Jokowi and The First Three Moves

I play chess. And in chess, you play with somebody long enough,

you come to realize that their first three moves are usually the same.

Demikian kata Letnan Jenderal Irwin kepada Yates teman main caturnya di sebuah penjara militer. Irwin dipenjara karena mengabaikan perintah Presiden yang akhirnya menyebabkan kematian 8 orang pasukannya pada sebuah misi di Burgundy. Sementara itu Kolonel Winter sang sipir penjara ternyata adalah pengagum sang Jenderal. Namun satu kritik keras dari sang Jenderal terhadap hobi mengumpulkan artefak militer sang sipir membuat kekagumannya pada sang Jenderal perlahan memudar. Di penjara, brutalnya perlakuan sipir kepada tahanannya membuat Irwin kesal dan bangkit menggalang sesama tahanan untuk melakukan perlawanan. Untuk membaca antisipasi sipir terhadap puncak chaos yang ia rencanakan, ia membuat aksi awal kecil-kecilan, dan akhirnya ia dan kelompoknya berani menyimpulkan 3 langkah awal sipir yang bisa mereka lumpuhkan kemudian pada hari H. Itulah kisah dari film yang sudah agak lama “The Last Castle” yang dibintangi oleh Robert Redford. Cukup berkesan bagi saya.

Catur

Catur

Memang benar adanya. Setiap orang punya ciri khas masing-masing. Kebiasaan masing-masing. Pada situasi tertentu kemudian reaksi dari seseorang akan bisa diperkirakan lebih mudah jika sudah diamati terlebih dahulu. Disinilah pentingnya membaca track record.

Itulah kenapa lalu dalam pilpres kali ini saya yakin untuk memilih Jokowi. Apa sih tiga langkah awalnya di Solo? Apa sih tiga langkah awalnya di Jakarta? Ternyata sesudah tiga langkahpun masih memuaskan. Tiga langkah besarnya terutama adalah penataan birokrasi, pembangunan manusia (pendidikan dan kesehatan), lalu perbaikan sistem anggaran/pajak/keuangan. Dan jika kemudian beliau terpilih menjadi Presiden Indonesia saya sangat yakin tiga langkah awal inilah yang akan mulai dijalankan. Menarik untuk melihat nanti bagaimana mengatur Gubernur-Gubernur terutama dalam konteks sistem otonomi daerah sekarang ini, juga tentang kebijakan luar negeri dan pertahanan negara.

Karakternya yang membedakan dengan pesaingnya memang mendukung tiga langkah awal ini, yaitu karakter yang memahami detail dan pekerja lapangan atau kata orang down to earth. Sedikit kritik saya adalah beliau harus mencoba terbang lebih tinggi lagi tapi jangan sampai ketinggian hingga di awang-awang.

*After watching Jerman membantai Portugal 4-0 #JermanJuaraWC2014

Advertisements

Generasi Emas Indonesia

Sub Judul : Generasi Emas Minang

Banyak tokoh yang saya kagumi di Indonesia ini dan saya katakan disini bahwa secara khusus saya menaruh hormat sungguh pada beberapa diantara tokoh nasional berdarah Minangkabau. Dulu saya tidak terlalu memperhatikan detil ini, baru kemudian saya tersadar bahwa ternyata banyak tokoh Indonesia yang saya kagumi memiliki pola tempat lahir yang sama, yaitu terlahir di Sumatera Barat (Padang, Bukittinggi atau Fort de Kock, Agam dan sekitarnya) atau paling tidak mempunyai darah Minang. Peran para tokoh berdarah Minang itu terhadap arah sejarah Indonesia tak diragukan lagi, terutama di bidang politik dan sastra. Saya jadi ingin tahu: kenapa daerah Sumatera bagian Barat itu cukup produktif melahirkan tokoh-tokoh bangsa (pada waktu-waktu itu)?

