Jokowi and The First Three Moves

I play chess. And in chess, you play with somebody long enough,

you come to realize that their first three moves are usually the same.

Demikian kata Letnan Jenderal Irwin kepada Yates teman main caturnya di sebuah penjara militer. Irwin dipenjara karena mengabaikan perintah Presiden yang akhirnya menyebabkan kematian 8 orang pasukannya pada sebuah misi di Burgundy. Sementara itu Kolonel Winter sang sipir penjara ternyata adalah pengagum sang Jenderal. Namun satu kritik keras dari sang Jenderal terhadap hobi mengumpulkan artefak militer sang sipir membuat kekagumannya pada sang Jenderal perlahan memudar. Di penjara, brutalnya perlakuan sipir kepada tahanannya membuat Irwin kesal dan bangkit menggalang sesama tahanan untuk melakukan perlawanan. Untuk membaca antisipasi sipir terhadap puncak chaos yang ia rencanakan, ia membuat aksi awal kecil-kecilan, dan akhirnya ia dan kelompoknya berani menyimpulkan 3 langkah awal sipir yang bisa mereka lumpuhkan kemudian pada hari H. Itulah kisah dari film yang sudah agak lama “The Last Castle” yang dibintangi oleh Robert Redford. Cukup berkesan bagi saya.

Catur

Catur

Memang benar adanya. Setiap orang punya ciri khas masing-masing. Kebiasaan masing-masing. Pada situasi tertentu kemudian reaksi dari seseorang akan bisa diperkirakan lebih mudah jika sudah diamati terlebih dahulu. Disinilah pentingnya membaca track record.

Itulah kenapa lalu dalam pilpres kali ini saya yakin untuk memilih Jokowi. Apa sih tiga langkah awalnya di Solo? Apa sih tiga langkah awalnya di Jakarta? Ternyata sesudah tiga langkahpun masih memuaskan. Tiga langkah besarnya terutama adalah penataan birokrasi, pembangunan manusia (pendidikan dan kesehatan), lalu perbaikan sistem anggaran/pajak/keuangan. Dan jika kemudian beliau terpilih menjadi Presiden Indonesia saya sangat yakin tiga langkah awal inilah yang akan mulai dijalankan. Menarik untuk melihat nanti bagaimana mengatur Gubernur-Gubernur terutama dalam konteks sistem otonomi daerah sekarang ini, juga tentang kebijakan luar negeri dan pertahanan negara.

Karakternya yang membedakan dengan pesaingnya memang mendukung tiga langkah awal ini, yaitu karakter yang memahami detail dan pekerja lapangan atau kata orang down to earth. Sedikit kritik saya adalah beliau harus mencoba terbang lebih tinggi lagi tapi jangan sampai ketinggian hingga di awang-awang.

*After watching Jerman membantai Portugal 4-0 #JermanJuaraWC2014

Advertisements

Gravity

Tetang gravitasi. Apakah yang pertama terlintas di benakmu? Buah apel Newton? Ayolah, percaya saya, itu rekaan belaka. Tidak, saya sekarang ingin bicara tentang film berjudul “Gravity”. Sebuah film yang dibintangi Sandra Bullock dan George Cloney.

20131008-004858.jpg
Sang sutradara membuka film dengan suara keras dan tiba-tiba disusul dengan keheningan yang mengagumkan, berlatar belakang birunya planet bumi.

RED 2

Retired and Extremely Dangerous bagian ke 2

red 2

Mereka adalah mantan agen rahasia kenamaan dunia:
Bruce Willis – Frank – CIA
John Malkovich – Marvin – CIA
Helen Mirren – Victoria -MI6
Catherine Zeta-Jones – Katja – KGB

Pemeran pendukung:
Anthony Hopkins – Bailey – Ilmuwan Amerika
Mary-Lousie Parker – Sarah – Pacar (Istri?) Frank
Byung-hun Lee – Han Cho Bai – Ex Tentara China?
etc

>>Kemana aja diriku belom nonton RED (2010)?

Film ini dimulai dengan bocornya sebuah dokumen rahasia di internet melalui Wikileak. Sebuah dokumen tentang sebuah senjata rahasia yang tetap tersembunyi di Moscow sejak era perang dingin. Kontan agen-agen rahasia dunia pada kebakaran jenggot dan perlombaan mendapatkan senjata ini dimulai (termasuk didalamnya: Iran).

