunung, kami langsung mencari makanan enak berupa bebek goreng sambal pedas. Nikmat banget rasanya setelah sebelumnya makan kornet @$#%! Akhirnya kereta malam membawa kami kembali ke Jakarta. Meninggalkan memori gunung Semeru yang melekat kuat hingga sekarang.

Suatu saat nanti saya akan kembali ke sana jika tidak bersama teman-teman, mungkin bersama anak saya, minimal bisa berkemah di pinggir danau Ranu Kumbolo, dan sambil mendengarkan lagu Bob Marley dari loudspeaker handphone kita berbaring di atas matras melihat bintang-bintang di atas sana. Hahahaha..what a nice dream!


Baduy, the last Utopia

Have you ever thought that Utopia – a dreaming island where private property does not exist, where every body works for every body (sounds like socialism)- really exist in this world ? Maybe little bit like the group of  traveler on “The Beach”. First, I thought that was imposible, and then I believe it do “exist” after my (and friends) journey to Cibeo and met Baduy people.

Cibeo located on Banten, West Java. Some said Baduy word came from the name of the river there, Cibaduy, but another version said they were named by Dutch people after Badui on Egypt – depicted wild and fierce on Karl May books Balkan series -, but they call themselves “Urang Kanekes”. Baduy people divided into two, Inner Baduy and Outer Baduy. Outer Baduy seems like not as fundamentalist as their brother Inner Baduy. They have close relation to people outside their village, they can use modern stuff (e.g. handphone, radio, etc.), they can be a seller which were prohibited for Inner Baduy people.

We start our journey to Inner Baduy village from Ciboleger. This journey was prepared by WABI as our EO. We arrived at night at Ciboleger and then take a rest for the travel in the morning. Our friends on WABI already ask for permission before from Jaro, Baduy leader, thats why in the morning some of Inner Baduy people came to pick us.

Inner Baduy people wear typical dress. White turban, black or white shirt without button, pant which more looks like skirt, bracelet made of rattan and beads, also tool (not weapon) – small machete – on their waist, and bare foot. This description really remind me of Sumbanese people, their dress were similar, but Sumbanese dress is more colorful.

To get to Inner Baduy village which is located on deep forest, we have to pass some hill and valley. It took about 5 hours from Ciboleger to finally arrived to our destination. Scene along the path was awesome, green trees and fresh air, some times we walk along Baduy peoples farm. Some time we pass some rice barn which were built just next to the step path.

Baduy people very wise to working on their land, and they applied strict rules about it to keep sustain mother nature. Their farm land only used for some term of time, and then they have to move to different location. Yeah, it can be easily explained why. They plant rice, corn, cassava, papaya, and some Indonesian conventional farm plant. They gather their harvest and keep the rice on communal barn.

I was confused first why they built all their barns together outside their village? The answer quite simple and make sense : to prevent their food in case their village caught on fire. Stealing was also prohibited thing on Baduy community thats why their foods safe to be placed outside their village. Their barn were perfectly designed against water and rat. They even serve us with rice that had been harvest 40 years ago!

Foreign people (e.g Mongoloid, Caucasian, etc.) not allowed to enter their village and all visitors were prohibited to take picture inside Inner Baduy area. Modern stuff also not allowed there include soap and toothpaste. So when we stay there we take a bath on the river without soap. Yeah, at least it good for their clean river. They also divide the river into some part for  different purpose such as washing, bathing, etc. It just their way to keep their tradition and mother nature from outside interference.

Sunda Wiwitan was Baduy people belief and they believe in prophet Adam. They have sacred place called Hutan Larangan (Forbidden Forest) and only their leader know way to go there. Every problem on their daily life, they will discuss it together on a house which is specially built for this purpose.

Baduy house also remind me of Sumbanese traditional house. It was constructed above stone, chosen wood for the pole, mainly made of bamboo, roof made of grass, and rope made of rattan. Floor about 1 meter above ground and kitchen placed inside the house to keep the temperature warm in the night. Its all looks similar but Sumbanese house is bigger.

One night was enough for us to feel Inner Baduy people life and feel how cold their village in the night! We go back to Ciboleger through different way. Before we leave our host give us cool souvenir : glass made of bamboo.

I still wonder how come in such modern life nowadays, Inner Baduy resist with their culture. I think it maybe supported by their exclusivity, their principle about life, and their rules against outsider interference. Fortunately, government also protect and support Baduy way of life.

Yeah, no body can judge another people life. Baduy people choose their own life. Thomas Moore maybe surprise such kind of his dream really exist in this world. But I believe this community is not alone. There still another Utopia out there.

On our bus go back home to Jakarta, I’m still curious about Baduy ancestor, and I think, I’d see no grave yet there. Where is their cemetery? Ahh, never mind..