Pendidikan

Faktor pertama kemungkinan besar adalah karena pengaruh pendidikan. Uh, betapa terdengar klise-nya kalimat itu. Dahulu di Hindia Belanda janganlah berharap anda bisa bersekolah jikalau darah anda tidak biru atau kulit anda tidak bule. Pribumi tidak bisa berharap banyak, mereka tahu nasibnya pasti akan berujung menjadi seorang kuli atau buruh kasar, atau lebih parah lagi malah disuruh menjadi tenaga kerja paksa bahkan oleh para bupati yang sesama pribumi sekalipun. Pribumi yang bisa bekerja di belakang meja hanyalah kaum priyayi, kaum yang berdarah biru. Hanya kepada merekalah diberikan kesempatan mengikuti sekolah-sekolah kolonial seperti ELS, STOVIA dan MULO bersama-sama dengan anak-anak Eropa. Motif pemerintah kolonial Hindia Belanda adalah mendapatkan tenaga terampil untuk dijadikan pegawai pemerintahan dan perusahaannya, sedangkan motif para orang tua adalah agar anaknya kelak menjadi pegawai dengan status sosial tinggi dan gaji yang bagus pula. (Kata pribumi dipakai disini untuk melihat pembedaan yang diberlakukan pemerintah kolonial waktu itu terhadap orang Eropa, totok, pribumi, Tionghoa, dan suku bangsa lainnya).

Sudah menjadi suatu ketakutan tersendiri bagi para penjajah akan efek pendidikan terhadap kepentingan mereka di daerah koloninya. Pengajaran akan merupakan dinamit bagi sistem kasta yang dipertahankan dengan keras di dalam daerah jajahan, demikian seorang Sosiolog Amerika. Kemauan manusia tidak dapat disetir. Insting mahkluk hidup yang dipaksa terkungkung yaitu pasti akan berusaha membebaskan dirinya, cepat atau lambat. Di antara anak-anak priyayi ini ternyata ada yang berjiwa pemberontak, yang berjiwa rebel, yang berpikiran keluar dari kotak, yang mendapati pikirannya menjadi gelisah. Mereka inilah yang tidak menjadikan pendidikan yang diperolehnya sebagai keuntungannya semata, tapi mereka mau juga berpikir tentang keadaan pribumi lainnya yang diperlakukan dengan tidak semestinya. Padahal jika saja mereka mau menuruti kemauan orang tuanya, bukankah mereka akan menjadi orang kaya, orang terpandang, orang yang disegani? Tidak. Mereka mau berbuat lebih dengan segala keterbatasannya, dan mau mengesampingkan keuntungan materi yang sebenarnya sudah pasti di depan mata, demi idealisme yang mereka yakini.

Kegelisahan yang bertumbuh ini untung sekali mendapatkan momentum yang pas yaitu mulai diberlakukannya politik etis oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, dan peristiwa kemenangan angkatan laut Jepang dalam perang melawan Rusia tahun 1904 – 1905. Kemenangan Jepang ini menyadarkan bangsa Asia bahwa sesungguhnya mereka tidaklah inferior di hadapan Barat. Dalam novel Bumi Manusia yang menggambarkan suasana waktu itu, Pramoedya Ananta Toer menulis bahwa sesudah kemenangan Jepang, seorang Jepang telah dianggap setara dengan seorang Barat. Tapi belum demikian halnya dengan warga negara Asia lainnya. Untuk dianggap setara dengan seorang Barat mereka harus tergabung terlebih dulu dalam sebuah organisasi.