Film ini mencampurkan komedi dan action dengan bagusnya. Setiap pemain sukses menyumbang bagian-bagian lucu sepanjang film, terutama karakter konyol Sarah dan Marvin sukses diperankan dengan baik. Tidak kalah kerennya adalah bagian-bagian aksi laganya terutama perkelahian antara Frank dan Han (catatan: kemunculan Han membuat cewek-cewek di bioskop agak histeris, huh, cewek-cewek memang mudah ditipu dengan six pack). Momen epicnya adalah ketika Han ngedrift mobil sport ketika dikejar, dan disampingnya Victoria menembak lewat dua jendela depan, dimana adegan ini diputar dengan slow motion style dan musik rock mengaum! (Intinya di musik rock-nya itu kayaknya).

Sayangnya Catherine Zeta-Jones di film ini terlihat sudah menua, tapi percayalah, film ini menghibur..

Negara Bahan Mentah vs Negara Barang Jadi

Iseng-iseng aja bandingin barang-barang ekspor beberapa negara.
Pertama negara kita Indonesia. Terlihat kita banyak sekali mengekspor bahan mentah hasil tambang dan perkebunan. Negara yang pertumbuhan ekonominya sedang pesat, sepesat korupsinya.
767px-Indonesia_Export_Treemap

Agak mirip polanya dengan Brazil sesama negara berpenduduk padat, dan sesama negara dengan ekonomi yang sedang berkembang pesat.
770px-Brazil_Export_Treemap

Negara tetangga kita Malaysia lebih maju ternyata, banyak barang ekspornya adalah barang jadi.
767px-Malaysia_treemap

Jerman jelas lebih keren lagi ekspornya.
770px-Germany_Product_Export_Treemap

Juga Swiss, negara yang bisa dibilang minim SDA tapi kaya SDM.
767px-Malaysia_treemap

Dari Asia ada Jepang yang menyamainya.
767px-Japan_Product_Export_Treemap

China mungkin akan melebihi Jepang dalam waktu dekat.
767px-China_Export_Treemap

Sementara negara-negara Midle East sangat tipikal dengan pola Arab Saudi berikut, menciptakan generasi kaya raya tapi manja.
767px-Saudi_Arabia_Export_Treemap

Ada yang bilang punya kekayaan alam adalah kutukan. Ada benarnya. Contoh paling nyata adalah negara Timur Tengah, kaya minyak, tapi juga kaya konflik berdarah di tengah pusaran banyak kepentingan. Atau menciptakan generasi manja saking kebanyakan duitnya. Indonesia juga mungkin punya generasi manja kayak begitu saking suburnya tanahnya. Semoga suatu saat nanti kita minimal bisa kayak China, kaya SDA dan SDM nya berkembang pintar menopang visi jangka panjang pemerintahnya. Apalagi kalau rata-rata SDM kita bisa secanggih Swiss atau Jerman, mungkin kita adalah salah satu negara Super Power saat itu benar terjadi.

Legend

Gelombang Elektromagnetik Sekitar Kepala Kita

Cerita dari seorang teman : seorang dokter bilang kalau lagi telepon sebaiknya nempel kuping kiri daripada yang kanan, karena lebih baik bagi otak dalam hal pengaruh radiasi. Saya pernah lihat juga di internet ada yang jualan alat pengurang radiasi handphone sampai sebesar 99%, bentuknya semacam plat stiker. Bentuk ketakutan kita pada radiasi berbahaya sekitar kita.

ponsel1

Sesungguhnya “udara” kita dalam kehidupan sehari-hari penuh dengan gelombang elektromagnetik. Setiap elektron bergetar akan menghasilkan gelombang elektromagnetik yang terpancar. Tapi pada umumnya daya atau power gelombang elektromagnetik alami sangat kecil jika dibandingkan hasil buatan manusia seperti daya dari pemancar radio atau saluran listrik.

Daya atau power rata-rata gelombang elektronik/radio dari pemancar seluler di “udara” yang kita terima termasuk kecil. Minus sekian dBm. Misalkan sinyal yang kita terima -60 dBm, itu sekitar 0.000000001 Watt atau 0.000001 miliWatt. 0 dBm itu sama dengan 1 miliWatt (dBm adalah satuan level daya dengan referensi terhadap 1 miliwatt : P (dBm) = 10 Log P(watt)/10∧-3 watt). Gak tau yah daya yang kita terima dari pemancar radio FM atau televisi (belom pernah ngukur :D) Yang jelas semakin dekat dan semakin tidak ada halangan antara kita dan pemancar gelombang elektromagnetik, maka energi yang kita terima akan semakin besar.