Cap Go Meh di Singkawang

Di Indonesia perayaan Imlek termeriah mungkin dirayakan di Singkawang, kota kabupaten kecil di Kallimantan Barat yang dihuni  banyak penduduk berdarah Tionghoa. Tahun 2010 ini saya berkesempatan ke sana untuk menyaksikan perayaan itu. Dari Pontianak, perjalanan kali ini dimulai dari Pantai Pasir Panjang, andalan Singkawang untuk wisata pantai.

Pantai Pasir Panjang

Sebagian sudut Pantai Pasir Panjang Singkawang

Pantai Pasir Panjang merupakan tujuan utama wisata pantai di Singkawang bahkan di Kalimantan Barat. Pantai ini terletak di bagian Barat kota Singkawang, bersebelahan dengan Sinka Zoo dan taman Rindu Alam. Banyak dikunjungi terutama di hari libur dan akhir minggu.

Ayam Panggang

Ayam Panggang buat sarapan

Sesudah jalan-jalan pagi, panggang ayam dulu buat sarapan. Thanks buat Om David dan keluarganya.

Offroad Singkawang

Off Road di Pantai Pasir Panjang

Off Road dalam rangka Cap Go Meh di Pantai Pasir Panjang yang juga diikuti peserta dari Malaysia dan Brunei.

Big Foot

Salah satu peserta off road

Salah satu peserta off road dari Malaysia yang ikut meramaikan acara.

Terjebak

Terjebak di lintasan berbatu

Satu mobil terjebak di lintasan berbatu di pinggir Pantai Pasir Panjang. Lumayan buat berpose sebentar.

Action

Unjuk aksi

Seorang peserta memamerkan keahliannya di pinggir pantai. Penting juga untuk menjatuhkan mental lawan sambil menghibur penonton.

Lampion terbesar

Lampion terbesar se-Indonesia

Malamnya kami mengunjungi lampion terbesar se-Indonesia yang khusus dipersiapkan untuk menyambut Cap Go Meh 2010. Rekor ini tercatat dalam MURI.

Kue Keranjang terbesar

Kue Keranjang terbesar se-Indonesia

Selain lampion, juga ada Kue Keranjang raksasa yang juga tercatat dalam MURI sebagai yang terbesar se-Indonesia.

Permainan

Para pengunjung asik bermain pada salah satu permainan di sekitar lampion raksasa

Beberapa permainan klasik, ramai dikunjungi peminat, ikut memberi warna suasana menyambut Cap Go Meh.

Lampion

Pohon Lampion di pusat kota Singkawang

Instalasi lampion pada sebuah pohon di pusat kota Singkawang ramai didatangi wisatawan dan warga untuk berfoto.

Me and Friend

Berfoto di depan pohon lampion

Bersama teman-teman : Henry, David, Mery dan Eka, di depan pohon lampion.

Arakan

Arak-arakan membawa "Tatung" -yang duduk di atas senjata tajam- keliling kota

Arak-arakan mengelilingi kota Singkawang dengan memikul kursi yang bagian tempat duduk dan sandarannya terbuat dari senjata sejenis golok. Kursi ini kemudian diduduki “Tatung”, seseorang yang kerasukan.  Konon senjata yang digunakan disini merupakan senjata pusaka. Mungkin seperti ritual pembersihan senjata yang juga biasa dilakukan orang Jawa pada tahun baru Jawa.

Klan

Peserta arakan

Beberapa peserta arakan membawa bendera dan spanduk. Mungkin dari salah satu marga di Singkawang. Arakan dimulai dari kuil.

Aksi

Aksi

Salah seorang “Tatung” beraksi di belakang seorang amoy Singkawang, menusuk pipinya dengan besi tajam .

Peserta arakan

Hujan mewarnai arakan

Meski hujan turun membasahi Singkawang, beberapa peserta arakan tetap berjalan menembus hujan. Pakaian yang dipakai orang di sebelah kiri foto ini merupakan pakaian Dayak.

Rasa Ayam

Kepala babi

Kepala babi yang ikut diarak mengelilingi kota Singkawang, melintasi sebuah spanduk Sarimi.

Tatung

Seorang "Tatung"

Seorang “Tatung” dalam keadaan trance beraksi di atas kursi yang terbuat dari senjata tajam. Mengingatkan pada acara serupa di Bali dimana pelaku dalam keadaan trance menusuk tubuh dengan keris.

Keranda

Keranda

Keranda yang ikut diarak mengelilingi kota Singkawang.

Babi merah

Babi-babi diwarnai merah muda

Beberapa ekor babi diwarnai merah muda dan di mulutnya dipasangi jeruk. Entah apa artinya.

Itulah perayaan berkesan Cap Go Meh di kota Singkawang yang seluruhnya berwarna merah kuning waktu itu.

Jika anda jadi kepingin ke Singkawang, berikut ini petanya (mudah-mudahan nanti saya dibayar departemen pariwisata untuk promosi ini 😀 )

*Foto-foto di atas diambil menggunakan Canon EOS 1000D