Organisasi

Wahidin Sudirahusodo seorang lulusan STOVIA (sekarang FK UI) berpikir untuk membentuk sebuah organisasi dan bagaimana mengakomodir pemuda-pemuda cerdas pribumi yang tidak mampu bersekolah. Idenya ini (dan ide-ide lainnya) disambut pelajar STOVIA antara lain Sutomo dan Soewardi Soerjaningrat alias Ki Hadjar Dewantara untuk kemudian membentuk Budi Utomo (1908). Di Solo, Sarekat Dagang Islam (1911) dibentuk oleh seorang pengusaha Haji Samanhudi, sebuah organisasi yang awal didirikannya bertujuan mengkonsolidasikan kekuatan pedagang-pedagang Muslim. Sarekat Islam (belakangan ada perubahan nama) berkembang pesat setelah H.O.S Tjokroaminoto (tamatan OSVIA) menjadi ketuanya. Akibat pilihannya ini beliau dikabarkan pernah berselisih dengan mertuanya. Perlu diketahui sosok Tjokroaminoto sering juga dikatakan sebagai seorang guru bangsa. Murid-muridnya yang juga adalah pengontrak di rumahnya antara lain: Soekarno, Kartosuwiryo dan Semaun. Ke Sarekat Islam kemudian bergabunglah Haji Agus Salim (tamatan HBS) dan Abdoel Moeis (tamatan STOVIA). Lalu Indische Partij (1908) dibentuk oleh Douwes Dekker alias Danudirja Setiabudi (seorang peranakan atau totok) bersama Ki Hadjar Dewantara dan Tjipto Mangunkusumo, mereka dikenal sebagai Tiga Serangkai. Douwes Dekker memiliki seorang sepupu bernama Eduard Douwes Dekker alias Multatuli yang lewat bukunya berjudul Max Havelaar turut menciptakan suasana kondusif di Eropa untuk mendorong terlaksananya politik etis oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Mereka yang memiliki turunan darah priyayi inilah para tokoh awal pergerakan nasional yang menjadi sumber motivasi tokoh-tokoh yang muncul selanjutnya (menurut R. Sunu).

Lalu apakah bangsawan Minang waktu itu sadar benar pentingnya pendidikan ataukah demi gengsi semata dan motif ekonomi? Ataukah budaya rantaunya yang secara tidak sadar mengharuskannya lebih unggul di lingkungannya? Yang jelas di Sumatera Barat sekolah mendapatkan hasil yang luar biasa. Dari sana kemudian terkenal antara lain Abdoel Moeis (1883, Agam), Haji Agus Salim (1884, Agam), Marah Rusli (1889, Padang), Datuk Ibrahim gelar Sutan Malaka (1897, Suliki), Muhammad Hatta (1902, Bukittinggi), Mohammad Yamin (1903, Sawah Lunto), Tulis Sutan Sati, Sutan Sjahrir (1909, Padang Panjang), Idrus (1921), Mochtar Lubis (1922, Padang), Haji Ali Akbar Navis (1924, Padang), Asrul Sani (1926, Rao), Taufiq Ismail (1935, Bukittinggi) dan yang terlahir di tanah perantauan seperti Sutan Takdir Alisjahbana (1908, Natal), Sanusi Pane (1905, Muara Sipongi), Armijn Pane (1908, Natal), Syafruddin Prawiranegara (1911) dan Chairil Anwar (1922).

Para tokoh ini saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Bagaimanakah pertukaran ide-ide melewati jarak yang jauh waktu itu? Jawabannya adalah penerbitan, buku, surat kabar, dan para perantau. Di Padang cukup banyak muncul penerbit-penerbit surat kabar. Pelita Kecil (1886) didirikan Mahyudin Datuk Sutan Marajo, ia lalu mendirikan juga Tjahaya Soematra (1894). Soeting Melajoe (1911) yang dikhususkan untuk wanita dibentuk oleh Rohana Kudus (beliau memiliki hubungan darah dengan Sutan Sjahrir dan Chairil Anwar).