Pemancar gelombang elektromagnetik yang lebih dekat dengan tubuh kita adalah perangkat telekomunikasi wireless sehari-hari seperti handphone, bluetooth, cordless ataupun wifi. Coba kita lihat daya pancarnya :

Technology

Max Power (dBm)

Max Power (W)

Max Power (mW)

GSM 900

33

2

2000

GSM 1800

30

1

1000

UMTS 2100

21

0.126

126

LTE

24

0.25

250

Bluetooth Class 2

4

0.0025

2.5

Wifi

20

0.1

100

List ini memperlihatkan besar daya pancar per teknologi. Saya sendiri pernah nelpon lama -handphone nempel di kuping- itu sampai telinga kayak panas dan kepala pusing. Jadi radiasi dari pemancar radio sekitar kita ini memang berpengaruh. Dalam perhitungan perambatan radio di udara, rugi-rugi yang disebabkan tubuh manusia itu sekitar 2 dB sampai 3 dB. Jadi hampir separuh energi di serap tubuh manusia. Misalkan daya pancar perangkat pemancar radio dekat tubuh kita adalah 1 watt, maka yang diserap sekitar 0,5 watt. (Contohnya handphone yang nempel kuping tadi).

Yang bisa kita lakukan adalah kurangi paparan energi elektromagnetik ini terhadap tubuh kita. Misalkan menjauhkan peralatan radio pada saat aktif digunakan, misalkan dengan memakai bluetooth atau headset atau loudspeaker. Tentang nelpon pake kuping kiri tadi saya pikir kurang bisa dipertanggungjawabkan secara logika.

 

Generasi Emas Indonesia

Sub Judul : Generasi Emas Minang

Banyak tokoh yang saya kagumi di Indonesia ini dan saya katakan disini bahwa secara khusus saya menaruh hormat sungguh pada beberapa diantara tokoh nasional berdarah Minangkabau. Dulu saya tidak terlalu memperhatikan detil ini, baru kemudian saya tersadar bahwa ternyata banyak tokoh Indonesia yang saya kagumi memiliki pola tempat lahir yang sama, yaitu terlahir di Sumatera Barat (Padang, Bukittinggi atau Fort de Kock, Agam dan sekitarnya) atau paling tidak mempunyai darah Minang. Peran para tokoh berdarah Minang itu terhadap arah sejarah Indonesia tak diragukan lagi, terutama di bidang politik dan sastra. Saya jadi ingin tahu: kenapa daerah Sumatera bagian Barat itu cukup produktif melahirkan tokoh-tokoh bangsa (pada waktu-waktu itu)?

Pendidikan

Faktor pertama kemungkinan besar adalah karena pengaruh pendidikan. Uh, betapa terdengar klise-nya kalimat itu. Dahulu di Hindia Belanda janganlah berharap anda bisa bersekolah jikalau darah anda tidak biru atau kulit anda tidak bule. Pribumi tidak bisa berharap banyak, mereka tahu nasibnya pasti akan berujung menjadi seorang kuli atau buruh kasar, atau lebih parah lagi malah disuruh menjadi tenaga kerja paksa bahkan oleh para bupati yang sesama pribumi sekalipun. Pribumi yang bisa bekerja di belakang meja hanyalah kaum priyayi, kaum yang berdarah biru. Hanya kepada merekalah diberikan kesempatan mengikuti sekolah-sekolah kolonial seperti ELS, STOVIA dan MULO bersama-sama dengan anak-anak Eropa. Motif pemerintah kolonial Hindia Belanda adalah mendapatkan tenaga terampil untuk dijadikan pegawai pemerintahan dan perusahaannya, sedangkan motif para orang tua adalah agar anaknya kelak menjadi pegawai dengan status sosial tinggi dan gaji yang bagus pula. (Kata pribumi dipakai disini untuk melihat pembedaan yang diberlakukan pemerintah kolonial waktu itu terhadap orang Eropa, totok, pribumi, Tionghoa, dan suku bangsa lainnya).

Sudah menjadi suatu ketakutan tersendiri bagi para penjajah akan efek pendidikan terhadap kepentingan mereka di daerah koloninya. Pengajaran akan merupakan dinamit bagi sistem kasta yang dipertahankan dengan keras di dalam daerah jajahan, demikian seorang Sosiolog Amerika. Kemauan manusia tidak dapat disetir. Insting mahkluk hidup yang dipaksa terkungkung yaitu pasti akan berusaha membebaskan dirinya, cepat atau lambat. Di antara anak-anak priyayi ini ternyata ada yang berjiwa pemberontak, yang berjiwa rebel, yang berpikiran keluar dari kotak, yang mendapati pikirannya menjadi gelisah. Mereka inilah yang tidak menjadikan pendidikan yang diperolehnya sebagai keuntungannya semata, tapi mereka mau juga berpikir tentang keadaan pribumi lainnya yang diperlakukan dengan tidak semestinya. Padahal jika saja mereka mau menuruti kemauan orang tuanya, bukankah mereka akan menjadi orang kaya, orang terpandang, orang yang disegani? Tidak. Mereka mau berbuat lebih dengan segala keterbatasannya, dan mau mengesampingkan keuntungan materi yang sebenarnya sudah pasti di depan mata, demi idealisme yang mereka yakini.