Karena terlalu banyak tokoh-tokoh, disini saya hanya mencoba mengorek beberapa keterkaitan yang saling mempengaruhi saja. Misalnya Bung Hatta membaca pemikiran Tjokroaminoto di Utusan Hindia, dan berkenalan dengan tulisan Agus Salim dan Abdul Moeis di koran Neratja pada waktu ia bersekolah ke Batavia dan menjabat sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond, organisasi yang diikutinya semenjak bersekolah di Padang. Di Jakarta ia sering mengunjungi STOVIA dan rumah Haji Agus Salim yang secara tidak resmi telah menjadi pusat kaderisasi para pemuda. Ketika ia melanjutkan kuliah di Belanda ia menjadi ketua Perhimpoenan Indonesia sebuah organisasi politik yang bergeser dari organisasi sosial atas pengaruh Tiga Serangkai yang sedang berada di Belanda karena tidak bisa bergerak bebas di Indonesia. Disitu ia pernah berseteru dengan Semaun dari pihak komunis. Bung Hatta adalah seorang turunan bangsawan, lain halnya dengan Tan Malaka seorang anak pegawai rendahan yang beruntung bisa bersekolah di sekolah Fort de Kock atas dasar rekomendasi karena kepintarannya. Ia juga bisa bersekolah di Belanda dengan bantuan pengumpulan dana oleh para pemuka warga Suliki. Tan Malaka adalah orang pertama yang menulis konsep Republik Indonesia. Muhammad Yamin menjulukinya “Bapak Republik Indonesia”. Ia menulis buku Naar de Republiek Indonesia dan Massa Actie yang menginspirasi tokoh-tokoh pergerakan. Bung Karno membawa buku ini dan katanya suka mencoret-coret hal-hal penting disitu. Dari buku Massa Actie, W.R. Supratman terinspirasi menambahkan kalimat “Indonesia tanah tumpah darahku” ke dalam lagu Indonesia Raya. Tan Malaka seorang komunis (dibenci Semaun disebut pengikut Trotsky) berbeda pandangan dengan Hatta seorang nasionalis yang saleh dan Sjahrir seorang sosial demokrat. Terlihat sekali sejak kedatangan Jepang. Sjahrir tidak mau bekerja sama dengan Jepang, apalagi Tan Malaka, berbeda halnya dengan Soekarno dan Hatta yang menganggap ini peluang Indonesia. Sesudah proklamasi, Belanda menganggap Soekarno dan Hatta serta Sudirman sebagai kolaborator Jepang sehingga lebih menyukai Sjahrir dalam perundingan-perundingan (dan kebetulan hasil-hasil perundingan yang diwakili Sjahrir menguntungkan Belanda). Diplomasi ini tidak disukai Tan Malaka sehingga ia mendekatkan diri pada Sudirman mantan pemimpin PETA bentukan Jepang dan bersama-sama membentuk Persatuan Perjuangan yang menjadi koalisi oposisi yang disegani pemerintah waktu itu.
Tapi yang saya sukai dari tiga tokoh Minang ini yaitu mereka memiliki kesamaan dalam melihat pentingnya kaderisasi dan pendidikan. Bahkan di tempat pembuangan atau pelarian mereka suka membaca, menulis dan menjadi pengajar dan membina kader. Ketika dibuang ke Boven Digul, buku yang dibawa Bung Hatta sebanyak 2 koper! Sedangkan Tan Malaka menulis Madilog yang setebal itu hanya mengandalkan referensi yang tersimpan di otaknya.

Kesimpulan

Dari fakta-fakta diatas, saya coba menarik kesimpulan mengenai tokoh-tokoh dari Minang ini. Budaya rantau mungkin membentuk mereka menjadi lebih ulet karena persaingan. Di perantauan, kedekatan sesama perantau bagus untuk membagi pengalaman terutama melalui organisasi dan senioritas yang membangun kader, dan untungnya tidak eksklusif. Tidak lupa tentu saja faktor pendidikan yang sudah terbukti menjadi akselerator status dan intelegensi.