Kegelisahan yang bertumbuh ini untung sekali mendapatkan momentum yang pas yaitu mulai diberlakukannya politik etis oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, dan peristiwa kemenangan angkatan laut Jepang dalam perang melawan Rusia tahun 1904 – 1905. Kemenangan Jepang ini menyadarkan bangsa Asia bahwa sesungguhnya mereka tidaklah inferior di hadapan Barat. Dalam novel Bumi Manusia yang menggambarkan suasana waktu itu, Pramoedya Ananta Toer menulis bahwa sesudah kemenangan Jepang, seorang Jepang telah dianggap setara dengan seorang Barat. Tapi belum demikian halnya dengan warga negara Asia lainnya. Untuk dianggap setara dengan seorang Barat mereka harus tergabung terlebih dulu dalam sebuah organisasi.

Organisasi

Wahidin Sudirahusodo seorang lulusan STOVIA (sekarang FK UI) berpikir untuk membentuk sebuah organisasi dan bagaimana mengakomodir pemuda-pemuda cerdas pribumi yang tidak mampu bersekolah. Idenya ini (dan ide-ide lainnya) disambut pelajar STOVIA antara lain Sutomo dan Soewardi Soerjaningrat alias Ki Hadjar Dewantara untuk kemudian membentuk Budi Utomo (1908). Di Solo, Sarekat Dagang Islam (1911) dibentuk oleh seorang pengusaha Haji Samanhudi, sebuah organisasi yang awal didirikannya bertujuan mengkonsolidasikan kekuatan pedagang-pedagang Muslim. Sarekat Islam (belakangan ada perubahan nama) berkembang pesat setelah H.O.S Tjokroaminoto (tamatan OSVIA) menjadi ketuanya. Akibat pilihannya ini beliau dikabarkan pernah berselisih dengan mertuanya. Perlu diketahui sosok Tjokroaminoto sering juga dikatakan sebagai seorang guru bangsa. Murid-muridnya yang juga adalah pengontrak di rumahnya antara lain: Soekarno, Kartosuwiryo dan Semaun. Ke Sarekat Islam kemudian bergabunglah Haji Agus Salim (tamatan HBS) dan Abdoel Moeis (tamatan STOVIA). Lalu Indische Partij (1908) dibentuk oleh Douwes Dekker alias Danudirja Setiabudi (seorang peranakan atau totok) bersama Ki Hadjar Dewantara dan Tjipto Mangunkusumo, mereka dikenal sebagai Tiga Serangkai. Douwes Dekker memiliki seorang sepupu bernama Eduard Douwes Dekker alias Multatuli yang lewat bukunya berjudul Max Havelaar turut menciptakan suasana kondusif di Eropa untuk mendorong terlaksananya politik etis oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Mereka yang memiliki turunan darah priyayi inilah para tokoh awal pergerakan nasional yang menjadi sumber motivasi tokoh-tokoh yang muncul selanjutnya (menurut R. Sunu).

Lalu apakah bangsawan Minang waktu itu sadar benar pentingnya pendidikan ataukah demi gengsi semata dan motif ekonomi? Ataukah budaya rantaunya yang secara tidak sadar mengharuskannya lebih unggul di lingkungannya? Yang jelas di Sumatera Barat sekolah mendapatkan hasil yang luar biasa. Dari sana kemudian terkenal antara lain Abdoel Moeis (1883, Agam), Haji Agus Salim (1884, Agam), Marah Rusli (1889, Padang), Datuk Ibrahim gelar Sutan Malaka (1897, Suliki), Muhammad Hatta (1902, Bukittinggi), Mohammad Yamin (1903, Sawah Lunto), Tulis Sutan Sati, Sutan Sjahrir (1909, Padang Panjang), Idrus (1921), Mochtar Lubis (1922, Padang), Haji Ali Akbar Navis (1924, Padang), Asrul Sani (1926, Rao), Taufiq Ismail (1935, Bukittinggi) dan yang terlahir di tanah perantauan seperti Sutan Takdir Alisjahbana (1908, Natal), Sanusi Pane (1905, Muara Sipongi), Armijn Pane (1908, Natal), Syafruddin Prawiranegara (1911) dan Chairil Anwar (1922).