Absurd, Nihil dan Cinta

Entah kenapa, saya jadi tertarik untuk terus memikirkan pemikiran Albert Camus. Kalimat singkatnya : ‘Hidup ini begitu absurd sehingga satu-satunya jalan adalah bunuh diri!’. Kalimat yang terlalu ekstrim, karena toh di dunia ini sangat jarang orang yang sampai berkeinginan untuk bunuh diri. Tapi pemikiran Albert Camus itu menarik. Setiap pribadi dalam hidupnya pasti mengalami penderitaan yang mungkin standarnya berbeda-beda tiap orang, padahal di satu sisi sebenarnya setiap pribadi itu juga pasti mengecap kebahagiaan. Setiap orang rela menjalani penderitaan dengan anggapan dia akan meraih kebahagiaan yang sebenarnya dia sendiri tidak bisa memastikannya! Pertanyaan beliau adalah kenapa harus ada penderitaan itu? Pertanyaan ini lalu menjadi semakin bermakna ketika ditujukan pada situasi dunia ini, pada relasi antar orang per orang. Kenapa ada orang yang mau menjadi penyebab penderitaan orang-orang lain? Mengapa hati mereka benar-benar dibutakan demi kebutuhan dirinya akan kenikmatan, kekayaan dan kekuasaan? Lalu dia bertanya lagi, kenapa Tuhan harus membiarkan penderitaan itu ada padahal sebenarnya Dia mampu meniadakannya? Kenapa kotak Pandora harus terbuka? Perlu diketahui bahwa Albert Camus ini adalah seorang atheis.

Pertanyaan tadi wajar dikemukakan, melihat sebenarnya di dunia ini ada banyak juga orang yang rela mengorbankan diri demi kebahagiaan dan mengurangi penderitaan orang lain. Kenapa tidak semua orang diciptakan seperti itu saja. Menjawab pertanyaan Albert Camus tadi biasanya para pemuka agama cepat menjawab ‘Tuhan ingin menguji iman kita’, untuk menghibur para penderita. Saya sendiri tidak puas dengan jawaban seperti ini. Ada juga yang bilang, ‘Tuhan menghukum mereka atas dosa-dosa yang mereka perbuat’, yang juga sering sekali diucapkan ketika ada bencana alam. Yang ini saya tidak setuju. Siapakah kita sehingga mampu menghakimi para obyek penderita. Pertanyaan Albert Camus ini benar-benar merupakan suatu tantangan terutama jika menyangkut relasi antar manusia menurut saya. Selain susah untuk di jawab, di situ ada nada pesimis tentang eksistensi tiap-tiap manusia. Lebih baik jika kita jadikan pertanyaan ini sebagai sebuah pertanyaan retoris sebagai bahan refleksi.

Melihat paradoks ini kita jadi teringat pemikiran aliran Manicheisme yang dahulu pernah berkibar. Alkisah diceritakan ada pertarungan antara kegelapan dan terang, malam dan siang, jahat dan baik. Akhirnya kemenangan berpihak pada kerajaan terang. Kemudian lahirlah manusia sebagai putra-putra kerajaan terang, namun dalam darahnya masih mengalir bibit-bibit kegelapan sisa dari pertempuran tadi. Kisah ini menurut saya adalah sebuah weltanschaung yang kontekstual dimana saja. Kisah ini menggambarkan sifat-sifat dasar setiap manusia. Dia cenderung bertindak di bawah cahaya kerajaan terang, namun sering juga menuruti bibit-bibit kegelapan yang mengalir dalam darahnya. Ngomong-ngomong, jangan pernah mengartikan harafiah kisah tadi.

Pertanyaan Albert Camus secara implisit menginginkan sebuah keadaan ideal, dimana pencarian kebahagiaan manusia itu masuk akal, tanpa terbatasi takdir manusia. Sedangkan Nietszche yang seorang atheis juga dan anti komunis, menginginkan sebuah revolusi moral. Dia mengkritik bahwa moralitas sudah secara salah dibentuk hanya untuk takut pada surga dan neraka, ketakutan yang dibawa oleh agama dan Tuhannya. Menurutnya manusia dengan bawaan bibit-bibit kegelapan telah diatur dengan cara yang keliru. Sehingga menurutnya manusia sudah mencapai kondisi nihilism, sebuah kondisi dimana moralitas yang sebenarnya diinginkan manusia tidak sesuai dengan kenyataan perilaku manusia yang terjadi di dunia, sehingga perlu suatu “pengosongan” moralitas yang siap diisi dengan moralitas baru dibawah bimbingan seorang yang super, Uber Man. Hitler pernah mengatakan bahwa dialah Uber Man itu, pernyataan kosong yang tidak perlu dianggap. Nietszche juga mengatakan bahwa manusia telah dilahirkan dengan kelebihannya masing-masing sehingga ia menolak ide-ide kesetaraan sosialis komunis. Menurut saya kritiknya lebih patut untuk direnungkan daripada dimaki.

Pertanyaan dan kritik tadi memang pantas untuk direnungkan, tidak berusaha dijawab. Tapi kita bisa memperlihatkan bahwa ada fakta optimis eksistensi manusia sebagai mahkluk yang dicintai Sang Pencipta, dan sebagai mahkluk yang diciptakan cenderung untuk mencintai daripada melukai. Sebenarnya kita manusia ini sudah diberikan anugerah oleh Sang Pencipta. Para atheis pun pasti mengakui atau setidaknya merasakan hal ini. Manusia adalah mahkluk terang dengan bibit-bibit kegelapan. Dia dibekali akal tapi juga kehendak bebas. Sehingga dengan akalnya ia mampu berbuat apa saja, dalam gelap atau terang mengikuti kehendak bebasnya. Anugerah lainnya adalah hati nurani dan suara hati. Pasti dalam menuruti kehendak bebasnya manusia selalu diarahkan oleh hati nurani dan suara hati yang antara lain diasah juga oleh agama, etika dan norma. Tetapi menurut saya anugerah terindah adalah cinta. Terlalu banyak optimisme yang muncul jika melihat kekuatan dan semangat yang luar biasa yang bisa dibangkitkan oleh cinta. Orang rela berbuat apa saja dan mengorbankan apa saja termasuk dirinya, demi cinta kepada Tuhan dan sesama, demi cinta kepada keluarga, demi cinta kepada kekasih, tanpa mengharapkan imbalan apapun termasuk surga. Ada kalimat anonim yang cukup berkesan: “Ambillah waktu untuk mencintai dan dicintai karena itu adalah anugerah terbesar dari Tuhan”.

Tapi realitas menyadarkan, dunia masih belum dan mungkin tak akan pernah seindah itu. Percayalah, selamanya kehendak bebas manusia akan tergoda pada kenikmatan, kekayaan dan kekuasaan, untuk melakukan apa saja termasuk melukai orang lain. Sehingga, pertanyaan Albert Camus akan selalu aktual, terutama menyangkut relasi antar manusia. Loh kok jadi pesimis?! Tapi, optimislah.. dengan modal antara lain C.I.N.T.A itu 🙂

*Tulisan ini hanya mewakili saya, tidak mewakili siapa atau apapun, maaf kalau ada yang tidak berkenan…

Mengingat-ingat Beberapa Tokoh Flobamora

Terus terang saya paling kagum sama tanah Minangkabau, sepertinya banyak sekali tokoh-tokoh Indonesia yang lahir di sana (belom pernah coba bandingin sama daerah lain sih hehehe..) Sebut saja Tan Malaka, Bung Hatta, Bung Sjahrir, Abdul Moeis, Agus Salim, A.A. Navis, Mohammad Natsir, Mohammad Yamin, Idrus dan mungkin masih banyak lagi.

Nah sekarang saya mau coba lihat tanah Flobamora, yang mana adalah tanah kelahiran saya juga. Siapa sajakah tokoh dari tanah ini?