Para tokoh ini saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Bagaimanakah pertukaran ide-ide melewati jarak yang jauh waktu itu? Jawabannya adalah penerbitan, buku, surat kabar, dan para perantau. Di Padang cukup banyak muncul penerbit-penerbit surat kabar. Pelita Kecil (1886) didirikan Mahyudin Datuk Sutan Marajo, ia lalu mendirikan juga Tjahaya Soematra (1894). Soeting Melajoe (1911) yang dikhususkan untuk wanita dibentuk oleh Rohana Kudus (beliau memiliki hubungan darah dengan Sutan Sjahrir dan Chairil Anwar).

Karena terlalu banyak tokoh-tokoh, disini saya hanya mencoba mengorek beberapa keterkaitan yang saling mempengaruhi saja. Misalnya Bung Hatta membaca pemikiran Tjokroaminoto di Utusan Hindia, dan berkenalan dengan tulisan Agus Salim dan Abdul Moeis di koran Neratja pada waktu ia bersekolah ke Batavia dan menjabat sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond, organisasi yang diikutinya semenjak bersekolah di Padang. Di Jakarta ia sering mengunjungi STOVIA dan rumah Haji Agus Salim yang secara tidak resmi telah menjadi pusat kaderisasi para pemuda. Ketika ia melanjutkan kuliah di Belanda ia menjadi ketua Perhimpoenan Indonesia sebuah organisasi politik yang bergeser dari organisasi sosial atas pengaruh Tiga Serangkai yang sedang berada di Belanda karena tidak bisa bergerak bebas di Indonesia. Disitu ia pernah berseteru dengan Semaun dari pihak komunis. Bung Hatta adalah seorang turunan bangsawan, lain halnya dengan Tan Malaka seorang anak pegawai rendahan yang beruntung bisa bersekolah di sekolah Fort de Kock atas dasar rekomendasi karena kepintarannya. Ia juga bisa bersekolah di Belanda dengan bantuan pengumpulan dana oleh para pemuka warga Suliki. Tan Malaka adalah orang pertama yang menulis konsep Republik Indonesia. Muhammad Yamin menjulukinya “Bapak Republik Indonesia”. Ia menulis buku Naar de Republiek Indonesia dan Massa Actie yang menginspirasi tokoh-tokoh pergerakan. Bung Karno membawa buku ini dan katanya suka mencoret-coret hal-hal penting disitu. Dari buku Massa Actie, W.R. Supratman terinspirasi menambahkan kalimat “Indonesia tanah tumpah darahku” ke dalam lagu Indonesia Raya. Tan Malaka seorang komunis (dibenci Semaun disebut pengikut Trotsky) berbeda pandangan dengan Hatta seorang nasionalis yang saleh dan Sjahrir seorang sosial demokrat. Terlihat sekali sejak kedatangan Jepang. Sjahrir tidak mau bekerja sama dengan Jepang, apalagi Tan Malaka, berbeda halnya dengan Soekarno dan Hatta yang menganggap ini peluang Indonesia. Sesudah proklamasi, Belanda menganggap Soekarno dan Hatta serta Sudirman sebagai kolaborator Jepang sehingga lebih menyukai Sjahrir dalam perundingan-perundingan (dan kebetulan hasil-hasil perundingan yang diwakili Sjahrir menguntungkan Belanda). Diplomasi ini tidak disukai Tan Malaka sehingga ia mendekatkan diri pada Sudirman mantan pemimpin PETA bentukan Jepang dan bersama-sama membentuk Persatuan Perjuangan yang menjadi koalisi oposisi yang disegani pemerintah waktu itu.
Tapi yang saya sukai dari tiga tokoh Minang ini yaitu mereka memiliki kesamaan dalam melihat pentingnya kaderisasi dan pendidikan. Bahkan di tempat pembuangan atau pelarian mereka suka membaca, menulis dan menjadi pengajar dan membina kader. Ketika dibuang ke Boven Digul, buku yang dibawa Bung Hatta sebanyak 2 koper! Sedangkan Tan Malaka menulis Madilog yang setebal itu hanya mengandalkan referensi yang tersimpan di otaknya.

Kesimpulan

Dari fakta-fakta diatas, saya coba menarik kesimpulan mengenai tokoh-tokoh dari Minang ini. Budaya rantau mungkin membentuk mereka menjadi lebih ulet karena persaingan. Di perantauan, kedekatan sesama perantau bagus untuk membagi pengalaman terutama melalui organisasi dan senioritas yang membangun kader, dan untungnya tidak eksklusif. Tidak lupa tentu saja faktor pendidikan yang sudah terbukti menjadi akselerator status dan intelegensi.