Prof. Dr. Ir. Herman Johannes

P.K. Ojong di bukunya Perang Eropa bilang: kemenangan tidak hanya ditentukan oleh para prajurit di medan tempur, tapi juga oleh para ilmuwan yang sibuk di laboratorium menciptakan teknologi baru atau mengantisipasi teknologi lawan. Seperti itulah peran yang mungkin dimainkan oleh Herman Johannes dalam perang kemerdekaan dulu. Tahun 1946,  beliau diminta menghadap ke Markas Tertinggi Tentara di Jogjakarta. Ternyata beliau diminta mengembangkan laboratorium untuk tentara Indonesia, terutama karena latar belakangnya sebagai seorang kimiawan dan fisikawan. Kabarnya laboratorium persenjataan yang dibina Herman Johannes ini kemudian menghasilkan bahan-bahan peledak yang dibutuhkan tentara Indonesia untuk merusak jembatan dan infrastruktur lainnya demi menghambat gerak pasukan Belanda waktu itu. Beliau juga ikut bergerilya dalam Serangan Umum 1 Maret di Jogjakarta.

Herman Johannes sebenarnya lebih terkenal sebagai pendidik. Di dunia pendidikan beliau pernah menjabat rektor UGM dari tahun 1961 – 1966. Keprihatinannya pada kondisi sebagian besar masyarakat kecil di Indonesia membuatnya mengembangkan penelitian-penelitian tentang  teknologi yang bisa dipakai masyarakat kecil. Hasilnya antara lain kompor hemat energi dengan briket arang biomassa. Beliau juga pernah meneliti bahan-bahan lainnya yang juga bisa dipakai sebagai bahan bakar.

Tokoh yang lahir di Rote, 28 Mei 1912 ini mendapat anugerah gelar Pahlawan Nasional tahun 2009.

Dr. Wilhelmus Zakaria Johannes

Ya beliau adalah sepupu dari Herman Johannes. Saya cuma tahu kalau beliau adalah seorang dokter dan ahli radiologi pertama di Indonesia. WZ Johannes berperan dalam pengembangan ilmu kedokteran di Indonesia.

Atas perannya itu, WZ Johannes yang kelahiran Rote tahun 1895, mendapat penghargaan Pahlawan Nasional (Siapa lagi pahlawan nasional yang punya hubungan keluarga seperti Johannes bersaudara ini ya?) Namanya juga diabdikan sebagai nama sebuah rumah sakit di Kupang dan nama sebuah kapal perang TNI-AL.

Flobamora

Umbu Landu Paranggi

Nama ini mungkin kurang dikenal. Namun pernah dulu nama ini akrab di telinga warga Jogjakarta terutama sekitar Jalan Malioboro. Konon menurut cerita, beliau sering terlihat berkeliaran di sekitar Jalan Malioboro dengan membawa kantong kresek hitamnya. Beliau adalah seorang motivator “bawah tanah“. Berkat bimbingannya beberapa nama muncul di bidang sastra budaya seperti Emha Ainun Najib atau Linus Suryadi. Tak heran Umbu Landu Paranggi kemudian dijuluki presiden Malioboro. Kemudian mungkin karena ingin membimbing lebih banyak lagi orang yang tertarik sastra, pria kelahiran Sumba Timur, 10 Agustus 1943 ini akhirnya memilih pindah ke Bali menyebarkan virus-virus sastra disana sampai saat ini.

Gerson Poyk

Pertama kenal tokoh ini setelah membaca cerpen-cerpennya yang sangat menarik bagi saya, terutama cara penggambaran alam tanah Timor dan karakter tokoh yang baik. Sayang sekali sepertinya banyak yang belum kenal dengan tokoh ini bahkan di NTT sendiri, padahal banyak karyanya yang sudah diterjemahkan ke bahasa asing. Selain seorang sastrawan, pria kelahiran Rote, 16 Juni 1931 ini adalah juga seorang jurnalis yang telah memotivasi banyak jurnalis muda dari tanah Flobamora.

Dr. Gorys Keraf

Saya hanya tahu kalau pria kelahiran Lembata, 17 November 1936 ini adalah seorang ahli bahasa Indonesia hehehehe..

Siapa lagi ya? Mungkin ada Julius Siyaranamual? Maaf selebihnya saya kurang informasi..